Mahasiswa Desak Kejari Usut Indikasi Korupsi di Lahan Eks Star Trust Pangandaran

15/09/2016 2 Comments
Mahasiswa Desak Kejari Usut Indikasi Korupsi di Lahan Eks Star Trust Pangandaran

Aliansi Mahasiswa Anti Korupsi Priangan menggelar aksi unjuk rasa di halaman Kantor Kejaksaan Negeri Ciamis, Kamis (15/09/2016). Foto: Tantan Mulyana/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Puluhan masa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Anti Korupsi Priangan menggelar aksi unjuk rasa di halaman Kantor Kejaksaan Negeri Ciamis, Kamis (15/09/2016). Dalam aksinya, mereka menyampaikan dugaan korupsi pada proses peralihan HGB di lahan eks PT. Star Trust yang berlokasi di Desa Pananjung dan Desa Wonoharjo, Kecamatan/Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Selain itu, mereka pun menyesalkan terjadinya insiden pengrusakan rumah petani yang berada di lahan tersebut. “Kedatangan kami ke sini ingin melaporkan kejadian yang telah dialami petani. Perlu disampaikan bahwa petani banyak disudutkan akibat dampak dari dugaan korupsi PT. Start Trust,” kata Koordinator aksi Nurohim, saat menggelar aksi.

Menurut Nurohim, proses peralihan HGU dari PT Perkebunan XII Batulawang ke HGB yang dikuasai PT Start Trus yang terjadi beberapa tahun lalu, diduga penuh dengan kecurangan. Dalam kasus ini, kata dia, patut diduga terjadi tindak pidana korupsi dari penyalahgunaan kewenangan.

Selain itu, kata Nurohim, pihaknya pun menyesalkan terhadap kebijakan Pemkab Pangandaran yang melakukan penggusuran rumah petani di lahan eks Start Trust tersebut.

“Kami selaku mahasiswa harus peduli terhadap rakyat. Kami pun datang ke sini untuk memberikan kesaksian bahwa petani yang menggarap lahan di lahan eks Start Trust telah diintimisasi oleh pihak-pihak tertentu yang ingin menguasai seluruh lahan,”tegasnya. (Tantan/R2/HR-Online)

About author

Related articles

2 Comments

  1. Anda September 15, at 23:07

    Yang kasian rakyat kecil memang. Diiming2 i lahan garapan, disuruh bayar biaya2 administrasi dengan janji bahwa tanah jadi milik mereka. Ternyata omong kosong belaka. Setelah janji2 bohongannya tidak terbukti, yang dibohongi dijadikan tameng supaya mereka yang dibelakang mendapatkan "biaya2 administrasi dan menikmatinya tanpa hati nurani. bahkan mengkambing hitamkan pihak2 yang seharusnya tidak ada kaitannya. Fakta dibolak-balik seenaknya cuma karena uang dan keserakahan semata.

    Reply
  2. Anda September 15, at 23:18

    Penulis coba cek deh ke lapangan. Mereka adalah petani baru yang mengalami penggusuran. Petani lama tidak. Petani baru tersebut ada penggerak/provkatornya. Mereka dijanjikan kepemilikannya lahan yang ilegal tanpa ada dasar hukum, bahwa penggerak menjanjikan sanggup mengatur supaya itu jadi hak milik mereka untuk bertani. Bahkan sudah berani mengklaim mengantongi surat keputusan Mentri agraria. Petani tersebut membayar sejumlah uang yang dengan dalih biaya administrasi pengurusan kepemilikannya dan pengolahan lahan pertanian. Saya tau karena pernah bertanya langsung kepada salah satu penggarap baru. Mereka (petani baru) tau bahwa ada yang ga beres, tapi tetap jalan saja menghajar pihak2 lain yang ga ada kaitannya. Dengan dalih hanya ini satu satunya yang mereka punya. Apakah baik/benar alasan2 apapun dilegalkan demi merampas hak orang lain saat posisi mereka terjepit? Dan para penipu dan provokator serta mafia2 pertanian dengan santainya dirumah mereka masing2 menghitung uang hasil penipuannya tidak cuma di Pangandaran. Tapi juga diwilayah2 lainnya. Sungguh ironis.

    Reply

Leave a Reply