Makam 400 Tahun di Banjar Ini Sempat Jadi Tempat Bertapa Penggila Togel

16/08/2016 0 Comments
Makam 400 Tahun di Banjar Ini Sempat Jadi Tempat Bertapa Penggila Togel

Sebuah makam keramat yang ada di bukit Pasirnagara, Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar, diperkirakan berusia 400 tahun. Sekarang keberadaan makam tersebut mulai banyak dikunjungi para peziarah dari luar daerah. Photo: Hermanto/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Angker dan menyeramkan. Mungkin itulah gambaran sebuah makam tua yang terletak di bukit Pasirnagara, Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar. Makam berukuran panjang 4 meter dan lebar 2 meter ini ditutupi bebatuan sebesar kepala manusia.

Saat ditemui Koran HR, Senin sore (08/08/2016) lalu, Kusnadi (51), seorang juru kunci makam, mengatakan, makam tua tersebut berusia kurang lebih 400 tahun, dan yang berada di dalamnya mempunyai tiga nama, yakni Eyang Sitaguna atau Eyang Wening atau Eyang Bodas.

“Makam Eyang Sitaguna ini kurang lebih sudah berusia 400 tahun. Dulunya dia merupakan seorang penguasa Desa Balokang, karena pada saat itu di sini bernama Desa Balokang,” terangnya.

Selain seorang penguasa, Eyang Sitaguna atau Eyang Wening atau Eyang Bodas, adalah seorang pembuat senjata pusaka bagi para raja. Hingga kini pusakannya pun masih ada dan tersimpan dengan baik. Senjata tersebut terbuat dari wesi (besi) kuning dan emas, serta intan murni berperah kepala Darmakusuma.

Kusnadi juga mengungkapkan, dulu di makam tua ini sering digunakan untuk bertapa. Mereka yang datang rata-rata orang Ciamis, Banjar, atau pun warga setempat dengan tujuan menguasi dan mendapatkan barang pusaka tersebut.

“Bahkan selain itu, mereka yang bertapa di sini pun sering meminta kemenangan untuk bertaruh togel,” katanya.

Menurut Kusnadi, makam tua yang diperkirakan berusia 400 tahun ini juga dijaga oleh sepasang bangsa “lelembut” yang bernama Kamajaya dan Kamasita, dengan tujuan supaya bangsa lelembut (ghoib) tidak ada yang berani masuk ke daerah kekuasaannya.

“Di sini memang merupakan jalur bagi para lelembut, sehingga tempat ini pun dijaga sepasang bangsa lelembut. Jadi bangsa lelembut yang lainnya tidak berani masuk ke sini,” ujar Kusnadi.

Arif (34), warga setempat, membenarkan, bahwa makam tua yang ada di bukit Pasirnagara dulu sering digunakan untuk bertapa. Bahkan, tempat ini sekarang mulai ramai dikunjungi orang dari luar daerah dengan tujuan berziarah.

“Biasanya para peziarah ini datang pada bulan Mulud, Rajab, dan Ramadhan. Mereka datang dari luar daerah seperti Bandung, Tasikmalaya, dan daerah Kuningan,” tutur Arif.

Sementara itu, Kepala Desa Cibeureum, Yayan Sukirlan, mengatakan, di makam tersebut memang diperbolehkan untuk berziarah. Namun, dirinya menghimbau kepada masyarakat agar jangan sampai meminta-minta di kuburan, karena itu merupakan perbuatan musyrik.

“Sebagai kepala desa, tentu saya selalu menghimbau kepada masyarakat jangan meminta-minta di kuburan karena musyrik. Kalau orang yang sudah meninggal, ya kita do’akan saja,” tandas Yayan. (Hermanto/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!