Rektor IAID Ciamis; Kikis Radikalisme dengan Tingkatkan Ukhuwah

29/09/2016 0 Comments
Rektor IAID Ciamis; Kikis Radikalisme dengan Tingkatkan Ukhuwah

Photo: Ilustrasi net/Ist

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Perwakilan para tokoh agama se-Kabupaten Ciamis mengadakan dialog interaktif bertemakan “Mengikis Pengaruh Gerakan Radikalisme dalam rangka Meningkatkan Ukhuwah dan Kebersamaan Umat” bertempat di Aula Pondok Pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis.

Dialog Interaktif tersebut dihadiri oleh Ketua DPD II Kabupaten Ciamis, Setyono, S.Sos, Majelis Pengasuh Pondok Pesatren Darussalam Ciamis, K.H. Dr. Fadlil Yani Ainusyamsi, MBA.,M.Ag, dan Divisi Humas DPD FPI Kabupaten Ciamis, Ajat Hidayat, S.Pd.I.

Menurut Rektor IAID sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis, Dr. H. Fadlil Munawar Mansur, M.S, mengatakan, terkait paham radikalisme tersebut banyak yang menyalahgunakan agama dengan penafsiran yang sempit, sehingga memunculkan gerakan-gerakan yang tidak produktif untuk Umat Islam.

Radikalisme bisa datang dari ideologi-ideologi yang lain, mereka ingin menguasai Negara, mengacaukan, serta memecah belah umat dan bangsa,” katanya.

Fadlil Munawar menjelaskan, paham radikalisme berasal dari ideologi libelarisme dan kapitalisme. Indonesia sendiri lebih liberalisme dari pada Negara Amerika.

“Negara kita sendiri sudah banyak menjelekan pemimpim, menjelekan bangsanya sendiri, menjelekan lawan politik, nah itu salah satu contoh paham liberalisme atau bisa disebut paham radikalisme,” katanya.

Menurut Fadlil, radikalisme dalam kontek agama itu menafsirkan ajaran agama secara sempit, tidak komperhensif dan tidak integral. Produknya, takfiri yang berarti mudah mengkafirkan orang serta mengkafirkan sesama umat muslim.

“Radikalisme dalam dunia pesantren akan sangat berbahaya apabila telah mengadu domba para kyai dan para ulama. Apabila itu terjadi mengakibatkan bisa dikuasai oleh pihak asing. Jadi ini yang membuat para ulama dan kaum intelektual muslim sekarang angkat bicara tentang paham tersebut,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Fadlil menyarankan kepada seluruh umat muslim harus bersatu, harus melupakan dan meninggalkan bendera-bendera ashabiyah atau berarti fanatisme golongan.

“Semua bendera ditanggalkan dulu yang terpenting Islam. Karena kalau Islam bersatu Indonesia akan beres. Tetapi kalau umat islam dipecah akhirnya menjadi objek orang yang tidak senang terhadap Indonesia, terutama pihak asing. Orang asing bisa timbul dari orang dalam yang disebut penghianat bangsa,” ucapnya.

Pemerintah juga harus bisa mengondisikan umat islam agar hidupnya lebih dihargai dan lebih diapresiasi. Dengan begitu, umat islam mendukung pemerintah. tetapi kalau pemerintah membiarkan umat terpecah-pecah pasti negara juga terpecah-pecah.

“Saya mohon kepada seluruh tokoh islam jangan mau dibeli oleh kekuatan-kekuatan keuangan, itu haram hukumnya. Karena kekuatan ekonomi raksasa itu sudah mulai menguasai, jadi umat islam harus bersatu mulai dari Ciamis, Priangan Timur apalagi Indonesia. Umat Islam bersatu pemerintah pasti mudah mengurus negara ini,” pungkasnya. (Tan/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!