Biar Tak Bingung Usai Lulus Kuliah, Mahasiswa di Banjar Ini Tekuni Ternak Entok

08/08/2016 0 Comments
Biar Tak Bingung Usai Lulus Kuliah, Mahasiswa di Banjar Ini Tekuni Ternak Entok

Ternak Entok yang ditekuni salah seorang aktivis HMI Kota Banjar. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Setiap tahun, angka kelulusan perguruan tinggi di Indonesia selalu diikuti dengan bertambahnya angka pengangguran. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Agustus 2015 terdapat 7,56 juta orang menganggur, atau bertambah 320 ribu orang dari tahun sebelumnya, yakni sebanyak 7,24 juta orang.

Dari jumlah tersebut, tercatat pengangguran dari kalangan sarjana berjumlah 6,40 persen, sedangkan dari kalangan diploma sebanyak 7,54 persen. Peningkatan jumlah tersebut tak lepas dari paradigma berpikir generasi muda yang bercita-cita bekerja di sektor formal dan menjadi pegawai. Di sisi lain, lapangan pekerjaan yang minim dan terbatas untuk menampung para lulusan sarjana.

Namun, menurut Ramdhani, aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang persiapan Kota Banjar, justru banyaknya pengangguran yang bertitel sarjana menjadi tantangan tersendiri untuk membuat terobosan baru dalam bidang wirausaha.

“Selain banyaknya mahasiswa yang suka hura-hura, saya melihat itu akan berdampak buruk di kemudian harinya. Makanya saya bersama teman-teman mencoba belajar bisnis kecil-kecilan,” tuturnya, saat ditemui Koran HR di Sekretariat HMI, di Dusun Sukamaju, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Selasa (02/08/2016) lalu.

Sebelum mendapatkan gelar sarjana, lanjut Ramdhani, terlebih dahulu perlu belajar dalam bidang usaha, termasuk ternak entok yang tengah dilakoninya sejak empat bulan lalu. Hal itu dilakukan karena melihat potensi harga daging entok cukup tinggi.

Berbekal modal dari iuran bersama serta tambahan dari para senior di HMI, awalnya Ramdani bersama teman-temannya menternak 53 ekor entok yang berumur 1-2 bulan. Memang tak mudah, butuh kesabaran ekstra untuk membesarkannya.

Menurutnya, dalam berternak entok hanya perlu rajin memberi pakan, yakni 3 kali sehari. Sedangkan, bahan pakan berupa limbah sayuran kol didapatnya dari pasar dan juga bekatul.

“Memang perlu hitungan yang matang dalam usaha. Tapi kami lebih melihat sisi edukasi dari bisnis ini. Jadi, berapapun untung ruginya, kita jadikan sebagai pelajaran penting,” ujar Ramdhani.

Sementara itu, Mahmud, aktifis HMI lainnya, menambahkan, bisnis yang sedang ditekuninya itu membutuhkan waktu 6 bulan untuk bisa mencapai masa jual entok. Harganya mulai Rp.100 ribu hingga Rp.150 ribu per ekornya.

“Untuk makan 53 ekor entok, kita butuh 1 kilogram bekatul dan setengah karung limbah sayuran kol. Jadi kami giliran merawatnya denga lima teman,” tuturnya.

Dari bisnis yang tengah dijalani, Mahmud berencana akan menambah lebih banyak lagi. Sedangkan untuk sampingannya akan menanam jahe. Untuk kegiatan kuliah, dia tetap jalani sesuai jadwal yang ada.

“Semoga rencana membuat kuliner dari bahan daging entok bisa terwujud. Paling penting, setelah kita selesai kuliah tidak bingung lagi soal pekerjaan. Masalah pengangguran tentu itu hal yang memprihatinkan dan perlu dikaji lagi agar bisa menurun,” kata Mahmud. (Muhafid/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!