Jarang Dikunjungi Wisatawan, Situs Gunung Susuru Ciamis Kurang Disosialisasikan

04/06/2017 0 Comments
Jarang Dikunjungi Wisatawan, Situs Gunung Susuru Ciamis Kurang Disosialisasikan

Situs budaya Gunung Susuru di Dusun Bunder, Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Photo : Dok/ Ist

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Tempat peninggalan bersejarah situs budaya Gunung Susuru yang berada di wilayah Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, diduga usianya lebih tua dari situs budaya Ciung Wanara Karangkamulyan.

Jika dilihat dari dekat, Gunung Susuru merupakan dataran tinggi yang berada di Dusun Bunder, Desa Kertabumi. Tempat ini diapit oleh dua sungai yang saling bertemu, yakni Sungai Cileueur dan Sungai Cimuntur.

Juru Kunci ‘Kuncen’ Situs Gunung Susuru, Adang, ketika ditemui Koran HR, Senin (28/05/2017) lalu, mengatakan, Gunung Susuru merupakan patilasan Kerajaan Galuh Kertabumi yang dipimpin Rangga Permana atau Prabu Dimuntur dari Sumedang Larang tahun 1585 masehi. Prabu Dimuntur datang ke tempat ini untuk menyebarkan ajaran agama Islam. 

“Gunung Susuru ini salah satu tempat peninggalan kerajaan Galuh Kertabumi. Selain itu disini juga banyak peninggalan lainnya yang ditemukan seperti batu tapak, batu peluru dan beberapa senjata,” katanya.

Adang menjelaskan, dari catatan sejarah yang diketahuinya, Gunung Susuru memiliki peradaban jauh lebih tua dari beberapa situs peninggalan yang ada di Kabupaten Ciamis. Bahkan di tempat ini juga ada lokasi batu berjejer serta bertingkat seperti punden berundak dengan ukuran batu sangat besar.

“Menurut keterangan secara turun temurun dan juga secara sejarah punden berundak ini pada zaman dulu dugunakan penduduk untuk berdo’a atau melakukan peribadatan kepada yang maha kuasa,” ungkapnya.

Adang melanjutkan, sekitar tahun 2000, untuk melestarikan situs gunung susuru ini, pihaknya meminta bantuan kepada Pemerintah Desa Kertabumi untuk melakukan penelusuran, menemukan peninggalan lainnya yang masih tersimpan di areal situs.

Setelah dilakukan penelusuran dengan bantuan 1000 orang dari penduduk setempat, kata Adang, akhirnya beberapa peninggalan ditemukan. Diantaranya mulai dari fosil tulang, keramik dan tembikar. Bahkan ditemukan juga 4 batu patapaan yang ukurannya berbeda-beda. Empat batu patapaan tersebut, lanjut Adang, merupakan tanda atau makam tempat menyimpan abu jenazah dari orang yang kedudukannya lebih tinggi atau memiliki jabatan pada zaman itu.

“Sempat ada penelitian dari Arkenas dan Dinas Pariwisata, setelah diperiksa ternyata ditemukan abu jenazah yang disimpan dalam sebuah kendi kemudian disimpan dibawah batu besar,” jelasnya.

Dari hasil tersebut, Adang menambahkan, kuat dugaan peradaban di kawasan Gunung Susuru sudah tua. Hal itu terlihat dari peninggalan Agama Hindu seperti abu jenazah. Sebab pada jaman tersebut orang meninggal, jasadnya dibakar dan abunya disimpan.

Adang mengungkapkan, di Gunung Susuru masih banyak peninggalan-peningalan yang belum tergali, terutama asal-muasal dan sejarahnya. Meskipun sudah dikelola dengan cukup baik oleh pemerintah, namun kurangnya sosialisasi keberadaan situs ini membuat wisatawan tidak banyak mengetahuinya.

“Padahal bila digali lebih dalam, Gunung Susuru ini bisa menjadi salah satu tempat untuk belajar, terutama untuk karyawisata anak-anak sekolah. Mudah-mudahan Pemerintah Ciamis peduli terhadap keberadaan situs budaya gunung susuru ini,” pungkasnya. (Es/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!