Syamsudin, S.Pd.I., S.Pd ; Moralitas Remaja Banjar Perlu Dibenahi

20/11/2016 0 Comments
Syamsudin, S.Pd.I., S.Pd ;  Moralitas Remaja Banjar Perlu Dibenahi

Syamsudin S.Pd.I., S.Pd. Photo: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Pembangunan infrastruktur di Kota Banjar memang tak dipungkiri perkembangannya begitu pesat sejak 13 tahun lalu. Namun, dari sektor Sumber Daya Manusia (SDM), masyarakat Banjar ternodai dengan adanya kasus memilukan yang berkaitan dengan kerusakan moral.

Menurut Syamsudin, S.Pd.I., S.Pd., salah seorang akademisi di Kota Banjar, mengatakan, untuk penyelenggaraan kepemerintahan dan pelayanan terhadap masyarakat, baik sektor sosial, pendidikan, ekonomi dan kesehatan, kondisi Banjar memang sudah lebih baik. Bahkan, kondusifitas di Kota Banjar bisa terjaga dengan baik pula.

“Tapi ada hal lain yang memang menjadi tanggung jawab bersama untuk membawa Banjar lebih baik lagi. Terlebih melihat fenomena sejumlah remaja Banjar saat ini kerap melakukan sesuatu yang memang sudah keluar dari konteks yang seharusnya, yakni moralitas semakin turun,” katanya, kepada Koran HR, Selasa (15/11/2016) lalu.

Berdasarlan pengamatan dari sektor pendidikan yang digalakan pemerintah pusat maupun daerah, lanjut Syamsudin, memang pemerintah selalu berupaya memberikan ruang sempit kepada remaja, khususnya pelajar agar tidak melakukan kegiatan negatif dengan pemberlakukan kurikulum 2013, yang mengharuskan siswa masuk sekolah pukul 07.00 WIB dan pulang pukul 15.00 WIB.

Meski begitu, Syamsudin justru merasa heran dengan adanya kalangan remaja atau pelajar yang menyalahgunakan obat batuk Komix untuk mabuk-mabukan. Bahkan, fenomena itu sudah merebak hingga merenggut keperawanan seorang pelajar yang dipaksa mabuk Komix lalu disetubuhi layaknya suami istri.

Atas fenomena tersebut, dia menilai bukan pemerintah saja yang harus memikirkan solusi agar kejadian seperti itu bisa diminimalisir. Namun peran pemuda, baik secara individu maupun kelompok melalui Karang Taruna maupun sejenisnya, bisa menjadi benteng moralitas remaja yang tengah mencari jati diri.

“Kalau di Karang Taruna kan lebih disegani oleh remaja maupun pemuda yang ada di wilayahnya masing-masing. Nah, itu bisa digunakan sebagai peluang untuk mengkontrol remaja-remaja yang kini semakin liar pergaulannya. Kalau ada yang kumpul-kumpul bisa dikontrol, apa yang mereka lakukan. Orang tua tidak bisa maksimal mengontrol pergaulan anak-anak zaman sekarang, dan peran guru hanya di wilayah sekolah saja,” jelasnya.

Dari sisi agama, kata Syamsudin, para pendakwah sekarang bukan hanya saja bisa menyampaikan ajaran kebaikan kepada remaja maupun pemuda, apalagi menggunakan cara-cara lama seperti metode ceramah yang kini kurang diminati kalangan remaja. Tapi perlu pula adanya metode khusus yang bisa digunakan agar dapat mengontrol moral remaja lebih menyentuh.

Seperti halnya di pesantren, di mana budaya santri yang lebih muda diarahkan oleh yang lebih tua, dan hal itu selalu dilakukan secara terus menerus. Maka di situlah celah yang harus dijadikan contoh menghadapi kebobrokan moral remaja saat ini.

“Kemudian, Karang Taruna juga diberdayakan, serta organisasi kepemudaan lebih didorong untuk pembenahan moral. Saya yakin dengan hal tersebut Kota Banjar tidak hanya bagus dari sisi fisiknya saja, namun moralnya juga bisa bagus,” pungkas Syamsudin. (Muhafid/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!