Tradisi Ruwatan di Cikalong Pangandaran Ini Masih Dilestarikan

Tradisi Ruwatan di Cikalong Pangandaran Ini Masih Dilestarikan

Dua jawara tengah berduel mengadu jurus silat andalannya, dalam acara ruwatan Keramat Sembah yang digelar di Dusun Citembong, Desa Cikalong, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran. Photo: Entang SR/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Acara ruwatan Keramat Sembah yang digelar di Dusun Citembong, Desa Cikalong, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, belum lama ini, diisi sejumlah kesenian tradisional.

Dalam acara puncak ruwatan tersebut diawali iring-iringan jampana hasil bumi, kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian jaipong, pencak silat dan seni ibing, serta kesenian tradisional lainnya.

Camat Sidamulih, Erik, mengatakan, ruwatan lembur Desa Cikalong merupakan bentuk rasa syukur warga desa atas limpahan kenikmatan yang dirasakan selama ini. Dirinya pun mengajak seluruh warga untuk bersama-sama membangun wilayahnya.

“Sebagai desa di pintu gerbang wisata desa, kami berharap warga masyarakat semakin sejahtera dan lingkungan sosial tetap terjaga. Saya juga berharap, tradisi ruwatan ini bisa dijadikan salah satu daya tarik bagi wisatawan, baik dalam maupun luar negeri,” kata Erik.

Pantauan HR di lokasi ruwatan, tampak ribuan masyarakat yang ada di Desa Cikalong tumpah ruah berbaur dengan ratusan pedagang, menyaksikan tahap demi tahap prosesi ruwatan sampai dengan acara hiburan berupa penampilan seni tradisional.

Dalam seni tradisional pencak silat menampilkan cerita dua pendekar yang berduel mengadu jurus silat andalannya. Bahkan tak tanggung-tangung kedua jawara tersebut menggunakan senjata tajam seperti golok dan tumbak.

Disaksikan ribuan warga serta tamu undangan dari jajaran Muspika dan perwakilan SKPD se-Kabupaten Pangandaran, pendekar berusia dewasa dan belasan tahun itu berduel saling manjatuhkan hingga salah satu diantaranya terkapar.

Usai berduel, tiba-tiba datang sesosok tokoh berjanggut putih memakai pakaian pangsi dan iket kepala khas Sunda, menghampiri keduanya. Tokoh tersebut menggambarkan sebagai sesepuh desa yang mendamaikan keduanya.

“Keun bae nu di luhur parasea, urang mah nu ngarora kudu akur (biarkan yang di atas berantem, anak muda harus damai-Red),” ucap sesepuh desa itu, sambil mengajak kedua jawara tersebut bersalaman. (Ntang/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles