Sepanjang Tahun 2016, Angka Perkara di PA Ciamis Meningkat 1,4 Persen

10/01/2017 0 Comments
Sepanjang Tahun 2016, Angka Perkara di PA Ciamis Meningkat 1,4 Persen

Pengadilan Agama Ciamis. Photo: net/Ist

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, melansir angka penganganan kasus / perkara sepanjang tahun 2016 mengalami di dua kabupaten, meliputi Ciamis dan Pangandaran, mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

Humas PA Kabupaten Ciamis, Ahmad Sanusi, ketika ditemui Koran HR, Selasa (03/01/2017) lalu, membenarkan peningkatan penanganan kasus atau perkara tersebut. Menurut dia, peningkatan kasus atau perkara mencapai 1,4 persen.  

“Persentase itu merupakan total keseluruhan dari berbagai kasus yang terjadi di dua kabupaten. Pada tahun 2015 lalu mencapai 4.667 perkara dan untuk tahun 2016 mencapai 4.967 perkara. Sudah jelas terlihat angka kenaikannya,” katanya.

Ahmad Sanusi juga menjelaskan soal angka perceraian di tahun-tahun sebelumnya. Menurut dia, pada tahun 2015, angka perceraian mencapai 4.955 kasus dan di tahun 2016 mencapai 4.955 kasus.

“Semua data tersebut termasuk juga Pangandaran. Dikarenakan Pangandaran belum ada klarifikasi, kantornya juga masih di Ciamis,” katanya.

Kepada Koran HR, Ahmad Sanusi menyebutkan, pihaknya belum memiliki data akurat soal masyarakat yang berstatus janda ataupun duda. Karena mayoritas masyarakat yang selesai melakukan proses persidangan melangsungkan pernikahan dengan pasanga baru.

“Ya, kebanyakan seperti itu. Mereka langsung melaksanakan pernikahan. Sebenarnya data status janda dan duda itu di Departemen Agama. Kami belum bisa memprediksi dan sangat sulit diprediksi jumlah tersebut,” ungkapnya.

Ahmad Sanusi mengungkapkan, 80 persen kasus perceraian banyak disebabkan oleh faktor ekonomi. Angka ini banyak didominasi oleh kaum buruh serabutan yang mencapai 60 persen. Tidak memungkiri, banyak hal yang terjadi dalam keretakan rumah tangga, diantaranya adanya selisih tempat tinggal, poligami tidak sehat, tingkat pengangguran tinggi maupun yang mengalami kecacatan.

“Dalam persidangan, kami juga berusaha agar rumah tangga mereka tidak bercerai. Tentunya dalam persidangan tidak berjalan dengan waktu yang singkat, ada juga sampai berbulan-bulan lamanya,” jelasnya.

Dalam kategori usia, sambung Ahmad Sanusi, terbesar didominasi oleh usia 20 sampai dengan 30 tahun mencapai 80 persen. Disusul oleh usia 30 sampai dengan 40 tahun mencapai 15 persen.

“Angka perceraian di dua kabupaten tersebut sangat didominasi umur 20-30 tahun. Kebanyakan faktor ekonomi semuanya. Tetapi ada juga perceraian menginjak umur 40 tahun ke atas sebesar 15 persen. Itu semua berdasarkan sample yang telah ditangani pihak kami,” ucapnya.

Ahmad Sanusi menambahkan, secara geografis kasus perceraian pada tahun 2016 di Kabupaten Ciamis diantaranya didominasi wilayah Kecamatan Ciamis, Cisaga dan Banjarsari. Sedangkan untuk Kabupaten Pangandaran, diantarnaya Kecamatan Pangandaran, Parigi dan Cijulang.

“Berdasarkan data yang ada kecamatan itulah yang paling banyak angka perceraiannya. Tetapi berbeda dengan perceraian dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS), tahun 2016 ini dari kalangan PNS ada penurunan dari tahun sebelumnya,” pungkasnya. (Tantan/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply