Cabe Asal Ciamis Kualitasnya Bagus dan Tahan Busuk

11/11/2016 0 Comments
Cabe Asal Ciamis Kualitasnya Bagus dan Tahan Busuk

Photo: Ilustrasi net/Ist

Berita Ciamis, (HR),-

Cabe yang ditanam di wilayah agropolitan Kabupaten Ciamis (Panumbangan, Sukamantri, Lumbung, Panjalu dan Cihaurbeuti) dinilai memiliki kualitas terbaik di Jawa Barat. Bahkan, cabe asal Ciamis itu sudah dikenal kualitasnya di Pasar Caringin Bandung. Hal itu diketahui setelah tim kajian yang melibatkan para ahli dan akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian terhadap komoditas hasil pertanian di Kabupaten Ciamis.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis, Kustini, mengatakan, Pemkab Ciamis pada tahun 2016 ini melakukan kerjasama dengan IPB. Kerjasama itu bertujuan untuk mengetahui gambaran umum secara detail mengenai potensi pertanian dan perternakan di Kabupaten Ciamis dengan melakukan survey, penelitian dan kajian.

“Jadi, tim peneliti dari IPB turun langsung ke lapangan, mulai meneliti dari lokasi pertanian sampai meninjau serta menganalisis potensi pasarnya. Hasil penelitian terhadap bidang pertanian, diketahui bahwa cabe merupakan komoditas terbaik di Kabupaten Ciamis,” katanya, kepada Koran HR, pekan lalu.

Kustini menambahkan, dari hasil penelitian, cabe yang ditanam di wilayah agorpolitan Kabupaten Ciamis memiliki kualitas super, baik cabe rawit, cabe kriting ataupun cabe merah. Hasil penelitian itu dipertegas ketika tim peneliti dari IPB melakukan survey pasar, salah satunya dengan mengunjungi Pasar Caringin Bandung yang dimana sebagai pasar terbesar di Jawa Barat.

“Di Pasar Caringan ternyata cabe asal Ciamis sudah dikenal dan banyak diminati. Menurut para pedagangnya, cabe asal Ciamis memiliki kelebihan pada kepedasan dan tidak cepat busuk. Makanya, permintaan pasar untuk cabe Ciamis kini tengah meningkat tajam,” ujarnya.

Namun demikian, lanjut Kustini, pasokan cabe dari Ciamis sering kali tidak bisa memenuhi permintaan pasar. Karena pasokannya masih mengandalkan suplay dari petani tradisional.

“Meski bisnis bertani cabe untungnya menjanjinkan, tetapi modal dan resikonya sangat besar. Makanya, para petani selalu menghitung musim atau waktu yang tepat apabila akan menanam cabe. Hal itu untuk mengurangi resiko gagal panen. Hal itupun menjadi penyebab lambatnya suplay cabe asal Ciamis dijual ke pasaran,” katanya.

Apabila dihitung dari keuntungan, menurut Kustini, bertani cabe sering kali mendapat untung yang berlibat. Dari perhitungan modal benih dan perawatan sebesar Rp. 6.000,- per satu kilo, nantinya bisa menghasilkan keuntungan sebesar sekitar Rp. 40 ribu per kilo.

“Namun masalahnya, resiko gagal panennya juga besar. Apalagi jika salah prediksi saat masa tanam atau masa tanamnya saat memasuki musim hujan, maka resikonya cabe akan membusuk. Pasalnya, kualitas cabe tidak akan bagus apabila saat pembesaran di saat musim hujan. Belum lagi ancaman hama yang bisa merusak kualitas cabe. Artinya, dari musim tanam hingga pembesaran harus benar-benar teliti,” terangnya.

Kustini menjelaskan, setelah diketahui cabe asal Ciamis memiliki kualitas bagus, kini pihaknya terus mendorong para petani untuk meningkatkan kemampuannya dalam menanam cabe. Selain itu, pihaknya pun tengah mendorong para petani cabe untuk memperluas lahan pertaniannya.

“Kami juga mendorong masyarakat di luar wilayah agropolitan untuk berbisnis pertanian cabe. Seperti di Panawangan, kami tengah mendorong masyarakat setempat untuk membuka lahan baru untuk lahan pertanian cabe,” ujarnya.

Kustini mengatakan, karena modal untuk bertani cabe sangat besar, maka pihaknya belum mampu memberikan bantuan secara penuh. Pihaknya, hanya bisa memberikan bantuan stimulan sebagai bentuk rangsangan agar petani semangat dalam berbisnis cabe.

“Untuk bantuan, memang kami belum bisa secara penuh membantu. Tetapi, kalau pendampingan dan penyuluhan, kami sudah menyiapkan sejumlah petugas untuk mengarahkan agar petani bisa menaman cabe dengan baik,” ujarnya.

Menurut Kustini, dari hasil penelitian, bagusnya kualitas cabe yang ditanam di wilayah agropolitan lebih didukung dari faktor alam. Pasalnya, ketinggian di wilayah agropolitan Ciamis sangat cocok untuk menamam cabe.

“Jadi, ketinggian di wilayah agropolitan tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Memang biasanya cabe yang kualitasnya bagus banyak ditanam di dataran tinggi atau wilayah pegunungan. Tetapi, di dataran sedang pun ternyata lebih bagus lagi,” pungkasnya. (Bgj/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!