Tradisi Teko Beureum di Pangandaran Mulai Punah

14/05/2017 0 Comments
Tradisi Teko Beureum di Pangandaran Mulai Punah

Budayawan Pangandaran saat melihat sejumlah Teko Beureum yang dimiliki salah seorang warga. Foto: Entang Saeful Rachman/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Budayawan Pangandaran, Didin Jentreng, menyebutkan bahwa tradisi Teko Beureum di Kabupaten Pangandaran mulai punah. Padahal, Teko Beureum merupakan salah satu alat kebutuhan rumah tangga untuk wadah minum dari bahan tembaga yang mulai sepi hingga tahun 1980 an.

“Selain digunakan untuk tempat minum sehari-hari, Teko Beureum juga biasa digunakan untuk mengobati anak yang terkena penyakit panas, cacar serta berbagai penyakit lainnya. Bahkan, air dari Teko Beureum juga bisa digunakan sebagai obat anti hama tanaman padi dan saat ini tradisi ini sudah hampir punah,” kata Didin kepada Koran HR, Selasa (08/05/2017) lalu.

Hal senada juga diungkapkan budayawan Pangandaran lainnya, Erik Krisnayudha. Menurutnya, tradisi Teko Beureum hampir punah lantaran semakin majunya teknologi dengan adanya teko berbahan alumunium maupun plastik yang dinilai lebih bagus.

“Kalau Teko Beureum itu bahannya dari tembaga. Biasanya digunakan para sesepuh untuk berbagai keperluan. Sehingga, masyarakat banyak menilai tradisi tersebut sudah ketinggalan zaman serta kerap juga dicap untuk praktek perdukunan. Maka dari itu, mereka sudah banyak yang meninggalkannya,” terangnya.

Padahal, lanjut Erik, secara ilmiah air minum yang di dalam Teko Beureum ternyata ada proses pemurnian secara alami, yakni dapat membunuh semua mikro organisme seperti halnya jamur, ganggang maupun bakteri yang mana sangat membahayakan bagi tubuh.

“Jadi, minuman yang disimpan menggunakan Teko Beureum yang berbahan tembaga sangat dianjurkan karena memiliki sifat anti mikroba, anti oksidan, anti karsinogenik dan anti inflamasi serta membantu menetralisir racun.

“Pada intinya sangat banyak sekali manfaat bagi kesehatan dari Teko Beureum. Dan dengan kita memaparkan kebaikannya, kita harapkan tradisi ini bisa kembali ramai dan kita bisa menghilangkan kesan mistik maupun ketinggalan zaman,” pungkasnya. (Ntang/R6/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!