Buruh di Banjar Gelar Malam Renungan Menolak Lupa Marsinah

11/05/2017 0 Comments
Buruh di Banjar Gelar Malam Renungan Menolak Lupa Marsinah

Para buruh di Kota Banjar yang tergabung dalam Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), menggelar acara “Doa Bersama dan Malam Renungan Menolak Lupa Marsinah,” bertempat di Taman Kota Lapangan Bhakti Banjar, pada Senin (08/05/2017) malam lalu. Photo: Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Dalam rangka mengenang kematian Marsinah, pejuang buruh di Indonesia, puluhan buruh di Kota Banjar dari Serikat Buruh Banjar Distribusindo Raya (SBBDR), Serikat Buruh Panjunan (SBPJN) dan Serikat Buruh Albasi Priangan Lestari (SBAPL) yang tergabung dalam Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), menggelar acara “Doa Bersama dan Malam Renungan Menolak Lupa Marsinah,” bertempat di Taman Kota Lapangan Bhakti Banjar, pada Senin (08/05/2017) malam lalu.

Acara yang digelar serentak itu digelar oleh seluruh serikat buruh se-Indonesia yang berafiliasi ke KASBI ini biasa dilaksanakan setiap tahunnya. Do’a bersama yang dimulai pukul 20.00 WIB itu terasa sangat menyentuh bagi kaum buruh, khususnya buruh di Kota Banjar yang hadir pada acara tersebut.

“Perjuangan Marsinah memang perlu kita apresiasi serta semangat juangnya perlu kita tanamkan demi merebut hak-hak sebagai buruh, serta memperoleh kesejahteraan,” ujar Sekretaris SBAPL, Irwan Herwanto.

Lebih lanjut Irwan mengatakan, Marsinah meninggal dunia pada tanggal 8 Mei 1993. Mengingat perjuangan dari Marsinah yang menentang antek-antek pengusaha orde baru saat itu dalam menuntut kenaikan upah, hingga berujung pada kematiannya, maka hendaknya menjadi semangat kaum buruh di Indonesia, khususnya buruh di Kota Banjar untuk tidak lelah berjuang menuntut apa yang telah menjadi hak-nya.

Jangan sampai matinya Marsinah menjadi sia-sia, dan perjuangannya terlupakan begitu saja. Perlawanannya harus tetap hidup dalam setiap langkah kaum buruh yang masih berjuang sampai hari ini.

“Bagi kaum buruh Indonesia, jadikan semangat Marsinah sebagai potret pejuang bagi kaum buruh saat ini. Ingatan rakyat Indonesia terhadap Marsinah tak akan pernah hilang. Tepat pada hari Senin 8 Mei, kematian Marsinah telah menyalakan obor perjuangan kaum buruh Indonesia, khususnya buruh perempuan,” tandasnya.

Marsinah pun diberi penghormatan yang setinggi-tingginya terhadap apa yang telah ia abdikan atas nama buruh yang ditindas. Begitu pula dengan kasus yang terjadi di Kota Banjar, yakni diliburkannya 1.700 karyawan PT. Albasi Priangan Lestari yang sampai saat ini masih belum ada kejelasan perihal hak upah selama diliburkan. Bahkan, menurut Irwan, hingga sekarang belum ada pemanggilan kerja kembali terhadap sebagian karyawan.

“Selain itu, hak upah bagi buruh perempuan yang cuti melahirkan, serta permasalahan status kerja yang telah bertahun-tahun hingga sampai saat ini PT. APL menyerahkan hampir seluruh pelaksanaan pekerjaan melalui perjanjian pemborongan pekerjaan kepada CV. Sinar Baru yang sudah jelas menyalahi aturan perundang-undangan ketenagakerjaan,” tuturnya.

Padahal, kata Irwan, Nota Pemeriksaan terkait permasalahan status kerja dan hak upah bagi buruh perempuan yang cuti melahirkan, sudah diterbitkan oleh Balai Pelayanan dan Pengawasan Ketenagakerjaan (BPPK) Wilayah IV. Namun, sampai saat ini perusahaan masih belum melaksanakan hasil pemeriksaan tersebut.

Belum lagi permasalahan lain yang terjadi di beberapa perusahaan di Kota Banjar, seperti halnya hak-hak normatif karyawan yang tidak dipenuhi, jam kerja yang tidak sesuai aturan UU Ketenagakerjaan, serta permasalahan yang hampir serupa dengan permasalahan di PT. APL juga banyak terjadi di beberapa perusahaan di Kota Banjar.

Di samping itu pula, diskriminasi atau intimidasi terhadap aktivis buruh pun semakin gencar. Bahkan, menurut Irwan, pihaknya merasa miris ketika sebagian buruh ataupun serikat buruh yang harusnya memperjuangkan hak serta kesejahteraan kaum buruh, ternyata malah berkamuflase dan berdampingan dengan pihak pemodal, serta seolah menghalangi pergerakan buruh yang melawan.

“Sudah saatnya buruh sadar, bangkit, bertindak, dan mendesak kepada pemerintah, mengambil sikap tegas atas apa yang sudah dilakukan pemerintah yang masih lalai dan tidak memperhatikan kaum buruh sebagai rakyat. Juga bersikap tegas kepada para pengusaha nakal yang melakukan tekanan, intimidasi, represif, pemberangusan serikat buruh, serta penangguhan upah,” tandasnya.

Selain para buruh, acara tersebut juga dihadiri oleh kalangan anak-anak punk yang ada di Kota Banjar. Mereka turut mengenang pejuang buruh Marsinah, serta ikut memeriahkan acara dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan buruh dan rakyat. (Hermanto/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!