Petani Ciamis Merugi, Hektaran Sawah Terendam Banjir

22/09/2016 0 Comments
Petani Ciamis Merugi, Hektaran Sawah Terendam Banjir

Areal sawah di wilayah Desa/Kecamatan Rancah terendam banjir setelah diguyur hujan selama sepekan terakhir. Photo : Heri Herdianto/ HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Tingginya curah hujan yang terjadi selama sepekan ini membuat sejumlah areal pesawahan di Kabupaten Ciamis, terendam banjir. Alhasil, petani di beberapa wilayah mengalami kerugian hingga puluhan juta akibat tanaman padi mereka terendam air.

Darman (39), petani Rancah, ketika ditemui Koran HR, Senin (19/09/2016) lalu, mengatakan, akibat hujan dan banjir, tanaman padi miliknya yang baru ditanam hanyut terbawa arus air, termasuk juga pupuk yang sudah disebar.

Menurut Darman, akibat banjir yang melanda area pesawahan mereka, sebagian petani terpaksa menunda masa tanam. Hal itu dilakukan untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Darman sendiri mengaku mengalami kerugian sebesar Rp 2 juta akibat banjir tersebut.

”Kerugian tersebut adalah biaya tanam serta biaya perawatan sawah sebelum masa tanam, yakni untuk membajak sawah dan biaya buruh tani yang menanam,” ujarnya.

Selain itu, kata Darman, dirinya juga harus mengeluarkan biaya tambahan jika banjir surut. Hal ini dikarenakan dirinya harus mengulang proses pembibitan dan perawatan sawah guna menyambut musim tanam.

“Belum lagi biaya perbaikan terasering sawah yang hanyut kena air. Pasti lebih banyak lagi biayanya,” jelasnya.

Senada dengan itu, Wardi, petani  lainnya, mengatakan, bahwa biasanya tanaman padi akan bertahan selama tiga hari jika terendam air. Jika dalam tiga hari air tidak surut, dapat dipastikan tanaman padi akan busuk dan mati.

“Konsekuensinya petani harus melakukan penanaman ulang. Dan itu salah satu musibah bagi petani,” katanya.

Menrut Wardi, penanaman ulang juga tidak serta-merta mengatasi masalah. Sebab petani harus menyediakan bibit padi yang siap tanam. Jika petani akan melakukan penyebaran, maka waktu yang dibutuhkan relatif lama. Kalaupun petani membeli bibit yang sudah siap tanam, biasanya kualitasnya tidak terjamin.

“Mau tidak mau, petani harus membeli bibit padi, dari pada menyebar benih sendiri,” ungkapnya.

Wardi menjelaskan bahwa umur yang tidak sama dengan tanaman padi yang ada di sekitarnya juga akan menjadi kendala di kemudian hari. Karena umur yang terlampau jauh akan membuat keterlambatan panen. Jika mengalami keterlambatan panen maka padi akan rawan dari serangan hama dan burung.

“Kalau yang lain sudah panen, terus sawah kita belum panen, tentunya burung akan menyerang sawah milik kita,” katanya. (Heri/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!