Pertamini Semakin Booming di Banjar, Pengusaha Akui Tak Menempuh Izin

17/12/2016 0 Comments
Pertamini Semakin Booming di Banjar, Pengusaha Akui Tak Menempuh Izin

Photo: Ilustrasi net/Ist

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Usaha penjualan bahan bakar minyak (BBM) eceran dengan label Pertamini semakin booming di tengah masyarakat Kota Banjar. Terbukti, kini keberadaannya dapat dengan mudah dijumpai hingga ke pelosok wilayah pedesaan. Namun, sampai saat ini perizinan usaha tersebut masih belum jelas. Termasuk untuk takaran dan uji metrologinya.

Seperti diakui Javed, salah seorang pemilik usaha Pertamini yang ada di Jalan Raya Banjar-Langensari, tepatnya di wilayah Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, bahwa penjualan BBM eceran dengan menggunakan mesin yang dijalankannya itu tak menempuh izin apapun.

“Saya tidak memiliki izin apapun terkait usaha ini. Termasuk lapor ke desa pun saya tidak. Mau izin seperti apa, lha wong yang dijual bukan BBM subsidi. Ini kan sama saja dengan jualan bensin eceran,” tuturnya, kepada Koran HR, Minggu (11/12/2016) lalu.

Dia juga mengaku berani membuka usaha Pertamini karena hanya menjual Pertalite dan Pertamax. Kedua jenis BBM ini tidak termasuk yang bersubsidi. Menurut Javed, dirinya membuka usaha Pertamini untuk mempermudah pelayanan ke masyarakat yang membutuhkan BBM eceran. Terutama bagi warga yang kehabisan bensin di tengah jalan.

Meski diakuinya bahwa usaha tersebut memang sangat menjanjikan, dan termasuk terobosan bagi yang berijiwa wirausaha. Dalam sehari omzet penjualannya rata-rata tak kurang dari Rp.1 juta.

Javed mengklaim setiap harinya hanya habis 100 liter, masing-masing 50 liter Pertalite dan 50 liter Pertamax. Kemudian, BBM tersebut dimasukan dalam dua buah drum penyimpanan yang ditutupi pasangan tembok.

“Untuk segi keamanan penyimpanan BBM, ya saling menjagalah. Tidak semena-mena saya harus bertanggung jawab kalau terjadi kebakaran kalau itu diakibatkan kelalaian atau kesengajaan seorang pembeli membuang puntung rokok sembarangan di area Pertamini. Beda halnya jika kelalaian petugas penjaga sendiri, baru kita yang tanggung jawab,” tuturnya.

Disinggung soal takaran, dia menegaskan, hal itu sesuai ukuran liter semestinya. Artinya tidak melakukan penyimpangan. Sedangkan mengenai uji metrologi, dirinya mengaku tidak mengetahuinya secara pasti.

“Sepengetahuan saya belum ada dari pemerintah kota yang datang ke sini. Apabila harus ada perizinan, ya sekalian saja kami diberi pembinaan oleh intansi terkait. Insya Alah saya akan mengikutinya,” kata Javed.

Selain membuka usaha Pertamini di depan rumahnya, dia juga mengaku sebagai agen penjual peralatan mesin Pertamini. Agen yang dinamai Patroman Mandiri itu menyediakan mesin Pertamini mulai dari harga Rp.10 juta sampai Rp.30 juta. Tergantung besar kecilnya ukuran mesin.

“Bahan bakunya, termasuk komponen mesin ukurnya saya beli dari luar kota. Selanjutnya, saya rangkai atau buat sendiri di sini. Bila berminat, bisa juga dikerjasamakan usahanya. Jadi, alatnya dari saya, lahan tanahnya oleh pihak yang berminat,” terang Javed, yang juga mengaku mantan teknisi di SPBU.

Meski demikian, namun Javed sendiri tak menyebutkan dari siapa dan dari mana peralatan mesin Pertamini yang dibelinya di luar kota itu. (Nanks/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!