UPR di Banjar Minta Balai Benih Ikan Bersinergi

25/10/2016 0 Comments
UPR di Banjar Minta Balai Benih Ikan Bersinergi

Kondisi UPTD BBI Kubangsari Dinas Pertanian Kota Banjar saat ini. Photo: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Keberadaan Unit Pengelola Teknis Daerah Balai Benih Ikan (UPTD BBI) Kubangsari Dinas Pertanian Kota Banjar, menjadi salah satu penghasil Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Banjar pada bidang perikanan. Sejak berdirinya sekitar 11 tahun yang lalu, BBI terus dikejar untuk mencapai target PAD Kota Banjar.

Ratna, salah satu pegawai BBI Kubangsari, mengatakan, dari tahun ke tahun BBI terus melakukan pembenahan, baik pada pembangunan fisik maupun pada spesies benih ikan yang dikelola.

Hingga saat ini, kondisi fisik BBI sudah mulai kembali normal dibanding dengan tahun sebelumnya yang bangunannya banyak mengalami kerusakan dan tidak terpakai. Sedangkan, benih ikan yang dikelolanya hanya 4 jenis, yakni gurame, nila, tawes dan ikan emas.

“Alhamdulillah, hasil dari pengelolaan kita di BBI sudah bisa mencapai target PAD, terutama tahun 2015 sebesar 66 juta rupiah. Untuk tahun 2016, target PAD juga sama 66 juta rupiah, mudah-mudahan tahun ini bisa tercapai juga,” terangnya, kepada Koran HR, Jum’at (07/10/2016) lalu.

Lebih lanjut Ratna mengatakan, bahwa hasil benih yang dikelolanya biasa dibeli oleh para peternak ikan yang berasal dari daerah Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Kabupaten Pangandaran, Majenang, Kabupaten Cilacap dan Kota Banjar. Meskipun berjalan normal, dia mengaku BBI hanya dikelola oleh 2 orang tenaga PNS dan 4 orang karyawan.

Selama 1 tahun, pihaknya diberi anggaran operasional sebesar Rp.70 juta, yaitu pada tahun 2015 dan juga tahun 2016. Diakui Ratna, sebenarnya pihak BBI sendiri kewalahan dalam masalah pengelolaan akibat kurangnya SDM. Kolam yang cukup luas di BBI hanya dikelola oleh 2 orang PNS dan 4 orang karyawan.

“Banyak masyarakat yang sengaja datang untuk melakukan konsultasi terkait masalah ternak ikan, baik pengusaha maupun warga biasa. Tapi kalau untuk melakukan pembelian dari peternak, jelas itu tidak bisa karena tidak sesuai dengan tupoksi UPTD BBI. Kita pun ingin adanya penambahan SDM agar pengelolaan bisa lebih maksimal lagi,” kata Ratna.

Melihat potensi besar UPTD BBI, Hartono, salah satu orang yang aktif dalam Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Mukti Mandiri Kecamatan Langensari, mengaku prihatin dengan keberadaan BBI yang seharusnya bisa menjadi ikon Kota Banjar bidang pembenihan ikan, malah tidak berdampak pada UPR yang ada di Kota Banjar.

“Sayang sekali, bangunannya megah dan luas tapi masih banyak juga kolam yang kosong. Hal itu jelas berdampak pada PAD yang stagnan. Apalagi dengan SDM yang sedikit,” ujarnya, kepada Koran HR, Senin (17/10/2016) lalu.

Hartono sendiri mengaku sangat berterimakasih kepada Pemkot Banjar, yang telah memberikan motivasi melalui dorongan moril maupun materil kepada UPR yang ada di Banjar. Namun, ketika dikaitkan dengan kondisi BBI yang tidak mengalami peningkatan, justru dirinya berniat membantu BBI, baik dalam masalah pembenihan maupun pengelolaan.

“Memang BBI tidak diperbolehkan membeli ikan dari masyarakat, tapi jika kita menawarkan konsep pada tahap pendederan 3, yakni benih yang ukurannya 5 hingga 10 centimeter, bisa ditampung oleh BBI. Ukuran sebesar itu kan masih dalam kategori benih, bukan konsumsi. Jadi, kalau bisa Dinas Pertanian memberikan peluang tersebut,” tukasnya.

Selain dengan konsep bermitra antara UPR dan BBI yang bisa meningkatkan hasil PAD, untuk pengelolaan pun bisa mengakomodir para ahli di bidang perikanan yang terdapat di UPR yang ada di Kota Banjar, khususnya wilayah Langensari. Pasalnya, Langensari merupakan wilayah yang terkenal dengan penghasil ikan gurame di berbagai daerah.

“Jelas-jelas kita yang selalu mengeluarkan benih, tapi tetap saja diklaim oleh peternak dari wilayah lain, baik di Ciamis maupun daerah lain. Hal tersebut membuktikan bahwa UPR yang ada di Banjar sangat besar potensinya ketika bersinergi dengan BBI untuk meningkatkan PAD,” ungkapnya.

Pihaknya berharap kepada pemerintah agar UPR yang ada di Banjar bisa diakomodir melalui BBI, sehingga ikon Kota Banjar bisa dimunculkan kembali melalui 1 pintu, yakni BBI. “Jadi jangan disia-siakan bangunannya, anggaran besar mencapai miliaran rupiah, tapi pendapatannya justru kecil,” kata Hartono. (Muhafid/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!