Petani Banjar Rasakan ‘Manisnya’ Budidaya Butternut Squash

09/05/2017 0 Comments
Petani Banjar Rasakan ‘Manisnya’ Budidaya Butternut Squash

Tatang saat menunjukkan hasil panen Butternut Squashnya. Photo: Muhafid/HR ​

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Setelah beberapa bulan membudidayakan Butternut Squash di Kota Banjar, Tatang, seorang petani muda asal Lingkungan Pataruman, Kelurahan Pataruman, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, kini merangkul sejumlah pemuda setempat untuk membudidayakan buah sayur yang cukup langka tersebut.

Meski terbilang baru berkenalan dalam membudidayakannya, namun sekarang hasil perjuangannya selama beberapa bulan sejak penanaman itu sudah bisa dinikmati. Saat ditemui Koran HR, Selasa (02/05/2017), Tatang mengaku kini tengah membudidayakan Butternut Squash jenis Tiana yang bisa dipanen setiap dua bulan sekali.

“Karena perawatannya sangat ekstra, yakni setiap tiga hari sekali diberi pupuk organik, tanaman Butternut Squash sangat sulit perawatannya. Meski begitu, saya bersama pemuda yang lain masih memburu manisnya budidaya buah sayur tersebut,” tuturnya.

Dari hasil panen yang didapat, lanjut Tatang, Butternut ini rencananya akan dikirim ke sejumlah supermarket di wilayah Cianjur. Karena, harganya yang lumayan mahal dibanding dengan labu biasa, di Kota Banjar ini justru Butternut belum memiliki peminat.

Bayangkan saja, satu kilogram Butternut dijual dengan harga mencapai Rp.15.000 hingga Rp.30.000. Sedangkan di Banjar, masyarakat yang belum tahu kandungan gizi dan manfaatnya justru jadi enggan membeli lantaran harganya yang tidak biasa. Malahan mereka lebih memilih membeli daging.

“Dari contoh tersebut, saya masih belum yakin di Banjar bisa memiliki peminat tersendiri sebab harganya yang belum cocok. Padahal, soal harga itu sudah sesuai dengan kesulitan kita dalam membudidayakan yang harus ekstra perawatannya hingga panen,” terangnya.

Meski demikian, Tatang mengaku masih ada pasar di luar daerah yang memang mampu menampung hasil panennya dengan jejaring Asosiasi Petani Butternut Squash Indonesia.

Di lokasi yang sama, Tudi, pembudidaya Butternut, menambahkan, hasil panen yang ada saat ini merupakan hasil yang dikumpulkan selama dua kali panen. Karena hasilnya masih belum maksimal, ia bersama Tatang menunggu hingga berat mencapai satu ton untuk dikirim ke Cianjur.

“Saat ini yang kita kumpulkan baru sekitar lima kuintal. Nanti kalau sudah mencapai satu ton baru dikirim. Kalau sekarang langsung dikirim, jelas kita kewalahan ongkos kirimnya,” kata Tudi.

Dengan kegiatan budidaya Butternut ini, ia bersama para pemuda lainnya bisa menyibukkan diri pada hal-hal yang positif dan produktif. Apalagi harga Butternut Squash ini cukup lumayan.

“Daripada terjebak ke hal-hal yang kurang baik, lebih baik belajar budidaya seperti ini. Mudah-mudahan saja pemuda yang lain bisa seperti ini. Artinya lebih produktif dan kreatif,” pungkas Tudi. (Muhafid/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!