Meski di Daerah Terpencil, MI Bantarsari Banjar Mampu Cetak Siswa Berprestasi

25/11/2016 2 Comments
Meski di Daerah Terpencil, MI Bantarsari Banjar Mampu Cetak Siswa Berprestasi

Kepala MI Bantasari, Dusun Cikapundung, Desa Neglasari, Kecamatan Banjar, Kota Banjar, berphoto bersama siswanya yang berhasil meraih prestasi di bidang akademik. Photo: Eva/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Selama 71 tahun, tepatnya tanggal 25 November 2016 nanti, Indonesia memperingati HUT PGRI sekaligus Hari Guru Nasional. Seiring perjalanan waktu tersebut, pendidikan di Indonesia mengalami berbagai transformasi, mulai dari hal ketersediaan infrastuktur, kurikulum, hingga kecukupan dan kualitas tenaga para guru sebagai garda terdepan pendidikan.

Hanya saja di berbagai daerah, perubahan itu belum tentu bisa dinikmati oleh para murid. Bahkan, di tingkat sekolah dasar sekalipun. Salah satunya murid-murid di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Bantarsari, Dusun Cikapundung, RT.36, RW.18, Desa Neglasari, yang merupakan daerah pelosok di wilayah Kota Banjar.

Di tengah segala kesederhanaan dan kekurangan, mereka tetap semangat menuntut ilmu. Untungnya masih ada guru-guru yang setia mengajar, meskipun honor yang mereka terima sebagai guru sukarelawan (sukwan) sangatlah jauh dari kata cukup, ditambah pula tempat mereka mengabdi jauh dari kenyamanan.

Meski sekolah tersebut berada jauh dari keramaian dan kondisi sekolahnya pun sangat sederhana, namun murid-murid di MI Bantasari yang jumlah total dari kelas 1-6 hanya 34 orang, tetap mampu menorehkan prestasi di tingkat kota dan provinsi.

Saat ditemui Koran HR, Sabtu (19/11/2016) lalu, Kepala MI Bantarsari, Muhammad Nurjamil, S.Pd.I., mengatakan, sekolah yang didirikan Yayasan Darul Ikhlas Bantarsari sejak tahun 1968, kini masih mampu bertahan meski dengan segala keterbatasan sarana prasarana yang dimiliki.

Menurutnya, semua murid di MI Bantarsari merupakan warga yang berada di lingkungan setempat, yaitu Dusun Cikapundung, Desa Neglasari, dan 75 persennya berasal dari keluarga kurang mampu.

“Warga di sini rata-rata petani, jadi anak yang sekolah di sini banyak anak petani. Sekolah kami juga tidak memungut biaya. Untuk jumlah tenaga pendidik ada delapan berikut kepala sekolah, enam diantaranya sudah sarjana,” terang Nurjamil.

Lebih lanjut dia juga mengatakan, bahwa MI Bantarsari yang berdiri di atas tanah wakaf seluas 685,3375 meter persegi ini memiliki 4 ruang kelas, 1 ruang guru berikut ruang kepala sekolah, tata usaha, UKS, 3 jambar, dua diantaranya dalam kondisi rusak, dan gudang.

Selama kurun waktu dari tahun 2002-2016, sekolah tersebut mendapat beberapa kali bantuan dari pemerintah, diantaranya bantuan untuk rehab ringan pada tahun 2004 dari pemerintah provinsi sebesar Rp.20 juta, RKB 2 lokal tahun 2007 dari pemerintah kota sebesar Rp.225 juta, RKB 1 lokal Rp.94,5 juta, serta pembangunan pagar sekolah dari swadaya masyarakat tahun 2011 sebesar Rp.15 juta.

Namun, selama tahun pelajaran 2015-2016 tidak membuat apapun lantaran minimnya operasional sekolah yang diterima. Bahkan, keinginan untuk melakukan plesterisasi halaman sekolah sampai saat ini belum dapat diwujudkan.

“Kami baru akan mengajukan proposal kepada BAZ untuk mendapatkan bantuan tersebut. Itu atas petunjuk dari pihak Kementerian Agama Kota Banjar, mudah-mudahan direalisasikan. Karena memang bagi sekolah swasta sulit ketika ingin mendapatkan bantuan dari pemerintah sebab terbentur dengan aturan,” ujarnya.

Selama ini, biaya untuk operasional sekolah didapat dari BOS sebesar Rp.28.800.000 per tahun. Dana tersebut termasuk untuk membayar honor bulanan guru dan kepala sekolah. Honor yang diterima tenaga pendidik di MI Bantarsari jumlahnya bervariatif, dilihat berdasarkan lamanya bekerja.

“Ada yang per bulan menerima 400 ribu rupiah, itu untuk guru yang sudah mengabdi puluhan tahun di sekolah ini. Sedangkan yang baru beberapa tahun ada yang dapat 300 ribu rupiah, ada juga yang 250 ribu rupiah. Kalau kepala sekolah honor per bulannya 500 ribu rupiah,” tutur Nurjamil.

Dia juga menyebutkan, bahwa semua tenaga pengajar di MI Bantarsari berasal dari luar, diantaranya dari wilayah Desa Balokang, bahkan ada juga yang dari Doboku, Kelurahan Pataruman.

Meski jarak tempuh dari masing-masing tempat tinggal guru ke sekolah terbilang jauh, namun mereka tetap semangat mengabdikan dirinya untuk mencetak anak-anak di Dusun Cikapundung supaya bisa berprestasi dan mampu bersaing dengan murid-murid di sekolah lain yang memiliki sarana parasaran pendidikannya lengkap.

“MI Bantarsari merupakan sekolah yang berada di daerah terpencil, tapi tidak menutup kemungkinan dan kenyataan siswa dapat bersaing dengan sekolah yang berada di perkotaan. Terbukti siswa di sini juga mampu menjadi juara, baik itu olahraga atau pun akademiknya,” tandas Nurjamil.

Prestasi yang pernah diraih oleh anak-anak MI Bantasari selama tahun pelajaran 2015-2016 meliputi juara 1 Lomba Kompetensi Sains Madrasah (KSM) tingkat Kota Banjar, dan sebagai wakil Mapel IPA tingkat MI Kota Banjar ke tingkat provinsi. Kemudian, juara II tim sepakbola putra tingkat Gugus dan juara III Lomba Lari 100 meter tingkat kota (Aksioma).  

Murid-murid lulusan dari MI Bantarsari pun setiap tahunnya mampu melanjutkan ke sekolah-sekolah favorit di Kota Banjar, seperti SMPN 1, SMPN 3, SMPN 5 dan SMPN 6. Hal itu membuktikan bahwa lulusan dari sekolah di daerah terpencil pun bisa tetap berprestasi.

Untuk meningkatkan prestasi tersebut, lanjut Nurjamil, tentu perlu komitmen dari seluruh warga pendidikan, mulai dari kepala sekolah, dewan guru, tenaga pendidikan serta peran aktif dari seluruh stakeholder pendidikan di MI Bantarsari, Dusun Cikapundung.

Semua sumber daya manusia di MI Bantarsari perlu terus ditingkatkan kompetensinya. Baik kompetensi pedagodik, kompetensi profesional, maupun kompetensi sosial, sehingga pembelajaran akan berjalan lebih efektif dan berkualitas.

“Kami juga berharap kepada pemerintah kota supaya bisa membukakan kran atau ada celah lain untuk bisa membantu sarana prasarana atau bantuan lainnya, kami sangat berharap. Bila disentuh oleh bantuan-bantuan sosial, insya Alloh bisa lebih meningkatkan keterbatasan segala yang ada di MI Bantarsari,” kata Nurjamil. (Eva/Koran HR)

About author

Related articles

2 Comments

  1. Ryska Tyo November 25, at 08:08

    Sekolah bikin pintar, semakin pintar semakin berbahaya bagi negara : " jadi #birokrat dan negosiator terlatih yg ujungnya dalam pengakalan #budgeting pada pemasukan Kas negara & pengeluarannya " .............. Kenapa banyak organisasi ? Kenapa banyak partai ? Kenapa banyak ormas ? Kenapa banyak LSM ? Kenapa banyak banyak dan banyak ??

    Reply
  2. Jamil November 26, at 15:40

    Terima kasih banyak HR .... maju terus mnjadi harapan masyarakat.

    Reply

Leave a Reply