Soal Pembangunan RS, Warga Muktisari Banjar Mulai Singgung Pembuangan Limbah

Soal Pembangunan RS, Warga Muktisari Banjar Mulai Singgung Pembuangan Limbah

Rencana pembangunan RS Langensari Banjar. Foto: Dokumen HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Warga Kelurahan Muktisari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, tak hanya terus menyuarakan meminta kejelasan penggantian tanah Lapang Sanggabuana yang dijadikan lokasi pembangunan Rumah Sakit, tapi juga kini mulai mempertanyakan soal pembuangan limbahnya.

Hal itu disampaikan salah satu tokoh masyarakat setempat, H. Agus, saat memberikan sambutan dalam kegiatan buka bersama dan terawih keliling (tarling) jajaran pejabat Pemkot Banjar di Masjid Al-Ikhlas, Lingkungan Babakan, RW.03, Kelurahan Muktisari, Jum’at (02/06/2017) lalu.

“Bagaimana dengan sistem dan penataan drainase Rumah Sakit tersebut nantinya. Wilayah berdirinya RS ini adalah berada di pemukiman penduduk, bagaimana dan kemana pembuangan limbahnya,” tanya Agus.

Menurut dia, jika limbah RS tidak diperhatikan, tentu bisa membahayakan karena merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan yang sangat potensial. Oleh karena itu, air limbah tersebut perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke saluran umum. Namun, Agus pun mempertanyakan, mau dibuang ke salurah umum di mana dan ke mana.

Di tempat terpisah, salah satu ketua RT di kelurahan setempat, Ruhimat, mengatakan, meski pembangunan RS sudah dimulai, tapi masih banyak permasalahan, terutama dengan komponen masyarakat yang ada.

“Ketidakjelasan pengganti lapang, sudah jelas dipertanyakan. Nah, ada lagi yang krusial, bagaimana dengan pembuangan limbah RS. Ini patut dipertanyakan dan warga perlu tahu,” ujarnya.

Ruhimat menilai, bila proyek pembangunan RS ini diawali tata cara yang benar atau melalui tahapan sebagaimana ketentuannya, tentu tidak akan banyak menemui persoalan seperti yang terjadi sekarang ini.

Bahkan, Ruhimat sendri bukan hanya menyoroti soal penggantian tanah lapang dan pembuangan limbah RS, namun juga mengarah hal penting lainnya, seperti perizinan serta kajian pendirian RS.

“Sudahkah betul-betul pendirian RS ini melalui kajian. Mestinya dalam hal ini melibatkan Perguruan Tinggi yang berkompeten. Tak ketinggalan pula persyaratan pendirian, mulai dari luas tanah. Apakah memenuhi syarat sesuai RS type C, yaitu 1,5-nya dari luar bangunan,” tanya Ruhimat.

Dia memperkirakan, luas lahan luar bangunan RS kurang dari yang disyaratkan. Kecuali jika dihitung dengan TPU, tentu bisa masuk. Menurut Ruhimat, selain masih banyak persoalan dengan warga, berdirinya RS di Muktisari juga mesti dipertanyakan pula segala sesuatunya.

Menyikapi soal limbah RS Langensari pada waktunya nanti, Asda I, Agus Eka Sumpena, menegaskan, bahwa sudah menjadi kepastian penataan drainase itu ada, termasuk analisa dampak lingkungannya dibuat. Begitu pun IPAL sudah menjadi perhitungan Pemkot Banjar dalam mendirikan RS tersebut.

“Sebelumnya atau dalam perencanaan pembangunan RS ini diajukan dulu proposal anggarannya ke provinsi dan pusat untuk dikaji dan dianalisa. Intinya, terealisasinya pembangunan RS ini jelas sudah diperhitungan dan melalui kajian matang oleh Pemkot Banjar,” tandas Eka. (Nanks/Koran HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles