Ketua Umum PB PMII: Jangan Ngaku Mahasiswa Kalau Nilai IPK Buruk

04/08/2016 0 Comments
Ketua Umum PB PMII: Jangan Ngaku Mahasiswa Kalau Nilai IPK Buruk

Ketua Umum PB PMII, Aminudin Ma’ruf (tengah)

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Gerakan mahasiswa di tiap daerah perlu memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat dengan mengawal kebijakan pemerintah daerah dari berbagai sektor. Namun, hal itu wajib ditopang dengan hakikat mahasiswa sebagai insan akademik yang menunjukkan profesionalitas dalam menjawab problema zaman.

Hal itu ditegaskan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Aminudin Ma’ruf, saat ditemui Koran HR disela-sela acara pelantikan PMII Kota Banjar, di Kampus STIKes Bina Putera Banjar, Minggu (31/07/2016) lalu.

Dia menilai, arus global yang tidak bisa ditahan lagi, memaksa mahasiswa untuk berpikir bijak dalam menghadapi tantangan global tersebut. Tapi dalam kenyataanya, banyak mahasiswa yang melupakan jati dirinya sebagai kaum intelektual.

“Ini jelas kontras sekali dengan hakikat mahasiswa sebenarnya. Mengaku aktifis yang menyuarakan hak masyarakat, akan tetapi nilai akademisnya buruk. Inilah problema kita semua. Bagaimana membawa bangsa ini lebih baik kalau kondisinya demikian,” kata Aminudin.

Menurutnya, mahasiswa dari berbagai latar jurusan yang diambil, perlu menunjukkan nilai terbaiknya dalam sisi akademis. Pasalnya, hal itu sangat berpengaruh pada pandangan masyarakat, khususnya dunia profesional yang akan dihadapi usai belajar di bangku kuliah.

“Jangan ngaku aktifis bila nilai IPK masih buruk. Zaman global yang ditunjukkan dengan MEA, sudah tidak lagi membutuhkan kualitas yang asal-asalan, harus ada bukti nyata. 20 tahun yang akan datang, saya kira merupakan wujud kualitas mahasiswa hari ini. Jadi, harus seimbang,” tandas Aminudin.

Di tempat yang sama, Sekretaris Pengurus Kordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Barat, Ade Mahmudin, mengatakan, mahasiswa yang mengikuti organisasi ekstra kampus maupun intra kampus merupakan mahasiswa pilihan yang mengemban cukup banyak tanggungjawab. Karena selain akademik, juga mengemban status social control.

“Nah, dalam wadah organisasi manapun tentu ada mekanisme dan syarat tertentu untuk bisa masuk di dalamnya. Di sinilah hal yang perlu dipahami oleh kita semua agar organisasi yang kita kendarai tidak dicap sebagai tempat sampah, semua bisa masuk. Tapi kita wajib menjunjung tinggi dengan kualitas yang baik,” katanya.

Ade menilai, mahasiswa hari ini perlu menunjukkan kreatifitasnya dalam berbagai hal. Dirinya mengaku prihatin melihat kondisi mahasiswa yang semakin terpuruk akibat larut dalam zaman, serta tidak dapat mengambil peran strategis dari peluang-peluang dalam era modern ini.

“Sekarang banyak yang sibuk dengan gadget tapi lupa tanggungjawab sebagai mahasiswa. Saya yakin, ketika seimbang dalam menggunakannya, generasi yang akan datang semakin kreatif dan inovatif. Ini bukan PR PMII saja, tapi semua,” tegas Ade.

Sementara itu, Ketua PMII Kota Banjar, Ahmad Nursodiq, menambahkan, peran mahasiswa, khususnya di Kota Banjar, perlu menjadi mitra kritis dengan pemerintah. Selain harus menunjukkan kualitas dalam akademik, juga memiliki tanggungjawab sosial mahasiswa kepada masyarakat sebagai perwujudan Tri Dharma Mahasiswa.

“Bagaimana akan maju kalau mahasiswanya lebih suka diam. Di Kota Banjar, kita mengharapkan semua elemen mahasiswa punya manfaat nyata untuk Banjar,” ujarnya.

Ahmad juga mengatakan, Pemkot Banjar perlu mendorong mahasiswa untuk berperan aktif dalam upaya pembangunan SDM masyarakat Banjar yang berkualitas. Pasalnya, secara fisik Kota Banjar sudah melaju kencang, namun segi SDM masyarakatnya belum secepat pembangunannya.

Sebagai kaum akademik, pihaknya berharap keseimbangan di Kota Banjar dapat terwujud. Karena, ketika SDM warga Banjar baik, salah satu contohnya minat daya beli masyarakat juga akan meningkat. (Muhafid/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!