Kebangkitan Nasional Titik Awal Gerakan Indonesia Membantu

Kebangkitan Nasional Titik Awal Gerakan Indonesia Membantu

Oleh : Agus Supriyadi

(Inisiator Gerakan Indonesia Membantu/Phd Candidate Nanjing Normal University China)

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah mencatat tujuan penting dari didirikannya Negara Kesatuan Republik Indonesia antara lain adalah dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Cita cita besar para founding father negara ini bukan hanya sebatas retorika dalam catatan sejarah bangsa ini, melainkan bahwa untuk menjadi bangsa yang besar dan dapat bertahan dari perubahan zaman adalah dengan menjadikan pendidikan sebagai kunci utama dalam upaya mencapai tujuan bangsa.

Pendidikan di era modern ini menjadi menjadi salah satu kebutuhan dasar yang sangat penting bahkan bisa menentukan masa depan suatu bangsa, bangsa maju telah ,melihat pendidikan sebagai investasi besar dalam upaya memperoleh kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Seiring dengan kesadaran pentingnya pendidikan di Indonesia telah mendorong paradigma baru di kalangan Masyarakat Indonesia bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam upaya meraih masa depannya ataupun masa depan anak-anaknya.

Salah satu upaya meraih pendidikan yang dipandang bagus adalah dengan mengenyam pendidikan di luar negeri, dalam hal ini menurut pendapat saya tidak sepenuhnya tepat, karena sekarang ini Universitas-universitas di Indonesia baik negeri maupnun swasta sebagian telah memiliki kualifikasi yang cukup baik dan sebagian para pendidiknya juga telah mengenyam pendidikan di Universitas Luar Negeri sehingga secara tidak langsung tentunya para pendidik ini ingin meneruskan ilmu yang diperolehnya kepada para mahasiswanya, meskipun terdapat perbedaan dari sisi fasilitas di Universitas luar negeri terutama negara maju memiliki fasilitas untuk mendukung proses pendidikan relatif lengkap.

Saya coba mencoba untuk mengulas sepintas tentang kisah-kisah perjuangan para pengejar impian di masa depan yang melanjutkan study di luar negeri khususnya Negara Tiongkok serta lahirnya suatu gerakan yang mewadahi para pelajar dan masyarakat Indonesia di Luar Negeri. Kisah pahit getir kehidupan mengenyam pendidikan jauh dari negeri kampung halaman bisa jadi menjadi kisah hidup yang sulit untuk dilupakan.

Bagi yang pernah menonton film Presiden Republik Indonesia ke-3 Prof. BJ. Habiebie bagaimana beliau menjalani kehidupan di Jerman, saat-saat kondisi keuangan untuk biaya hidup saja harus menghemat bahkan sampai berpuasa demi mengatur keuangan, atau harus menunggu acara tertentu untuk dapat menikmati makanan yang sesuai selera lidah Orang Indonesia dan selebihnya harus menerima dengan kondisi yang seadanya, namun beliau bisa bertahan bahkan meraih prestasi yang membanggakan bagi Bangsa Indonesia.

Kisah yang terjadi pada Bapak Prof. B.J. Habiebie bisa jadi terjadi pada pelajar indonesia yang sedang mengenyam pendidikan di luar negeri, saya masih menemukan kisah-kisah pemuda dengan otak habiebie yang berjuang di negeri orang, perjuangan dalam meraih cita-cita dan masa depannya ini tidak mudah selain harus beradaptasi terhadap iklim yang berbeda, makanan serta kondisi kultur serta budaya yang kadang juga cukup menyita energi untuk bisa beradaptasi juga harus menghadapi persoalan hidup yang tidak bisa dihindari seperti keuangan keluarga, sakit atau bahkan saat harus mendengar kabar duka dari tanah air.

Kisah perjuangan seperti yang dialami oleh Prof. Habiebie ternyata juga terjadi pada para pelajar indonesia yang sedang mengenyam pendidikan di luar negeri, beragam persoalan dan permasalahan yang menyebabkan mereka mengalami persoalan tersebut, baik kondisi keuangan keluarga, biaya beasiswa tidak mencukupi karena banyaknya komponen biaya yang tidak ditanggung oleh beasiswa ataupun persoalan karena minimnya persiapan serta informasi tentang kondisi hidup di luar negeri, menyebabkan mereka tidak siap menghadapi kerasnya perjuangan hidup di luar negeri. Kondisi ini baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi moral bahkan tidak jarang mempengaruhi kesehatan mereka.

Salah satu kisah bagaimana tidak mudahnya mengenyam pendidikan di luar negeri adalah dialami oleh beberapa orang rekan mahasiswa di Kota Nanjing Tiongkok, mereka tetap semangat belajar meskipun dengan menghadapi berbagai kendala yakni harus beradaptasi dengan kondisi cuaca yang bisa jadi cukup ekstrim karena jauh berbeda dengan kondisi cuaca di Indonesia, makanan yang tidak sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia pada umumnya, kultur budaya sehari hari yang tentunya jelas berbeda dengan di Indonesia, belum lagi persoalan bahasa yang berbeda dan sebagian besar penduduk lokal tidak begitu menguasai Bahasa Inggris sehingga menyulitkan untuk berkomunikasi, dan yang lebih menyentuh hati adalah kisah bagaimana kondisi keuangan keluarga yang tidak bisa mengirim uang bulanan untuk hidup atau uang bulanan dari beasiswa yang tidak kunjung cair atau uang bulanan yang terpaksa digunakan untuk berobat misalnya yang menghabiskan biaya cukup besar sehingga untuk keperluan bulananpun tidak memadai.

Kisah tersebut bagi yang pernah menonton film Habiebie pasti teringat bukan…., mungkin perlu di ketahui para pembaca yang belum berkesempatan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri, pada dasarnya beasiswa terbagi pada beberapa jenis yakni beasiswa lengkap (full scholarship) beasiswa ini merupakan beasiswa yang diidamkan oleh para pengejar mimpi kuliah di luar negeri, beasiswa sebagian (partial Scholarship) dalam hal ini beasiswa diberikan hanya sebagian biasanya beasiswa diberikan untuk biaya kuliah (stipend) dan asrama (dormitory), adapun besaran dari beasiswa sangat tergantung dari pemberi beasiswa.

Kisah-kisah perjuangan Bapak Habiebie dan para pelajar Indonesa yang mengenyam pendidikan di luar negeri tersebut mendorong saya dan pelajar di kota nanjing untuk mendirikan suatu gerakan yang diberi nama GERAKAN INDONESIA MEMBANTU.

Gerakan ini terinspirasi dari Gerakan INDONESIA MENGAJAR yang di inisiatori oleh Bapak Anis Baswedan yang berhasil menggugah banyak generasi muda indonesia untuk lebih peduli pendidikan. Gerakan Indonesia Membantu adalah suatu gerakan yang didirikan untuk menggugah kepedulian dan rasa kebangsaan, serta rasa satu bangsa dengan tanpa memandang ras, suku dan agama untuk saling peduli, saling membantu di saat sedang mengalami kesusahan di negeri orang, gerakan ini berjalan dengan pola organisasi non profit dimana para pengelolanya adalah para mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri.

Dengan adanya gerakan ini diharapkan dapat menghidupkan kembali rasa kepedulian sebagai satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, sehingga tidak lagi ada Pelajar Indonesia yang merasa sendiri berjuang meraih cita-cita, dan akan lahir Habiebie-habiebie yang telah siap dengan ditempa kehidupan dan memiliki wawasan yang luas dan memiliki semangat saling membantu.

Di Hari Kebangkitan Nasional tahun 2017 ini merupakan kebangkitan gerakan bersama para pelajar Indonesia di Luar Negeri yang lebih peduli, lebih peka dan siap meneruskan pembangunan di Indonesia. Selamat Hari Kebangkitan Nasional, “Mari Merubah Hal Besar Melalui Langkah Kecil” melalui Gerakan Indonesia Membantu.   

Riwayat singkat Penulis

Agus Supriyadi merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas belajar di Pemerintah Kota Banjar. Saat ini penulis tengah menjalani pendidikan Phd Student Nanjing Normal University di China.

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles