Tanfidziyah NU & GKI Banjar Soroti Fenomena LGBT

Tanfidziyah NU & GKI Banjar Soroti Fenomena LGBT

Ilustrasi. Foto: Ist/Net

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Fenomena maraknya LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) di Kota Banjar akhir-akhir ini, mendapat sorotan dari organisasi masyarakat (ormas) Islam di Kota Banjar, salah satunya dari Tanfidziyah Nahdlatul Ulama (NU).

Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama (NU) Kota Banjar, KH. Lili Hasanudin, M.Pd., mengatakan, bahwa fenomena LGBT yang marak diperbincangkan merupakan peringatan kepada seluruh manusia. Pasalnya, perilaku menyimpang itu tidak dibenarkan secara agama maupun logika.

“Kami menyatakan LGBT tidak sesuai dengan kodrat manusia, juga merupakan upaya menghentikan keturunan umat manusia. Dalam Al-Qur’an dan Hadist sudah dijelaskan, bahwa menikah harus dengan lawan jenis, yakni laki-laki dengan perempuan,” tandasnya, kepada Koran HR, saat ditemui pekan lalu.

Lili juga menegaskan, NU dan Islam tidak bisa dipisahkan. Dia meyakini bahwa seluruh kyai di daerah maupun di perkotaan  idak sepakat dengan LGBT. Kalau pun ada yang menyetujui, berarti sama sakitnya.

Sedangkan, terkait merambahnya LGBT hingga ke kalangan siswa SMP maupun SMA, Lili berharap semua pengajar, organisasi Islam serta pemerintah,  harus bergerak berupaya menghentikan.

“Umat Islam harus tegas. Kalau bisa diantisipasi masuknya ke Kota Banjar. Kyai harus bergerak dengan berda’wah kepada masyarakat,” tegas Lili.

Pendapat serupa diungkapkan Pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kota Banjar, Suryaman. Dia menegaskan, ajaran Kristus menyatakan, makna pernikahan terdiri dari hubungan kasih antara laki-laki dan wanita yang terjalin dalam pernikahan Monogamis, dengan perjanjian seumur hidup serta tidak dapat dipisahkan maupun diceraikan.

“Yesus berkata dalam Injil Matius 19:4-6, tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan. Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia,” terangnya.

Suryaman juga mengatakan, GKI adalah jemaat yang hanya mengakui keabsahan dan legalitas lembaga pernikahan, serta hubungan kasih sebagai suami-istri antara seorang pria dan seorang wanita.

Artinya, GKI menolak secara tegas hubungan kasih dengan orientasi seksual LGBT yang diwujudkan dalam lembaga pernikahan gerejawi. Namun, pihaknya merasa prihatin terhadap orientasi seksual LGBT yang kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif, dihakimi, dan mengalami kekerasan. Padahal, mereka adalah manusia-manusia yang dikasihi Allah.

“Dalam konteks ini, GKI menegaskan agar setiap umat atau anggota jemaat sungguh-sungguh memperlakukan orang-orang dengan orientasi LGBT dengan sikap hormat, tidak menghakimi, tidak menyudutkan, dan tidak melecehkan,” pungkasnya. (Muhafid/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles