Fenomena Tawuran di Kalangan Remaja di Banjar Mulai Merambah Daerah

23/06/2017 0 Comments
Fenomena Tawuran di Kalangan Remaja di Banjar Mulai Merambah Daerah

Foto: Ilustrasi net/Ist

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Fenomena tawuran di kalangan remaja/pelajar yang biasanya terjadi di kota-kota besar, kini mulai merambah ke daerah. Seperti halnya tawuran dua kelompok remaja yang terjadi di perkebunan jati, tepatnya di Kampung Cijati, Desa Binangun, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.

Di lokasi tersebut dua kelompok remaja yang juga masih pelajar SMP itu terlibat saling serang dengan menggunakan bambu, kayu, besi, clurit, dan gir sepeda motor. Penyebab tawuran yang terjadi pada Jum’at (16/06/2017) sore lalu, sekitar pukul 15.00 WIB itu diduga karena masalah sepele.

Beruntung, pada saat itu aparat kepolisian cepat datang dan melerai kedua kelompok yang sedang bertikai. Beberapa remaja berhasil diamankan dan dibawa ke Makopolresta Banjar, berikut barang buktinya.

Aksi tidak terpuji ini mendapat kecaman dari warga dan sejumlah kalangan. Seperti yang dikatakan Azis Mutaqin (38), salah seorang warga Desa Neglasari, Kecamatan Banjar. Menurut dia, aksi tawuran biasanya terjadi setelah terbentuknya geng-geng/kelompok. Mereka akan merasa bangga jika masyarakat takut dengan kelompok/gengnya.

“Biasanya tawuran terjadi karena hal sepele. Namun, karena tingkat emosi seorang remaja masih labil sehingga hal tersebut malah dijadikan suatu tantangan,” kata Aziz, kepada Koran HR, Minggu (18/06/2017) lalu.

Pendapat serupa dikatakan Asep Sudiaman (40), warga Dusun Pangadegan, Kecamatan Pataruman, bahwa tawuran pelajar atau remaja yang kini kerap terjadi sangat meresahkan warga. Hal ini pun harus menjadi tanggung jawab bersama.

Dia juga menilai, aksi tawuran bisa disebabkan oleh beratnya materi pelajaran di sekolah yang menggunakan sistem full day. Sehingga, siswa merasa stres yang pada akhirnya menumpahkan dalam bentuk emosi tak terkendali.

“Kita tidak bisa saling menyalahkan, yang terpenting adalah cari solusinya untuk menyelesaikan persoalan ini, mulai dari orang tua, guru, pemerintah dan masyarakat di lingkungan tempat tinggal masing-masing,” tandas Asep.

Insiden kasus tawuran antar kelompok pelajar di Kota Banjar beberapa waktu lalu itu juga mendapat perhatian besar dari sejumlah kalangan mahasiswa. Pasalnya, selain membuat resah, aksi mereka menjadi tamparan keras bagi wajah pendidikan, khususnya di Kota Banjar. Terlebih kejadiannya saat bulan suci Ramadhan.

Menurut Ketua Presidium Forum Mahasiswa Kota Banjar, Irfan Ali Sya’bana, para pelaku yang masih remaja itu belum dapat menguasai perilaku dan rasa ingin tahunya terhadap semua hal. Maka di situ peran semua pihak, dari mulai pemerintah, orang tua, tokoh lingkungan dan pendidik untuk lebih meningkatkan pengawasan dan pendampingan.

“Ini PR dan tanggung jawab kita bersama, bagaimana membentuk karakter generasi bangsa. Untuk meminimalisir supaya tawuran remaja tidak terulang lagi, maka bisa dilakukan melalui pendekatan prefentif dengan cara menciptakan lingkungan yang gemar membaca, meningkatkan fasilitas, serta ruang-ruang publik yang bermanfaat, dan tentunya hal itu harus dilakukan secara terencana,” katanya.

Kendati menjadi tanggung jawab bersama, Irfan meminta kepada dinas terkait untuk memberikan sanksi tegas kepada semua kepala sekolah yang siswanya terlibat tawuran. Sanksi yang diberikan kepada kepala sekolah bisa dalam bentuk posisi jabatan. Hal itu sebagai proses penyegaran.

Sementara itu, Kasat. Reskrim Polresta Banjar, AKP. Syahroni, menghimbau kepada para orang tua, guru maupun masyarakat di lingkungan masing-masing supaya dapat meningkatkan pengawasan terhadak anak/kalangan remaja. Pasalnya, sekarang ini kenakalan remaja sudah sangat memprihatinkan, mulai dari perkelahian, tawuran, miras, dan seks bebas.

“Kenakalan remaja kini memang harus menjadi tanggung jawab kita semua, baik orang tua, sekolah, dan masyarakat sekitar. Sehingga, jika orang tua meningkatkan pengawasan positif terhadap anaknya, maka anak tersebut dapat menjadi terarah dan jauh dari hal-hal negatif,” tandas Syahroni. (Hermanto/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!