Dua Dusun Langganan Banjir Luput Perhatian Pemkot Banjar

01/03/2017 0 Comments
Dua Dusun Langganan Banjir Luput Perhatian Pemkot Banjar

Luapan air dari sungai yang berada di perbatasan Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari dan Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, membanjiri jalan dan sejumlah rumah warga. Photo: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Kondisi cuaca yang masih buruk di sejumlah daerah, terlebih intensitas hujan cukup tinggi, mengakibatkan beberapa titik terkena dampak banjir, khususnya di sekitar perbatasan antara Dusun Citangkolo, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, dan Dusun Margaluyu, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, yang memang berbatasan dengan sebuah sungai.

Akibat luapan dari aliran sungai yang menjadi pembuangan saluran air di sekitarnya, ditambah intensitas air dari pegunungan sangat tinggi, sehingga banjir kerap menjadi pemandangan biasa bagi warga sekitar saat hujan lebat dengan waktu yang cukup lama.

Edin, salah seorang warga Citangkolo, menuturkan, kejadian banjir di wilayahnya memang sudah menjadi hal yang biasa dialami warga sekitar. Meski tidak begitu parah hingga masuk ke dalam rumah, namun banjir yang terus-menerus membuat warga semakin geram.

“Pasti kalau hujan air sungai meluap hingga membanjiri halaman puluhan rumah, bahkan bisa mencapai ratusan rumah yang berada di sekitar sungai. Meski tidak berlangsung lama, tapi kondisi seperti ini perlu menjadi pemikiran bersama agar dipecahkan masalahnya,” tegas Edin, kepada Koran HR, Senin (27/02/2017) lalu.

Menurutnya, kiriman air yang berasal dari Gunung Sangkur sangat tinggi, ditambah kedalaman sungai cukup dangkal membuat kejadian banjir menjadi hal yang biasa menimpa warga sekitar sungai. Alhasil, warga sekitar yang kebanyakan berprofesi sebagai pembuat bata merah maupun yang memiliki tanaman di halaman rumah menjadi rusak gara-gara banjir sesaat.

“Kami harap pemerintah bisa mencarikan solusi atas kejadian ini, baik dari pembenahan saluran air maupun maksimalisasi sungai yang kondisinya selalu tidak kuat menampung kiriman air dari gunung,” kata Edin.

Hal senada juga diungkapkan Mujianto, warga setempat. Menurutnya, luapan air sungai bukan hanya menerjang rumah penduduk yang berada di sekitaran sungai, akan tetapi hampir menerjang semua rumah yang berada di antara sungai dan Jalan Raya Citangkolo menuju Batulawang, yang dilintasi sungai tersebut.

“Memang wilayah sini selalu luput dari perhatian pemerintah, apalagi kalau kejadiannya banjir sepeti saat ini. Karena banjirnya sesaat sehingga dianggapnya biasa saja, jadi warga sekitar hanya bisa pasrah menerima apa adanya,” ungkapnya.

Padahal, lanjut Mujianto, solusi yang cukup tepat adalah dengan pengaktifan kembali saluran-saluran air yang masuk ke pemukiman warga. Sedangkan untuk sungai pembuangannya, ia berharap agar dilakukan pengerukan.

Dari pihak BBWS maupun penjaga pintu air juga diharapkan bisa melakukan penutupan saat hujan besar terjadi. Hal tersebut agar air kiriman yang berasal dari Sungai Citanduy bisa ditahan sementara waktu.

Menurut Mujianto, untuk penanganan air yang berasal dari pegunungan, penjaga pintu harus siap membuka pintu air supaya air yang ada tidak berkumpul dan meluap gara-gara pintunya tertutup.

Dirinya berharap, karena kondisi air dari pegunungan cukup tinggi, setidaknya tanaman-tanaman yang berada di pegunungan tidak ditebang guna menjadi penyerap air hujan yang turun ke pegunungan. Karena kondisi pohon di Gunung Sangkur saat ini cukup banyak yang di tebang, ia menyarankan agar penanaman pohon terus dilakukan.

“Jangan sampai sudah ditanam terus ditebang lagi. Kalau siklusnya seperti itu, niscaya banjir terus saja membayangi warga yang berada di lereng gunung,” tandasnya. (Muhafid/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!