Kakek Usia 133 Tahun Masih Kuat Jalan Kaki dari Rumahnya ke Pasar Banjar

29/08/2016 0 Comments
Kakek Usia 133 Tahun Masih Kuat Jalan Kaki dari Rumahnya ke Pasar Banjar

Kakek Marta (133), warga Dusun Cigadung, Desa Karyamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Kakek Marta, seorang pria tua berusia 133 tahun, terlihat sibuk memanggul tumpukan rumput yang didapatkannya dari kebun di belakang rumahnya yang terletak di sebuah perbukitan, tepatnya di Dusun Cigadung, Desa Karyamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.

Saat ditemui HR, Selasa (23/08/2016), Kakek Marta menyambut dengan ramah dan langsung mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya. “Maaf, saya tidak memakai baju, ayo kita di rumah saja ngobrolnya biar lebih enak,” ucapnya.

Mengawali kisahnya, Kakek Marta mengaku dimasa tuanya dia menempati rumahnya hanya berdua bersama istrinya, Kasih (80). Sementara enam orang anaknya sudah tidak lagi tinggal bersama karena mereka telah berumah tangga.

“Saya sudah lupa berapa keturunan saya, soalnya banyak sekali. Bukan hanya sampai cucu, buyut pun sudah banyak yang memiliki anak,” tuturnya.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup bersama istrinya sehari-hari, Marta mengandalkan dari berjualan pisang maupun hasil palawija yang dia tanam sendiri di kebun belakang rumahnya. Hebatnya, hasil kebun tersebut dia jual ke Pasar Banjar menggunakan 2 buah wadah cukup besar dengan berjalan kaki. Jarak yang ditempuh dari rumahnya ke pasar sekitar 1 jam lebih.

Kakek Marta mengaku, dulu hal itu dilakukannya setiap hari, tapi karena faktor usia, sekarang paling 3 hari dalam seminggu. Bahkan menurutnya, dulu saat masih sehat pulangnya lari, bukan jalan kaki.

“Pokoknya soal hidup saya kalau diceritakan tidak akan habis-habis. Saya juga dulu ketika masih muda pernah menjadi relawan perang melawan penjajah Belanda bersama pasukan tentara yang biasa disebut Pasukannya Pak Hamara Effendi,” kenangnya.

Karena dirinya berasal dari daerah Cipaku, Kabupaten Ciamis, sehingga Kakek Marta bersama para relawan bergabung dengan tentara yang ada di Banjar, untuk berjuang melawan penjajahan.

Menurutnya, sebagai manusia harus patuh terhadap aturan negara, agama, serta hukum yang berlaku. Untuk itu, dirinya pun merasa penting dan harus ikut membela negara dari penjajahan.

Terkait umurnya yang kini mencapai 133 tahun, Kakek Marta pun mengungkap resepnya agar umur senantiasa panjang dan sehat, dimana sepanjang hidupnya tidak pernah berbuat yang menyakitkan, baik perasaan maupun fisik orang lain. Selain itu, dia juga selalu merasa tenang dalam menjalani kehidupan sehari-hari walaupun hidup serba seadanya.

“Dulu saya pernah hidup hanya dengan makan pucuk dedaunan yang ada di pegunungan. Sekarang tidak ada yang seperti itu. Saya merasa serba terbatas, akan tetapi saya tetap bersyukur dan bahagia sehingga diberikan nikmat umur panjang oleh Alloh SWT,” ungkapnya.

Sedangkan, mengenai masalah percintaan, dia sudah bertekad bulat tidak akan pernah berpindah pasangan. Hal itu dibuktikan Kakek Marta, selama masa pernikahannya dia belum pernah berpindah hati dari Kasih, istrinya. Sejak menikah, dia dan istrinya selalu kompak mengahadapi semua permasalahan yang ada, walaupun pahit.

Bagi dirinya tidak mungkin berganti pasangan, karena hal ini sudah menjadi takdir Alloh SWT yang telah memberikan nikmat sangat besar terhadap kehidupannya. Kakek Marta hanya berpesan agar semua aturan agama, negara, hukum bisa dihormati agar dalam menjalani kehidupan terasa aman dan tentram.

Di tempat yang sama, Nenek Kasih, istri Kakek Marta, mengakui, bahwa suaminya tidak bisa diam selama hidupnya. Artinya, dia selalu bergerak melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, meskipun usianya sudah tidak lagi muda.

“Bapak orangnya tidak bisa diam. Semuanya masih normal, kecuali sekarang pendengarannya agak sedikit tidak seperti dulu, normal. Setiap hari ke kebun menanam apapun yang bisa dimakan maupun dijual untuk hidup sehari-hari,” tuturnya.

Masalah identitas yang berkaitan dengan umurnya, Nenek Kasih menyebutkan KTP milik suaminya tidak sesuai dengan umur. Pasalnya, dulu umurnya pernah lebih muda dari sebenarnya.

“Bapak ingat betul yang ia lakoni selama hidupnya, karena ingatannya masih normal. Yang menyedihkan, bapak tidak pernah menjumpai ayahnya karena sejak ia lahir ayahnya sudah tiada,” pungkasnya. (Muhafid/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!