Bangunan Saluran Air Bersih di Citangkolo Banjar Mangkrak

20/08/2016 0 Comments
Bangunan Saluran Air Bersih di Citangkolo Banjar Mangkrak

Yayan (34), salah seorang warga RT. 3, RW. 1, Dusun Citangkolo, Desa Kujangsari, menunjukkan bangunan pompa saluran air bersih yang tidak dapat digunakan warga sejak satu tahun. Photo: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Warga Dusun Citangkolo, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, mengeluhkan fasilitas pompa saluran air bersih yang selama ini tidak bisa dinikmati sejak 1 tahun lalu. Keluhan mereka bukan tanpa alasan, karena sejak awal pembangunan warga berharap fasilitas tersebut dapat memenuhi kebutuhan air bersih.

Seperti diungkapkan Yayan (34), salah seorang warga RT. 3, RW. 1, Dusun Citangkolo, Desa Kujangsari. Dia menyayangkan proyek pembangunan saluran air bersih yang berada di sekitar rumahnya mangkrak. Pasalnya, dia hanya menikmati satu kali setelah pembangunan selesai dikerjakan.

“Warga lain juga sama seperti saya mengeluhkan pembangunan yang tidak ada gunanya,” ucapnya, kepada Koran HR, Rabu (17/08/2016) lalu.

Selain itu, Yayan tidak pernah melihat petugas teknis untuk keberlangsungan pompa saluran air bersih tersebut. Kendati pernah, hanya 1 kali sesudah dibangun, dan setelah itu warga kebingungan karena mesinnya tidak berfungsi.

“Kalau dibiarkan begitu terus, tidak usah dibangun saja. Kalau begini, warga jadi diberi harapan palsu,” ujar Yayan.

Senada diungkapkan Kepala Dusun Citangkolo, Slamet Mastur, bahwa pembuatan saluran air bersih yang dibangun pemerintah tidak berfungsi secara maksimal. Sejak selesai pembangunan, hanya beberapa hari saja warga bisa menikmatinya.

“Warga yang mendapatkan saluran air bersih sebanyak 35 kepala keluarga, terbagi dua RT, yakni RT. 3, RW. 1 dan RT. 1, RW 2. Dulu dibangun oleh pemborong dalam waktu 1 bulan. Tapi begini keadaannya, tidak bisa digunakan, dan tidak bisa dinikmati,” tuturnya, saat ditemui HR di rumahnya.

Slamet juga menyebutkan, bahwa anggaran pembuatan bangunan saluran air bersih itu mencapai Rp.300 juta dari pemerintah provinsi, dan mengalirkan air bersih melalui kran ke 35 rumah. Walaupun pemasangannya gratis, namun warga tetap berharap bangunan tersebut bisa digunakan.

Dia menambahkan, untuk pengelolaan pompa air, pihak pemborong pernah mengajarkan kepada warga agar pengelolaannya bisa dilakukan secara mandiri oleh warga sekitar.

Akan tetapi, lanjut Slamet, karena hanya diberikan pengarahan saja, warga pun akhirnya kerepotan lantaran alat yang digunakan untuk mengatur air yakni berupa alat kendali, tidak diberikan oleh pemegang proyek.

“Pernah anak saya diberi arahan teknik mengelola pompa air. Tapi karena tidak lengkap, jadi takut ada kerusakan dan ujung-ujungnya nanti disalahkan. Sebenarnya mau dimusyawarahkan dengan 35 kepala keluarga penerima manfaat. Tetapi malah pompanya tidak berfungsi,” tuturnya.

Menurut Slamet, awalnya warga sekitar memang tidak begitu membutuhkan fasilitas saluran air bersih itu, sebab mereka sudah menggunakan air sumur resapan yang dimiliki masing-masing rumah.

Namun, karena fasilitasnya sudah dibangun, tapi tidak berfungsi. Selain itu, pada saat air mengalir, warga juga banyak yang mengeluh lantaran airnya berasa asin. (Muhafid/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!