Begini Fakta Sejarah Nama Galuh dan Ciamis Menurut Jubir “Galuh Sadulur”

04/05/2017 1 Comment
Begini Fakta Sejarah Nama Galuh dan Ciamis Menurut Jubir “Galuh Sadulur”

Perwakilan kabuyutan, nonoman, keturunan kerajaan dan keadipatian galuh mendeklarasikan diri dalam sebuah wadah yang bernama “Galuh Sadulur”, di bilangan Museum Galuh Pakuan Ciamis, beberapa waktu lalu. Photo : Deni Supendi/ HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Mengulas soal fakta sejarah mengenai nama Ciamis dan Galuh, Juru Bicara Galuh Sadulur, R. Hanif Radinal, mengatakan, pada tanggal 12 Juni 2017 nanti Kabupaten Ciamis genap berusia 375 tahun. Merujuk pada sejarah, penetapan hari jadi Ciamis bertepatan dengan peristiwa perpindahan Galuh Pakuan dari Calingcing ke Barunay.

“Bukan dari Garatengah di Cineam ke Barunay, sebagaimana yang sering dilangsir selama ini. Dalam perjalanannya, sebagai penghormatan kepada Adipati Imbanagara, Barunay kemudian diubah namanya menjadi Imbanagara,” katanya, kepada HR Online, Rabu (03/05/2017).

[Berita Terkait: “Galuh Sadulur” Temui DPRD, Bahas Tindaklanjut Pengembalian Ciamis menjadi Galuh]

Lebih lanjut, Hanif menjelaskan, penetapan hari jadi Kabupaten Ciamis kontradiksi dengan fakta sejarah yang ada. Pasalnya, pada tahun 1916 Kabupaten Ciamis sudah berdiri menggantikan Kabupaten Galuh. Tepatnya satu tahun setelah Kabupaten Galuh dikeluarkan dari karesidenan Cirebon dan digabungkan kedalam karesidenan Priangan Timur yang beribukota di Tasikmalaya.

“Adapun pergantian nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis terjadi pada masa Bupati Raden Tumenggung Sastrawinata (1914-1935) M. Mengacu pada paparan tersebut, kita dapati kerancuan yang dapat berakibat kepada kebingungan generasi muda saat mempelajari sejarah Kabupaten Ciamis,” katanya.

[Berita Terkait: DPRD Respons Usulan Pengembalian Nama Kabupaten Ciamis Menjadi Galuh]

Bisa dibayangkan, kata Hanif, bagaimana seorang guru atau dosen sejarah menjelaskan perihal Hari Jadi Kabupaten Ciamis kepada siswa atau mahasiswa. Sementara kata Ciamis saja pada tanggal 12 Juni 1642 M, belum ada. Terlebih, daerah yang saat ini disebut sebagai Kelurahan Ciamis pada tanggal 12 Juni 1642 M masih menyandang nama Cibatu.

Selanjutnya, Hanif menyebutkan, masih merujuk pada fakta sejarah lainnya mengenai penetapan hari jadi Kabupaten Ciamis (12 Juni 1642). Kata Ciamis adalah jenis kata Uniqum, yaitu sebuah kata tunggal yang tidak akan ditemui di tempat lainnya di Tatar Sunda (Jabar dan Banten). Pasalnya, Ciamis mengacu pada suatu tempat dimana Galuh berada. Lebih spesifik lagi adalah tempat dimana terjadinya Tragedi Galuh.

“Ciamis jika kita urai terdiri dari dua kata, Ci dan Amis. Ci berasal dari kata ciri atau cere yang berarti tanda. Amis pada kontek lahirnya kata ini berkaitan dengan sebuah peristiwa tragedi atau sering disebut Bedah Ciancang. Dimana kata amis terucap dari selorohan pejabat Mataram saat kunjungannya ke pusat pemerintahan Galuh. Saat itu para pejabat Mataram mencium bau amis darah,” katanya.

Adapun kunjungan pejabat Mataram tersebut dilakukan pasca penyerangan kedua pasukan wetan ke Galuh (Ciancang) pada tahun 1739 M. Jadi kata amis disini bukan idiom Sunda yang berarti manis, tetapi kata amis dalam idiom Jawa (Mataram) yang berarti anyir (hanyir).

[Berita Terkait: Jubir Galuh Sedulur Nilai Penetapan Hari Jadi Ciamis Tidak Argumentatif]

Dengan demikian, Hanif menambahkan, historiografi Galuh dengan hari jadi Kabupaten Ciamis ternyata tidak ada korelasinya. Faktanya pada tanggal 12 Juni 1642 M adalah perpindahan pusat pemerintahan Galuh. Dan munculnya kata Ciamis baru sesudahnya, yaitu pasca penyerangan pasukan wetan yang kedua ke pusat pemerintahan Galuh di Ciancang.

“Dengan fakta ini dapat disimpulkan bahwa tim yang menetapkan Hari Jadi Kabupaten Ciamis terjebak dalam ketidaktelitian, ketergesa-gesaan dan pemaksaan kehendak dengan tidak mempertimbangkan fakta sejarah yang ada. Sehingga, penetapan tanggal 12 Juni 1642 M sebagai hari jadi Kabupaten Ciamis adalah ahistoris. Argumentasinya hanya sebuah apologia (pembenaran) semata dan sangat nampak dipaksakan serta dihubung-hubungkan dengan fakta sejarah Galuh,” katanya.

Sebelumnya, para kabuyutan, nonoman, seniman, budayawan dan keturunan Kerajaan Galuh yang tergabung dalam “Galuh Sadulur” menggelar pertemuan (audiensi) dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ciamis, Rabu (03/05/2017). Pertemuan itu membahas soal usulan pengembalian nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh.  (Deni/Koran HR)

About author

Related articles

1 Comment

  1. Basuki August 15, at 11:30

    Sareng hormat, Ciamis mengacu pada suatu tempat dimana Galuh berada. Lebih spesifik lagi adalah tempat dimana terjadinya Tragedi Galuh. Tragedi Galuh? Cing mangga seratkeun nu langkung panjang lebar tina hal Tragedi Galuh. Numawina keukeuh paralay ngagents nami Ciamis ku nami Galuh teh, tangtos aya kakuatan historis. Upami leres teh cing mangga serat dan tangtos reueus upami aya heroik historisna. Ari henteu diterangkeun maha, kumaha bade paham sareng meresapna kana hate. Adapun kunjungan pejabat Mataram tersebut dilakukan pasca penyerangan kedua pasukan wetan ke Galuh (Ciancang) pada tahun 1739 M. Jadi kata amis disini bukan idiom Sunda yang berarti manis, tetapi kata amis dalam idiom Jawa (Mataram) yang berarti anyir (hanyir). Naha penyerangan dugi ka dua kali?. Pasukan Wetan? Naha kedah ku pasukan?. TEu tiasa kitu ku diplomasi? Henteu nagge kakuatan prajurit atanapi pakarang, bari ngabunuh nu keur ayem tengtrem?. Dan munculnya kata Ciamis baru sesudahnya, yaitu pasca penyerangan pasukan wetan yang kedua ke pusat pemerintahan Galuh di Ciancang. Kedahna mah para hli sajarah atanapi para Pencinta Galuh, ngadamel buku khusus tentang Pusat Pemerintahan Galuh di Ciancang. Sasieureun sabeunyeureun sugan aya metode atanapa elmu karuhun anu tiasa dianggo ku jaman ayeuna tina hal pemerintahan.

    Reply

Leave a Reply