Mengenal Tokoh Penyebar Islam di Bojongkantong Kota Banjar

23/08/2016 0 Comments
Mengenal Tokoh Penyebar Islam di Bojongkantong Kota Banjar

Makam KH. Usman di Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, hingga saat ini sering diziarahi warga. Photo: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Peran sosok ulama tak pernah diragukan lagi keberadaannya oleh masyarakat Indonesia. Selain menjadi seorang yang ahli dalam ilmu agama, seorang ulama juga kerap jadi tumpuan terakhir masyarakat yang meminta bantuan dalam menghadapi sebuah masalah kehidupan sehari-hari.

Ragam ulama pun cukup bervariatif bidangnya, selain bidang agama, mereka juga diantaranya ada yang ahli di bidang pertanian, ahli bahasa maupun bidang keahlian lainnya.

Banjar yang dikenal dengan sebutan “Karang Pamidangan” atau tempat berteduh, menyimpan segudang cerita para tokoh kenamaan yang cukup dikenal oleh masyarakat. Karena, selain keturunannya cukup banyak, mereka pun punya pengaruh besar di masanya, dimana para tokoh tersebut berasal dari daerah lain dan mengembangkan serta mendakwahkan Islam di Kota Banjar.

Salah satunya KH. Usman, tokoh ulama asal daerah Kebumen, Jawa Tengah, yang menyebarkan Islam di wilayah Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, dan sekitarnya sejak tahun 1911.

Berbekal ilmu agama yang ia pelajari di Mekkah selama 4 tahun saat menunaikan ibadah haji, KH. Usman mendapatkan informasi dari salah satu saudaranya bernama Mbah Mahzudi, yang lebih dulu menetap di wilayah Bojongkantong.

“Perjalanan haji ke Makkah dari Kebumen, KH. Usman berjalan kaki hingga ke Semarang untuk naik kapal laut. Walaupun kakinya sempat melepuh karena jauhnya perjalanan, namun tetap saja ia lakoni,” ungkap Mujahid (69), warga Dusun Citangkolo, Desa Kujangsari, yang juga cucu KH. Usman, ketika ditemui HR disela-sela acara haul KH. Usman ke 54, di Lingkungan Langkaplancar, Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Rabu (17/08/2016).

Lanjut Mujahid, dengan jarah tempuh selama hampir 7 hingga 9 bulan perjalanan menggunakan kapal layar, KH. Usman menunaikan ibdah haji di Mekkah. Karena pulang tidak punya ongkos, ia bekerja sebagai kuli panggul air yang diperjual belikan di Mekkah selama 4 tahun sambil menuntut ilmu.

Setelah kembali ke tanah air, suatu waktu ia termenung dalam sebuah gubuk. Kemudian KH. Usman pun diajak oleh Mbah Mahzuhdi untuk ikut berjuang bersama di wilayah Bojongkantong menyebarkan agama Islam dan juga bertani.

Sebelumnya, Mbah Mahzudi telah memilih tempat yang cocok untuk melakukan “babad alas” di wilayah Jawa Barat. Awalnya Mbah Mahzudi melakukan pelayaran dari Kebumen melalui Pantai Selatan dan tiba di wilayah Cikembulan, Pangandaran.

“Nah, Mbah Mahzudi merasa kalau daerah Cikembulan itu tidak cocok untuk dijadikan tempat yang dikelolanya. Warga sekitar menyarankan untuk menaiki kereta api dari Pangandaran menuju Ciamis. Alhasil, petunjuk mengarahkan Mbah Mahzudi untuk singgah di Bojongkantong,” tutur Mujahid.

Karena pada saat itu penduduk Bojongkantong rata-rata suku Sunda dan kebetulan menurut orang pintar harus ada salah seorang dari suku Jawa untuk menumpas makhluk halus, sehingga kedatangan Mbah Mahzudi sangat diterima oleh masyarakat di tempat barunya itu.

Mbah Mahzudi sudah singgah selama 10 tahun di Bojongkantong, dan akhirnya ia mengajak KH. Usman untuk membantu dirinya. Berbekal tanah puluhan hektare yang ia bayar pajaknya kepada Pemerintah Ciamis, maka untuk menggarapnya Mbah Mahzudi berbagi dengan KH. Usman.

Sementara itu, sebelum datang ke Bojongkantong, KH. Usman sendiri telah mempunyai istri bernama, Mariem, dan memiliki beberapa anak. Namun, ia tinggalkan sementara waktu untuk membuka lahan pertanian dan menyebarkan agama Islam. Setelah cukup sukses, KH. Usman akhirnya mengajak seluruh anak beserta istrinya pindah ke Bojongkantong.

“Anak KH. Usman berjumlah 14 orang, 4 diantaranya tidak mempunyai keturunan dan 10 lagi produktif. Sampai saat ini keturunan KH. Usman mencapai 2000 orang lebih dan tersebar di wilayah Bojongkantong, Kujangsari, Kebumen dan di daerah Cilacap,” terangnya.

Mujahid juga mengatakan, bahwa KH. Usman tidak pernah melawan Belanda karena fokus pada bidang agama. Bahkan, saat peristiwa penggulingan kereta api di Banjar, ia aman dari amarah Belanda yang waktu itu membombardir wilayah Dusun Sampih, Desa Rejasari. Karena tentara Indonesia dan masyarakat melepas baut rel yang mengakibatkan kereta teguling, namun dari pihak Belanda tidak ada yang meninggal dalam peristiwa itu.

Selama mengembara, KH. Usman juga telah membangun sekitar 7 mesjid yang tersebar di wilayah Kebumen, Cilacap dan Bojongkantong. Selain itu, karena fokus pada bidang pertanian, maka ia pun selalu mengajarkan anak cucunya agar menurut kepada pemerintah, fokus beribadah dan bertani.

“Mungkin karena KH. Usman juga merupakan turunan trah Kolopaking dari neneknya yang juga pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, sehingga ia selalu bersemangat menyebarkan agama Islam di mana saja ia singgah, seperti saat ini bisa dilihat kiprahnya. KH. Usman wafat dalam usia 164 tahun dan dimakamkan di Bojongkantong,” pungkas Mujahid. (Muhafid/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!