Fosil Manusia Purba di Goa Sutrareregan Pangandaran Disebut Temuan Langka

21/03/2017 0 Comments
Fosil Manusia Purba di Goa Sutrareregan Pangandaran Disebut Temuan Langka

Fosil gigi gajah purba yang ditemukan di Goa Peteng, atau di kawasan Objek Wisata Goa Sutrareregan, tepatnya di Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (12/03/2017).  Foto: Asep Kartiwa/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Temuan fosil manusia purba di kawasan Objek Wisata Goa Sutrareregan, tepatnya di Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, tampaknya menggemparkan dunia cagar budaya di Indonesia. Pasalnya, goa yang menunjukkan eksistensi manusia purba ini, kini cukup langka ditemukan. Penemuan terakhir mengenai fosil serupa ditemukan di  Goa Pawon, Bandung Barat.

Hasil penelitian yang dilakukan Tim peneliti dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten, di Goa Sutrareregan, Goa Panggung, dan Goa Peteng, pekan lalu, ditemukan beberapa benda yang diduga memiliki periodisasi sekitar 10.000 tahun sebelum masehi (zaman mesolitikum).

“Beberapa benda yang menunjukkan eksistensi manusia purba di area tersebut, diantaranya gerabah purba, gigi gajah purba, dan tulang vertebrata. Selain itu, ditemukan pula parkakas berburu manusia purba yang terbuat dari batu rijang. Penemuan tersebut setelah dilakukan kajian permukaan tanah di sekitar goa,” kata Ketua Tim Peneliti dari Balai Konservasi Cagar Budaya Banten, Soni Prasetya Wibawa, kepada Koran HR, Selasa (14/03/2017) lalu.

Sementara itu, Goa Sutrareregan terdapat di dasar lembah dari sebuah bukit yang terdapat di Desa Selasari, Kecamatan Parigi. Letak lokasi berada di samping kanan ke arah Kecamatan Langkaplancar dari Desa Selasari. Goa tersebut memiliki ketinggian sekitar 20 meter, panjang 100 meter dan lebar 9 meter. Di dalam goa terdapat relief alam yang terbentuk dari stalagtit dan stalamit.

Pada bagian depan goa terdapat sungai kecil yang mengalir dari selatan ke utara. Diduga, sungai tersebut merupakan tempat mengambil air manusia purba yang menetap di sekitar goa.

Sedangkan pada bagian ujung goa merupakan semak-semak yang ditumbuhi beberapa tanaman rimba. Selain itu, pada ujung goa terdapat jalan yang mengarah ke goa lainnya, yaitu Goa Panggung.

Sedangkan Goa Panggung lokasinya setelah pintu keluar dari Goa Sutrareregan. Kira-kira berjarak 20 meter dari pintu keluar Goa Sutrareregan, terdapat mulut Goa Panggung. Goa Panggung, memiliki ketinggian sekitar 15 meter, panjang 100 meter dan lebar 12 meter. Karakteristik khas dari Goa Panggung terdapat hamparan batu yanag menyerupai “panggung pertunjukkan” terbentuk dari stalagtit dan stalamit.

Ciri lain dari Goa Panggung, dinding bebatuan pada goa Panggung sangat keras. Kekerasannya menyerupai batu rijang yang biasa digunakan untuk membuat perkakas manusia purba.

Goa Peteng lokasinya setelah pintu keluar dari Goa Panggung. Kira-kira berjarak 50 meter dari pintu keluar Panggung, terdapat mulut Goa Peteng. Goa Peteng, memiliki ketinggian sekitar 15 meter, panjang 100 meter dan lebar 12 meter. Karakteristik khas dari Goa Panggung terdapat aliran sungai yang masuk ke dalam goa. Ciri lain dari Goa Peteng, terdapat semacam tempat tinggal (kamar) untuk beristirahat manusia purba.

Adanya temuan ini tentunya sangat mengejutkan. Pasalnya, di lokasi goa yang sebelumnya jarang di jamaah manusia ini, ternyata ditemukan jejak kehidupan manusia purba. Terlebih, ketika ditemukan serpihan gerabah atau alat pertanian di Goa Panggung. Temuan itu menunjukan bahwa manusia purba yang mendiami gua tersebut sudah mengenal pertanian.

Sementara terkait asal muasal gigi gajah purba yang ditemukan di Goa Petang, masih dalam penelitian. Karena meski ditemukan gigi gajah purba, tidak serta merta bahwa di lokasi itu dulunya terdapat populasi gajah. Bisa saja gigi gajah purba itu merupakan benda koleksi manusia purba. Konon, gigi gajah kerap dijadikan azimat atau benda pusaka oleh manusia zaman dulu.

Soni mengatakan, setelah melakukan penelitian, pihaknya menyimpulkan bahwa sejumlah fosil yang ditemukan di Gua Panggung dan Goa Petang diduga peninggalan manusia purba pada di zaman mesolitikum.

Dugaan itu didasari dari ciri-ciri manusia purba pada mesolotikum, dimana mereka memilih hidup di kawasan pantai dan goa-goa. Manusia zaman ini pun sudah mengenal pertanian dengan cara sederhana serta berburu. Makanya, di gua ini ditemukan parkakas berburu manusia purba yang terbuat dari batu rijang.

Soni mengungkapkan, selain keindahan alam serta uniknya bebatuan stalagtit dan stalagmit di kawasan Goa Sutrareragen yang berpotensi besar sebagai destinasi wisata unggulan, juga lokasi itu harus ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya untuk kepentingan penelitian.

“Artinya, kawasan goa ini merupakan aset wisata yang sangat luar biasa. Selain untuk wisata rekreasi, juga bisa untuk penelitian sejarah kepurbakalaan,” ujarnya.

Soni pun berpesan kepada Kompepar Sutrareregan sebagai pengelola kawasan tersebut agar membantu menjaga keutuhan alam agar jangan sampai dirusak. (Askar/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!