(Cerita di Situs Karangkamulyan Ciamis) Mitos Hewan Mati dan Foto Selfi

23/08/2016 2 Comments
(Cerita di Situs Karangkamulyan Ciamis) Mitos Hewan Mati dan Foto Selfi

Salah satu situs peninggalan sejarah di Cagar Budaya Ciungwanara Karangkamulyan, di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Foto: Istimewa/net

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Situs Cagar Budaya Ciungwanara Karangkamulyan, di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, tampaknya menyimpan sejumlah cerita mistis yang hingga kini masih dipercayai oleh sebagian orang. Di area situs sejarah yang berkaitan dengan perkembangan Kerajaan Galuh ini konon sering dijumpai kejadian-kejadian aneh yang di luar nalar manusia.

Di situs ini pun diyakini terdapat pantrangan, salah satunya hewan peliharaan konon kerap mati apabila dibawa ke tempat tersebut. Makanya, tak heran orang-orang yang masih meyakini mitos tersebut enggan membawa hewan peliharannya ke area situs Karangkamulyan.

Saat Koran HR berbincang dengan Petugas Analisis Evakuasi Penanganan Konflik Satwa Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Ciamis, Toto Kuswanto, belum lama ini, diperoleh keterangan terkait mitos tersebut.

Dia mengatakan kelompok sirkus yang membawa hewan peliharaannya mengaku enggan melewati situs Karangkamulyan apabila mereka hendak melakukan perjalanan ke arah Banjar atau Cilacap.

“Mereka menyakini kalau membawa hewan peliharaan lewat ke situs Karangkamulyan katanya selalu apes. Kalau tidak mati, hewan yang dibawanya tidak akan mahir lagi dalam bermain sirkus,” katanya.

Toto menambahkan, kelompok sirkus yang membawa hewan yang dilindungi Negara harus menempuh ijin ke BKSDA. Ketika kelompok tersebut mendatangi kantor BKSDA Ciamis, untuk mendapatkan ijin, kata dia, salah satu rombongannya pernah bercerita terkait pantrangan membawa hewan peliharaan ke situs Karangkamulyan.

“Setiap kelompok sirkus hewan-hewan buas, pasti memiliki tim paranormal. Nah, paranormalnya ini yang menganjurkan agar tidak melewati situs Karangkamulyan. Karena menurut mereka sebelumnya pernah ada gajah yang dibawa kelompok sirkus mendadak mati setelah melewati situs Karangkamulyan,” terangnya.

Menurut Toto, tidak hanya satu kelompok sirkus yang menyakini mitos tersebut, tetapi hampir seluruhnya yang pernah datang ke Kantor BKSDA memiliki keyakinan serupa. “Kalau mau pentas di Cilacap atau Banjar, kelompok sirkus ini dari kantor BKSDA Ciamis rela memutar melewati jalan Rancah. Hal itu untuk menghindari melewati daerah situs Karangkamulyan,” katanya.

Dihubungi terpisah, Juru Kunci Situs Ciungwanara Karangkamulyan, Perdi, membenarkan adanya mitos tersebut. Namun, dia mengaku tidak mengetahui penyebab mitos itu bisa berkembang di masyarakat.

“Hanya, memang kata orang tua dulu sering cerita, kalau membawa Ayam Adu atau burung berkicau ke situs Karangkamulyan, besoknya hewan peliharaan itu mati atau sakit. Ada juga yang meyakini kalau Ayam Adu dibawa ke sini besoknya tidak bagus lagi beradunya,”katanya, kepada Koran HR, pekan lalu.

Namun demikian, lanjut Perdi, mitos itu sempat dipatahkan ketika di area Situs Ciungwanara Karangkamulyan sering digelar perlombaan burung berkicau. “Buktinya, tidak ada satupun pemilik burung berkicau yang mengeluh setelah ikut lomba di sini. Artinya, mitos itu kadang benar atau kadang juga tidak. Bagaimana kita dalam meyakininya,” katanya.

Perdi mengatakan sebenarnya tidak harus berlebihan dalam meyakini cerita-cerita mitos tentang situs Karangkamulyan. Karena, menurutnya, selagi orang tidak merusak alam yang berada di area situs, diyakini tidak akan mendapat pengalaman buruk. “Asal niat kita baik, niscaya tidak akan terjadi apa-apa di tempat ini,” imbuhnya.

Menurut Perdi, kejadian-kejadian aneh yang terjadi di area situs Karangkamulyan, biasanya ketika ada orang yang memiliki niat merusak alam di sekitar situs, berkata sompral atau memiliki niat tidak baik lainnya.

“Dulu ada cerita di kampung ini, konon ada seseorang yang kerap menebang pohon-pohon besar di sekitar situs. Akibatnya, keturunan orang itu sampai sekarang mendapat penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Sampai-sampai penyakit itu turun temurun ke anak cucunya. Dan itu bisa dibuktikan, karena keturunannya masih ada saat ini,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, pernah juga ada peziarah yang berkata sompral ketika berada di area situs. Saat itu, kata dia, peziarah itu bersama dua rekannya berfoto selfi di batu pancalikan.

“Peziarah itu kaget, karena saat difoto ketiga kalinya tidak tampak orang-orang yang difoto pada kameranya. Pada hasil foto pertama, di kamera tampak ada tiga orang tertangkap kemera. Begitupun pada hasil foto kedua. Tapi, di saat hasil foto ketiga, yang tampak hanya batu pencalikan saja. Mereka langsung ketakutan dan meninggalkan area situs,” terangnya.

Perdi mengatakan, meski di areal situs karangkamulyan tidak terdapat Harimau, namun jangan sekali-sekali menyebut nama hewan itu. Pasalnya, pernah kejadian ada seorang pengunjung yang mengaku dikejar seekor harimau saat mengelilingi kawasan hutan situs karangkamulyan.

“Ternyata, orang itu sebelumnya bilang ingin bertemu harimau saat dia berada di area situs. Tak lama kemudian,  datang harimau dan tepat berada di depan orang itu. Harimau itu gaib, bukan harimau biasa,” ujarnya.

Menurutnya, apabila pengunjung datang ke situs karangkamulyan niatnya baik atau hanya sekedar tujuan berwisata alam, tidak akan menjumpai kejadian-kejadian aneh. (Bersambung/Bgj/Koran-HR)

About author

Related articles

2 Comments

  1. iim August 24, at 10:20

    aya cakra buana....

    Reply

Leave a Reply