Menelusuri Goa Sutra Reregan di Selasari Pangandaran

13/06/2017 0 Comments
Menelusuri Goa Sutra Reregan di Selasari Pangandaran

Goa Sutra Reregan di Desa Selasari Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran. Foto: Asep Kartiwa/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Beberapa waktu lalu, Goa Sutra Reregan di Desa Selasari Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran pernah menjadi pusat perhatian lantaran ditemukannya sejumlah benda purbakala oleh tim dari Balai Konservasi Cagar Budaya.

Setelah dibenahi, Kelompok Goa Sutra Reregan kini tampilannya berubah dan sebagian mudah dijangkau oleh wisatawan serta ada juga yang memerlukan peralatan khusus untuk masuk ke dalamnya.

Goa yang mudah dikunjungi wisatawan ada empat, yakni Goa Sutra Reregan, Goa Panggung, Goa Inoh dan Goa Parat. Di goa tersebutlah terdapat peninggalan purba hasil temuan Tim Balai Konservasi Cagar Budaya.

Sementara itu, Goa Panyipuhan yang merupakan cabang dari Goa Parat dan juga cabang dari Goa Inoh merupakan gua yang berair sehingga memerlukan peralatan khusus untuk memasukinya.

Dadang Destriyana, salah seorang perintis dan pengelola Desa Wisata Selasari, mengatakan, destinasi wisata di Goa Sutra Reregan merupakan wisata alam yang indah karena batuan karst pembentuk stalgmit dan stalagtit. Selain itu, Goa Sutra Reregan juga menjadi sarana edukasi yang mana terdapat peningggalan peninggalan purbakala.

Di kelompok Goa Sutra Reregan sendiri, kata Dadang, merupakan habitat sejumlah hewan seperti halnya kelelawar, sidat, ikan air tawar dan juga burung walet.

“Goa Sutra Reregan juga merupakan sumber mata air bawah tanah bagi warga sekitanya baik untuk mengairi sawah atau keperluan rumah tangga. Intinya, kami ingin mengedukasi para pengunjung tentang pentingnya karst bagi lingkungan hidup,” katanya kepada Koran HR, Minggu (04/06/2017) lalu.

Konon, lanjut Dadang, di Goa Panggung merupakan tempat penyimpanan gamelan yang mana dahulu setiap orang yang meminjam harus dikembalikan tepat waktu. Ketika tidak tepat waktu, maka hilanglah semua gamelan dari Goa Panggung.

Selain itu, menurut beberapa sesepuh, ucap Dadang, Goa Panyipuhan merupakan gua tempat para seniman dan sinden mandi di dalam goa untuk menyipuh diri dan membersihkan diri supaya inner beauty nya muncul. Bahkan, untuk membersihkan dan memperhalus suara.

“Untuk memandu ke goa kami sudah melakukan pelatihan kepemanduan gua dan pelatihan kepemanduan ekowisata. Bahkan, beberapa orang dari kami telah dilatih juga sebagai SAR dan mereka sudah memiliki sertifikat kepemanduan,” ujarnya.

Meskipun dengan dana swadaya, sambung Dadang, namun tidak mengurangi kreativitas para pengelola untuk membuat para wisatawan tak sabar untuk melakukan selfie di tempat tersebut.

Diantara kreatifitas pengelola, ucap Dadang, yaitu membuat perahu dari bambu untuk tempat selfie, rumah pohon unik, selter tempat selfie dengan background hutan tutupan Selasari.

“Di bawah jalan menuju ke Goa Utama Sutra Reregan, dibuat jembatan unik dengan berbahan bambu, meskipun pengerjaanya belum selesai. Dari Goa Sutra Reregan, kita dapat melihat Sunset dan Sunrise di satu tempat. Pemandangan ke timur terlihat Samudra Indonesia dan ke Barat dan sekelilingnya terlihat indahnya hutan dan perbukitan,” paparnya.

Lebih jauh, Dadang mengungkapkan masyarakat sekitar terus melakukan gotong-royong untuk membuat jalan menuju ke spot-spot tertentu. Bahkan, setiap hari dan malam masyarakat sekitar 15 orang bekerja khusus Goa Sutra Reregan.

“Allhamdullilah subsidi dari Pengelola Desa Wisata Selasari bisa dimanfaatkan untuk pengembangan destinasi-destinasi wisata baru yang ada di Selasari. Memang masih banyak kekurangan di sana-sini, maklum dana swadaya seadanya,” kata Dadang lagi.

Ia berharap, Pemerintah Desa Selasari menyadiakan tempat parkir yang luas di sekitar Goa Sutra Reregan. Sebab, untuk pembuatan tempat parkir menggunakan anggaran yang tidak sedikit. Ia juga sangat berharap kepada pemerintah untuk melakukan pengkajian terkait gua-gua yang ada di Kabupaten Pangandaran.

“Data gua di Desa Selasari saja yang kita miliki ada lebih dari 100 gua, apalagi di seluruh Kabupaten Pangandaran. Karena gua sangat banyak manfaatnya seperti untuk cadangan sumber air, untuk keseimbangan lingkungkan hidup, untuk kegiatan pariwisata, untuk kegiatan penelitian dan untuk pendidikan, maka dari itu perlu diperhatikan lebiah serius,” pungkasnya. (Askar/R6/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!