Spanduk Protes Kejelasan Pengganti Lapang di Muktisari Banjar Berbau Politis

Spanduk Protes Kejelasan Pengganti Lapang di Muktisari Banjar Berbau Politis

Spanduk yang dipasang warga di pagar BPP Kecamatan Langensari beberapa waktu lalu. Foto: Dokumen HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Sejumlah warga mengapresiasi keberanian pemasang tiga spanduk yang dibentangkan di pagar kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Senin (05/06/2017) lalu, yang berisi tulisan hujatan atas ketidakpuasan belum jelasnya penggantian tanah Lapang Sepakbola Sanggabuana yang dijadikan lokasi pembangunan Rumah Sakit (RS). Namun, mereka menyayangkan salah satu tulisan spanduknya berbau politis.

“Kita apresiasi keberanian warga yang memasang sanduk itu. Ya memang harus seperti itu salah satu caranya warga berjuang meminta kejelasan penggantian tanah lapang. Tapi sangat disayangkan membawa-bawa politik, yaitu ada tulisan Pilwalkot 2018,” kata Sugianto, salah seorang warga Kecamatan Langensari, yang juga selaku anggota tim pengamanan proyek RS, kepada Koran HR, Selasa (06/06/2017) lalu.

Menurut dia, mestinya hal demikian itu dihindarkan, sehingga warga lain akan semakin banyak memberikan dukungan dan sama-sama berjuang mendesak penggantian tanah lapang. Tapi karena ada kata seperti ini, jadinya warga antipati.

Sugianto juga menyoroti hilangnya spanduk tersebut yang diduga ada yang mencopotnya. Dia menilai, jika yang melakukan pencopotan itu bukan Satpol PP, tentu akibatnya akan lebih fatal karena jelas salah.

Senada dikatakan sejumlah pemuda setempat yang menyikapi adanya pemasangan spanduk tersebut. Karena memang isi dari spanduk itu menyuarakan desakan kejelasan pengganti tanah lapang. Namun, menyayangkan salah satu tulisan spanduknya berbau politis.

“Saya selaku bagian dari pemuda sebenarnya setuju, sebab memang normatif sesuai kenyataan di tengah masyarakat. Tapi disayangkan membawa-bawa kalimat Pilwalkot 2018,” ujar Acep.

Dia juga berpendapat, bahwa seharusnya tidak perlu ada tulisan seperti itu, karena akan berakhir dan terlihat seakan dipolitisir. Menurut Acep, persoalan yang berkembang sekarang dalam pembanganan RS, baik terkait atau tidak, seharusnya bisa dipisahkan. Karena nantinya hanya akan membangun argumentasi lain.

Siapapun yang membuat dan memasang spanduk itu, kalau memang benar warga Muktisari yang ingin memperjuangkan lapang sebagaimana diharapkan minta diganti, lebih baik terbuka dalam menyampaikan aspirasinya.

Acep mencontohkan, misal dengan cara berdiskusi, sehingga aspirasi bisa tersalurkan dengan baik. Untuk itu, walau bahasa spanduk tersebut baik penyampaiannya, tapi bagi siapapun yang membuatnya agar lebih terbuka dan tak seharusnya dikaitkan dengan Pilwalkot.

“Lebih elegan dan alangkah baiknya fokus saja pada desakan kejelasan penggantian lapang. Yang jelas, saya pribadi tidak tahu orang yang bikin spanduk itu,” tukas Acep.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna Kelurahan Muktisari, Agus Apriliani, mengaku enggan berkomentar soal adanya spanduk hujatan tersebut. Namun, bila ada yang menuduh itu oleh pemuda, tentu para pemuda pun akan bereaksi. (Nanks/Koran HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles