Sepenggal Cerita Pengrajin Alat Musik Bambu di Kota Banjar

Sepenggal Cerita Pengrajin Alat Musik Bambu di Kota Banjar

Paniyo (39), pengrajin alat musik tradisional di Lingkungan Siluman Baru, Kel/Kec. Purwaharja, Kota Banjar, tampak sedang membuat alat musik tradisional Sunda berupa suling. Photo: Hermanto/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Ketersediaan pohon bambu yang banyak dijumpai di wilayah Kota Banjar, secara tidak langsung menjadi salah satu barometer yang tidak dapat dilepaskan dalam sektor usaha kerajinan warga.

Salah satunya adalah Paniyo (39), seorang pengrajin alat musik tradisional dan souvenir dari bahan bambu yang ada di Lingkungan Siluman Baru, RT.33/16, Kelurahan Purwaharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar.

Pria kelahiran Yogyakarta 8 Juni 1977 silam ini, sejak kecil sudah menekuni kerajinan tangan berbahan bambu. Saat ditemui Koran HR di ruamhnya, Selasa (01/03/2016) lalu, Paniyo menuturkan, bahwa dirinya merantau ke Kota Banjar pada tahun 2004, dan merintis membuat kerajinan mulai awal tahun 2006. Kerajinan yang diproduksi meliputi ancak gamelan, suling, serta kerajinan bambu lainnya hingga souvenir.

“Saya mengawalinya pada tahun 2006, dan mulai memproduksi beberapa alat musik tradisional seperti gamelan, suling, dan alat musik tradisional lainnya,” tutur Paniyo.

Ayah dari Fani Fitria Devi (15) dan Ade Bambang (6) ini, sekarang sudah mampu memproduksi banyak alat musik tradisional. Tidak hanya itu, dia juga memproduksi barang-barang lainnya, seperi patung, miniatur-miniatur, serta kerajinan tangan lain yang semuanya berbahan dari bambu.

“Saya pun pernah diajak pihak Disperindagkop Banjar mengikuti pameran di Kalimantan, Bali, dan Batam. Tapi di sana barang kerajinan saya hanya jadi pajangan dan belum terjual,” ujar suami dari Pepi Sudiarti (39).

Namun, semua itu tidak dia jadikan sebuah kegagalan. Bahkan setelah mengikuti pameran itu, kini Paniyo banyak mendapat pesanan dari Jawa Tengah melalui online, seperti Semarang, Cilacap, Banyumas, Batang, Wonosobo, dan sejumlah daerah yang ada di Jawa Tengah lainnya.

“Intinya, hasil kerajinan kami ingin diperhatikan oleh pemerintah, hal ini untuk mengejar pasar dan asal bisa “nyumponan” Jawa Barat. Tapi yang saya heran, justru pesanan malah kebanyakan dari Jawa Tengah,” ucap pria pemilik Sanggar Seni Kembang Gunung ini.

Paniyo memang mengakui, bahwa program Pemkot Banjar sangat bagus. Namun, terkadang tidak tepat sasaran. Karena menurutnya, sanggar-sanggar kecil atau UKM, energinya habis diproduksi dan sisanya untuk menagemen serta pemasaran.

Untuk itu, dirinya berharap Pemerintah Kota Banjar melalui instansi terkaitnya, dapat berperan sebagai marketing yang bisa membantu memasarkan hasil-hasil dari UKM kepada pihak luar.

Pasalnya, hingga saat ini belum ada pola managemen yang bagus, serta kesadaran pemerintah terhadap pola marketing dan pemasaran terhadap UKM. (Hermanto/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles