Soal Oven Padi Mangkrak, Ini Kata UPTD BBP Distan Banjar

18/09/2016 0 Comments
Soal Oven Padi Mangkrak, Ini Kata UPTD BBP Distan Banjar

Mesin pengering padi (oven) UPTD Balai Benih Padi Dinas Pertanian Kota Banjar. Photo: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Kepala UPTD Balai Benih Padi Dinas Pertanian Kota Banjar, Irman, mengatakan, tidak digunakannya mesin pengering padi (oven) yang diperuntukkan mengeringkan gabah benih disebabkan tidak mencukupinya biaya operasional dengan pendapatan yang dihasilkan.

Pada tahun anggaran 2016, kucuran dana dari Pemkot Banjar untuk produksi benih mencapai Rp.560 juta, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai sekitar Rp.600 jutaan.

“Kami hanya mengandalkan panas terik matahari saja agar taget 20 persen dari 560 juta rupiah itu teracapai, yakni sekitar 637 juta rupiah untuk tahun 2016,” jelas Irman, kepada Koran HR, saat ditemui, Rabu (14/09/2016) lalu.

Adapun kekhawatiran dirinya saat menghadapi musim hujan yang terus menerus pada saat ini yaitu target PAD bisa jadi tidak maksimal. Selain itu, dengan pertimbangan biaya produksi dan service mesin yang memakan anggaran tidak sedikit, maka terpaksa harus berjalan seadanya, yakni menggunakan terik matahari.

“Coba saja kalau petani bisa kompak dalam panen, terutama varietasnya, tentu kita bisa mengupayakan soal ini ketika musim hujan tiba. Namun, petani justru memanen sesuai varietas yang dikehendaki masing-masing,” ungkapnya.

Sedangkan, lanjut Irman, menurut penggunaannya, mesin oven yang berukuran jumbo tersebut bisa menampung padi untuk dikeringkan mencapai 10 ton dalam waktu 1 hari dengan suhu 40 derajat celcius. Sementara pengeringan padi menggunakan terik matahari memakan waktu 3 hari untuk kapasitas 10 ton.

Mesin yang diadakan sejak tahun 2006 tersebut, menurutnya bisa digunakan untuk pengeringan gabah konsumsi, bukan benih. Tapi pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk melaksanakan kebijakan pengeringan gabah konsumsi.

“Bisa saja dimanfaatkan mesinnya, tapi kita fungsinya bukan untuk konsumsi, yakni pembenihan. Kalaupun dipaksakan, namanya jangan UPTD Balai Benih Padi, tapi yang lain,” kata Irman.

Dari hasil pembenihan setiap tahun yang mencapai 93 ton gabah basah tersebut, pihaknya mengaku optimis bisa mengeringkan gabah benih hingga 72 persen menggunakan terik matahari, sedangkan 28 persennya belum bisa maksimal dalam pengeringan.

“Sambil membenahi dan memanfaatkan memaksimalkan yang ada, mudah-mudan target kita bisa sesuai untuk memenuhi PAD,” harapnya. (Muhafid/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!