Atasi Kelanggkaan dan Kenaikan LPG 3 Kilogram, Pangandaran Butuh SPPBE

17/06/2017 0 Comments
Atasi Kelanggkaan dan Kenaikan LPG 3 Kilogram, Pangandaran Butuh SPPBE

Foto: Ilustrasi net/ist

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Lantaran mahalnya gas elpiji ukuran 3 kilogram di Kabupaten Pangandaran saat ini menjadi sorotan. Bahkan, sebagian masyarakat memilih untuk berpindah ke kayu bakar daripada menggunakan gas subsidi tersebut.

Dari infromasi yang berhasil dihimpun HR Online, Pangandaran membutuhkan pasokan gas ukuran melon tersebut sebanyak 23 ribu ton perhari untuk memenuhi 10 kecamatan. Semenjak datangnya bulan puasa dan menjelang Idul Fitri, kebutuhan gas epliji mengalami peningkatan hingga 50 persen dari hari-hari biasanya.

Agus Koswara, salah satu perwakilan agen LPG 3 kilogram “SO” Kabupaten Pangandaran, mengatakan, bahwa Pangandaran membutuhkan Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE). Untuk saat ini, kata Agus, SPPBE yang menyalurkan gas elpiji ke Kabupaten Pangandaran hanya dari SPPBE Desa Batununggul Kecamatan Cisaga Kabupaten Ciamis dan SPPBE di Kota Banjar.

“Dari kedua SPPBE tersebut menyalurkan ke sembilan agen dan 103 pangkalan se-Kabupaten Pangandaran, kita berharap Kabupaten Pangandaran punya SPPBE sendiri sehingga harga elpiji 3 Kg akan terkendali serta terhindar dari rumor kelangkaan yang selama ini dikeluhkan oleh masyarakat,” kata Agus Koswara pada HRonline, Jumat (16/6/2017).

Berdasarkan SK Bupati Nomor 510.23/Kpts.224-Huk/2017, lanjut Agus, untuk pangkalan yang jaraknya di atas 60 kilometer dari SPPBE harga elpiji 3 kilogram Rp.17.400. Sedangkan untuk pangkalan yang jaraknya di bawah 60 kilometer dari SPPBE harga elpiji 3 kilogram Rp.16.900.

“Mengingat Pangandaran sekarang sudah menjadi Kabupaten, maka kebutuhan akan elpiji 3 kilogram sangat tinggi. Apalagi di bulan puasa dan menjelang Idul Fitri pasokan perlu ditambah dan HET-nya disesuaikan dengan jarak tempuh ke SPPBE,” jelas Agus Koswara.

Lebih lanjut, Agus menambahkan, pendistribusian ke agen dan pangkalan saat ini sudah sesuai dengan aturan dan kesepakatan. Adapun di lapangan, masyarakat mengeluh kelangkaan dan harganya mahal harus dilakukan cek ke lapangan secara langsung.

“Kebutuhan reguler perhari ke agen dan pangkalan menjelang ramadhan dan Idul Fitri rata-rata 23 ribu ton. Setelah ramadhan dan menjelang Idul Fitri, ada penambahan kuota sebanyak 50% dari pengiriman biasa,” ujar Agus lagi.

Sementara itu, salah seorang warga Mangunjaya, Herman, mengaku kelangkaan dan mahalnya elpiji 3 kilogram merupakan masalah klasik. Dan biasanya diduga ada permainan harga dengan langkanya stok elpiji 3 kilogram di pasaran. Sehingga diduga ada penimbunan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.

Herman berharap, SPPBE di wilayah Kabupaten Pangandaran segera dirikan agar persoalan gas elpiji 3 kilogram bersubsidi bisa terkendali. 

“Harus ada kesepakatan antara Pemerintah Daerah dan Pertamina untuk menyelesaikan persoalan ini, yakni mendorong dibangunnya SPPBE sendiri di Pangandaran,” pungkas Herman. (Mad/R6/HR-Online)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!