‘Ngamumule’ Adat Sunda, Warga Batulawang Banjar Lestarikan Ngabungbang

19/10/2016 0 Comments
‘Ngamumule’ Adat Sunda, Warga Batulawang Banjar Lestarikan Ngabungbang

Sejumlah warga Desa Batulawang, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat, saat menggelar acara adat Ngabungbang, di lapangan sepakbola Sangkuriang Batulawang, Selasa (18/10/2016) malam. Foto: Hermanto/HR

Berita Banjar, (haraparanrakyat.com),-

Warga Desa Batulawang, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat, kembali menggelar acara adat Ngabungbang, di lapangan sepakbola Sangkuriang Batulawang, Selasa (18/10/2016) malam. Acara adat tersebut merupakan agenda tahunan yang hingga saat ini masih dilestarikan oleh warga setempat.

Acara ngabungbang ini diawali dengan penyambutan para inohong, diantaranya dari unsur Muspida yang ada di Kota Banjar. Selain itu, pada acara ini juga dihadiri para pelaku seni, budayawan, pemangku adat, serta masyarakat sekitar.

Ki Demang, sesepuh adat setempat, mengatakan, acara ngabungbang merupakan tradisi atau warisan sesepuh sunda terdahulu. Ngabungbang memiliki arti dan makna filosofis, yakni beraktifitas di malam hari di bawah terang bulan ke 14. Selain itu, menurutnya, ngabungbang juga memiliki arti diam di luar rumah serta tidak tidur dalam semalam suntuk.

“Acara ini merupakan agenda tahunan sebagai bentuk pelesatarian atau untuk ngamumule adat budaya sunda,”ujarnya kepada HR Online, disela-sela acara.

Demang menambahkan tradisi ngabungbang harus terus dilestarikan dan wajib dijaga oleh generasi selanjutnya. Hal itu agar mereka dapat mencintai budaya yang diwariskan para sesepuh terdahulu.

Pada acara ngabungbang ini, berbagai pagelaran seni seperti pencak silat, gondang, kacapi suling, dog-dog serta seni tradisional sunda lainnya turut meramaikan acara. Acara ini pun memadukan dua unsur, yaitu unsur budaya lokal dan unsur religius (islam).

Acara ngabungbang ini pun mempunyai daya tarik tersendiri, yakni di acara puncaknya selalu menghadirkan pertunjukan kesenian ronggeng ibing (Amen), dimana para inohong (pejabat pemerintah) serta warga berbaur menari bersama 4 wanita ronggeng. Mereka mengikuti alunan musik gamelan khas sunda, dengan irama serta ibingan yang serempak.

Tika Kartika (32) warga Batulawang mengatakan dirinya selalu mengikuti acara tersebut setiap tahunnya. Ia selalu “ngengklak” (ngibing) terutama pada segmen Ronggeng Amen.

“Setiap acara ngabungbang, saya selalu hadir. Selain untuk hiburan, sebagai orang sunda, sudah seharusnya mencintai adat dan budayanya,”ujarnya.

Beberapa warga pun mengaku puas dengan digelarnya kegiatan ngabungbang ini. Mereka menyatakan sangat terhibur. “Acaranya sangat bagus, selain melestarikan budaya sunda, juga dapat dijadikan daya tarik pariwisata,” pungkasnya. (Hermanto/R2/HR-Online)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!