Musim Durian di Pangandaran, Petani Kewalahan

17/06/2017 0 Comments
Musim Durian di Pangandaran, Petani Kewalahan

Petani buah durian saat melayani para penjual yang siap menjajakan kepada para pembeli. Foto: Entang Saeful Rachman/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Bersamaan bulan puasa, buah yang memiliki sebutan King Of Fruit di wilayah Pangandaran mulai memasuki musim panen. Hal tersebut terlihat di sejumlah titik keramaian di wilayah Ciamis, Banjar dan Pangandaran para pedagang durian menjualnya di pinggir jalan sejak sore hingga malam hari.

Dengan harga yang cukup variatif mulai Rp. 15 ribu hingga Rp. 80 ribu, buah yang beraroma dan berkulit tajam tersebut membuat para penggemarnya kerap tak sabar untuk menyantapnya, terlebih saat melihat para pedagang yang berjajar dengan lapak yang sangat sederhana di pinggir jalan.

Meskipun sedang musim panen durian, Dede, salah satu petani durian, mengatakan, bahwa permintaan buah durian di bulan puasa saat ini cukup signifikan, namun pasokan durian justru sedikit.

“Kita kewalahan melayani permintaan pasar, khususnya durian kampung khas Pangandaran. Sebab, panen saat ini tidak maskimal. Sehingga kita hanya bisa pasrah,” katanya kepada Koran HR, Senin (12/06/2017) lalu.

Senada juga diungkapkan Maman Sutarman, salah satu petani asal Desa Kalijaya Kecamatan Banjaranyar Kabupaten Ciamis yang memiliki lahan di Kecamatan Langkaplancar Pangandaran. Menurutnya, pohon buah durian sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca dimana paling bagus adalah musim kemarau. Sedangkan saat ini hujan terus menerus mengguyur wilayah Pangandaran dan sekitarnya.

Dari 100 pohon durian miliknya, kata Maman, hanya 10 pohon saja yang berbuah. Artinya, hanya 10 persen saja yang bisa dipanen.

“Nah 10 pohon itu hanya dapat mengahasilkan di bawah 3000 buah dan ini tentu tidak normal dari biasanya yang seharusnya setiap pohon mampu menghasilkan sekitar 800 hingga 900 buah. Jadi, saat ini hanya 200 hingga 300 buah saja yang bisa dipanen,” terangnya.

Dengan kondisi seperti itu, kata Maman, petani mengalami kerugian lantaran turun drastis hingga mencapai 80 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan dari hasil panennya, Maman hanya meraup sekitar Rp. 7 juta hingga Rp. 9 juta.

“Kami sebagai petani hanya bisa berharap kejadian ini tidak terulang lagi. Kalau bisa, pemerintah juga ikut turut andil agar menurunkan penyuluh pertanian ke lapangan untuk menambah wawasan petani supaya bisa tidak lagi merugi,” pungkasnya. (Ntang/R6/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!