Pohon Aren di Kawali Ciamis Mulai Jarang, Usaha Pengolahan Kolang-Kaling Terancam

02/06/2017 0 Comments
Pohon Aren di Kawali Ciamis Mulai Jarang, Usaha Pengolahan Kolang-Kaling Terancam

Udin beserta anaknya sedang memproduksi kolang-kaling untuk permintaan lingkungan sekitar. Permintaan dari luar daerah tidak bisa diladeni karena bahan baku semakin sulit didapat. Photo : Eji Darsono/ HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Usaha pengolahan kolang-kaling di Desa Purwasari, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat semakin terpuruk. Pasalnya, beberapa tahun terakhir ini kapasitas produksi kolang-kaling terus merosot.

Udin, pengusaha kolang-kaling asal Kawali, ketika ditemui Koran HR, Senin (29/05/2017) lalu, membenarkan penurunan kapasitas produksi kolang-kaling tersebut. Menurut dia, hal itu disebabkan karena persediaan bahan baku aren (caruluk) terus berkuarang.

Kepada Koran HR, Udin menjelaskan, hampir setiap tahun bahan baku kolang-kaling (caruluk) terus berkurang. Alhasil, volume produksi kolang-kaling terus merosot. Dulu, ketika bahan caruluk masih mudah didapat, setiap hari dia bisa memproduksi sekitar 50 kilogram kolang-kaling siap jual.

Tapi kini, akibat kondisi terebut, Udin mengaku dia hanya bisa memproduksi sekitaar 7 sampai 10 kilogram kolang-kaling dalam sehari. Meski banyak permintaan dari luar daerah, dia tidak bisa meladeninya.

“Hasil olahan tiap hari pun tak cukup untuk memenubi permintaan lingkungan,” katanya.

Diakui Udin, usaha musiman seperti pengolahan kolang-kaling semakin terancam punah lantaran sulitnya mencai bahan baku. Menurut dia, jumlah pohon aren di setiap desa kini semakin surut karena ditebang dan dijual oleh pemiliknya. 

Eman, warga Kawali, ketika dimintai tanggapan oleh Koran HR, Senin (29/05/2017) lalu, mengatakan, selain terhadap usaha pengolahan kolang-kaling, berkurangnya jumlah pohon aren juga berdampak terhadap produksi gula.

“Komoditi ini kian sulit ditemui, termasuk selama bulan ramadhan. Caruluk atau kolang kaling adalah biji muda buah pohon aren yang selama ini sudah dikenal sebagai bahan kudapan pelengkap bahan campuran es batu atau dikolak dan hidangan takjil,” katanya.

Menurut Eman, dulu produksi buah caruluk di Desa Purwasari cukup melimpah. Terlebih pada saat menjelang serta di bulan Ramadhan. Namun akhir-akhir ini produksi kolang kaling semakin berkurang.

Eman menambahkan, penyebab utama menurunya produksi kolang-kaling tidak lain karena keberadaan pohon aren di hutan-hutan serta di perkebunan penduduk semakin jarang. Sebagian besar musnah ditebang untuk diambil saripatinya. (Dji/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!