Gula Kelapa Berpengawet, KTNA Pangandaran Desak Pemkab Uji Laboratorium

15/04/2017 0 Comments
Gula Kelapa Berpengawet, KTNA Pangandaran Desak Pemkab Uji Laboratorium

Obat campuran gula kelapa yang kerap digunakan petani gula. Photo: Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com)-

Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pangandaran merasa prihatin dengan adanya penggunaan obat pengawet pada bahan baku pembuatan gula merah di Kabupaten Pangandaran yang dinilai berlebihan. Sehingga, mulai dari warna serta rasa gula merah pun mengalami perubahan cukup drastis dan percampuran obat tersebut sangat mudah ditemukan di semua pengrajin gula di Pangandaran.

Warino, Ketua KTNA Pangandaran, mengungkapkan, petani gula kelapa di Pangandaran hampir semuanya mencampurkan bahan atau obat pengawet yang dikenal Food Grade Sodiummeta-Bisulphite SO2 65% MIN dengan gula yang diproduksi. Karena khawatir dengan bahaya yang mengintai saat digunakan secara berlebihan, ia berharap bahan tersebut dibatasi dan para petani dialihkan dengan penggunaan bahan organic seperti ekstrak kulit manggis maupun tatal kayu pohon nangka.

“Kalau dalam volume tertentu masih wajar. Tetapi kalau berlebihan dan takarannya banyak akan berbahaya. Hal ini terlihat dari perubahan warna dan rasanya yang keasin-asinan serta gulanya semakin keras,” jelas Warino kepada Koran HR, Selasa (11/4/2017) lalu.

Jika pembuatan gula tidak mungkin dapat dilakukan tanpa pengawet, lanjut Warino, maka solusinya adalah beralih ke penggunaan bahan laru organik seperti zaman dahulu.

“Jika hanya sebatas adanya himbauan atau pun petunjuk kesehatan penggunaan obat tersebut, apakah dinas terkait mau menjamin dan mentaatinya?,” tegas Warino.

Ia menyarankan, pemerintah bisa segera melakukan uji coba menggunakan ekstrak manggis yang memang bahannya mudah ditemui di Pangandaran. Jikalau hasil uji coba tersebut berhasil, maka bisa diproduksi secara massal dan itu bisa menjadi jaminan.

“Sampai saat ini respon dinas terkait tidak ada walau obat tersebut membahayakan. Kami juga pernah komunikasi dengan salah satu bandar besar, namun hasilnya juga sama. Maka dari itu kami mendesak agar ada upaya bagaimana mengatasinya. Kalau seperti ini kan miris, masyarakat yang selalu menjadi korban,” pungkasnya. (Mad/R6/HR-Online)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!