Apdesi Ciamis: Beli Motor Diseragamkan Agar Harganya Murah

22/11/2016 1 Comment
Apdesi Ciamis: Beli Motor Diseragamkan Agar Harganya Murah

Photo: Ilustrasi net/Ist

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Sekretaris APDESI (Asosiasi Perangkat Desa Seluruh Indonesia) Kabupaten Ciamis, Gandar Herdiana, mengatakan, rencana pembelian sepeda motor inventaris desa dengan menentukan satu jenis merk, yakni Honda CB150R, merupakan hasil kesepakatan musyawarah yang dihadiri seluruh Ketua APDESI kecamatan se-Kabupaten Ciamis. Dia pun mengaku kaget ketika mendengar kepala desa di Kecamatan Banjaranyar melakukan penolakan terhadap pembelian motor Honda CB150R.

“Saat musyawarah, Ketua APDESI Kecamatan Banjaranyar hadir dan sudah menyetujui pembelian motor yang diseragamkan atau satu merk, yakni Honda CB150R. Malah seluruh Ketua APDESI kecamatan semuanya menandatangani kesepakatan tersebut,” katanya, kepada Koran HR, Selasa (15/11/2016) lalu.

Gandar menjelaskan, munculnya kesepakatan melakukan pembelian sepeda motor inventaris desa dengan menyeragamkan satu satu merk, bukan tanpa pertimbangan. Menurutnya, pertimbangan tersebut diambil setelah pihaknya melakukan konsultasi dengan Bupati Ciamis dan musyawarah dengan para kepala desa.

“Memang anggaran pembelian motor diambil dari alokasi ADD masing-masing desa, bukan dari bantuan Pemkab Ciamis secara langsung. Namun, kami mendapat arahan dari Pak Bupati, agar motor invetaris desa diseragamkan merknya seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, mengenai merk dan jenis sepeda motor yang akan dipilih, Pak Bupati menyerahkan sepenuhnya kepada para kepala desa,” terangnya.

Setelah ada arah dari Bupati, kata Gandar, kemudian pihaknya melakukan musyawarah dengan para kepala desa yang diwakili oleh masing-masing pengurus APDESI kecamatan untuk menentukan merk dan jenis sepeda motor yang akan dipilih. “Dari hasil musyawarah itu, kemudian diputuskan kami membeli motor Honda CB150R. Dan semua perwakilan kepala desa dari masing-masing kecamatan menyetujuinya,” ujarnya.

Menurut Gandar, sebenarnya ada keuntungan apabila melakukan pembelian sepeda motor inventaris dengan merk dan jenis yang sama. Dengan membeli sepeda motor dengan jumlah banyak, lanjut dia, akan mendapat potongan harga dari agen resmi Honda.

“Kami membeli motornya bukan dari daeler, tapi langsung dari agen Honda. Harga motor Honda CB150R di dealer dibandrol sekitar 25,5 juta. Tetapi, kalau membeli di agen Honda, mendapat potongan harga atau sekitar Rp. 24 juta. Artinya, harga motornya lebih murah dibanding membeli di daeler,” terangnya.

Menurut Gandar, untuk anggaran pembelian sepeda motor, masing-masing desa sudah menganggarkan sebesar Rp. 25 juta. Kalau membelinya di daeler, kata dia, anggaran tersebut tidak akan cukup membeli motor Honda CB150R.

“Terlebih, apabila kepala desa semaunya membeli merk dan jenis motor, mungkin akan ada kelebihan anggaran atau bisa saja kurang apabila ingin membeli motor yang harganya lebih dari 25 juta. Makanya, keputusan yang bijak untuk menyesuaikan anggaran dan demi sebuah kebersamaan, pembeliannya harus satu merk dan harganya sama,” tegasnya.

Gandar pun membantah pihaknya mendapat cash back atau diskon dari hasil pembelian 259 sepeda motor inventaris desa. Menurutnya, harga Honda CB150R sebesar Rp. 24 juta, tanpa adanya diskon yang diberikan dari pihak agen Honda. “Kami dari APDESI hanya memfasilitasi saja, tanpa mendapat keuntungan. Karena kami pun sama kepala desa yang akan membeli motor tersebut,” katanya.

Sementara itu, terkait dana studi banding para kepala desa di Kabupaten Ciamis ke Kabupaten Malang yang dianggap pemborosan anggaran, Gandar mengatakan, dana studi banding tersebut hanya Rp. 7 juta per desa, bukan Rp. 22 juta per desa seperti yang berkembang menjadi opini.

“Memang di masing-masing pemerintahan desa di Kabupaten Ciamis ada anggaran sebesar Rp. 22 juta untuk kegiatan peningkatan kinerja aparatur desa. Tapi anggaran sebesar Rp. 22 juta itu tidak semuanya dipakai untuk study banding ke Malang. Namun, sebelumnya sudah dipakai untuk kegiatan pelatihan perangkat desa di Bandung dan Yogyakarta. Jadi, uang yang digunakan study banding ke Malang hanya Rp. 7 juta,” terangnya.

Gandar mengatakan, study banding ke Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, bertujuan untuk melihat dan mempelajari tata kelola keuangan desa yang dikelola secara transparan dan akuntabel. “Banyak ilmu yang didapat oleh para kepala desa setelah melakukan kunjungan ke Desa Tunjungtirto. Jadi, study banding tersebut sangat besar manfaatnya,” katanya. (Bgj/Koran HR)

About author

Related articles

1 Comment

  1. Iwan November 22, at 11:46

    Dari sisi kepantasan, apakah pantas seorang abdi masyarakat menggunakan type motor itu. Kenapa gak megapro 150cc, Atau sekalian saja beli type ninja 250cc biar bisa balapan sama si boy.. wkwkwk. Dana desa yang besar berpotensi hanya untuk penghamburan dana saja. Studi banding lah, bimtek lah, atau pelatihan yang ujungnya wisata. Mau dikemanakanan Indonesia???

    Reply

Leave a Reply