“Utak Atik Gatuk” Sejarah Hari Jadi Ciamis

“Utak Atik Gatuk” Sejarah Hari Jadi Ciamis

Gapura Kabupaten Ciamis. Foto: net/Ist

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Sejarawan senior, Prof. A. Sobana Hardjasaputra, beberapa waktu lalu, mempersoalkan penetapan Hari Jadi Kabupaten Ciamis. Pasalnya, pada tanggal 12 Juni 2017 nanti Kabupaten Ciamis genap berusia 375 tahun. 

Mengulas soal fakta sejarah mengenai nama Ciamis dan Galuh, Prof. Sobana menuturkan, bahwa merujuk pada sejarah, penetapan hari jadi Ciamis bertepatan dengan peristiwa perpindahan Galuh Pakuan dari Calingcing ke Barunay.

“Bukan dari Garatengah di Cineam ke Barunay, sebagaimana yang sering dilangsir selama ini. Dalam perjalanannya, sebagai penghormatan kepada Adipati Imbanagara, Barunay kemudian diubah namanya menjadi Imbanagara,” kata Sobana, dalam sebuah diskusi bersama masyarakat Galuh yang tergabung dalam Galuh Sadulur.

Sobana menjelaskan, penetapan hari jadi Kabupaten Ciamis kontradiksi dengan fakta sejarah yang ada. Pasalnya, pada tahun 1916 Kabupaten Ciamis sudah berdiri menggantikan Kabupaten Galuh. Tepatnya satu tahun setelah Kabupaten Galuh dikeluarkan dari karesidenan Cirebon dan digabungkan kedalam karesidenan Priangan Timur yang beribukota di Tasikmalaya.

“Adapun pergantian nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis terjadi pada masa Bupati Raden Tumenggung Sastrawinata (1914-1935) M. Mengacu pada paparan tersebut, kita dapati kerancuan yang dapat berakibat kepada kebingungan generasi muda saat mempelajari sejarah Kabupaten Ciamis,” katanya.

Bisa dibayangkan, kata Prof. Sobana, bagaimana seorang guru atau dosen sejarah menjelaskan perihal Hari Jadi Kabupaten Ciamis kepada siswa atau mahasiswa. Sementara kata Ciamis saja pada tanggal 12 Juni 1642 M, belum ada. Terlebih, daerah yang saat ini disebut sebagai Kelurahan Ciamis pada tanggal 12 Juni 1642 M masih menyandang nama Cibatu.

Selanjutnya, Prof. Sobana menyebutkan, masih merujuk pada fakta sejarah lainnya mengenai penetapan hari jadi Kabupaten Ciamis (12 Juni 1642). Kata Ciamis adalah jenis kata Uniqum, yaitu sebuah kata tunggal yang tidak akan ditemui di tempat lainnya di Tatar Sunda (Jabar dan Banten). Pasalnya, Ciamis mengacu pada suatu tempat dimana Galuh berada. Lebih spesifik lagi adalah tempat dimana terjadinya Tragedi Galuh.

“Ciamis jika kita urai terdiri dari dua kata, Ci dan Amis. Ci berasal dari kata ciri atau cere yang berarti tanda. Amis pada kontek lahirnya kata ini berkaitan dengan sebuah peristiwa tragedi atau sering disebut Bedah Ciancang. Dimana kata amis terucap dari selorohan pejabat Mataram saat kunjungannya ke pusat pemerintahan Galuh. Saat itu para pejabat Mataram mencium bau amis darah,” katanya.

Adapun kunjungan pejabat Mataram tersebut dilakukan pasca penyerangan kedua pasukan wetan ke Galuh (Ciancang) pada tahun 1739 M. Jadi kata amis disini bukan idiom Sunda yang berarti manis, tetapi kata amis dalam idiom Jawa (Mataram) yang berarti anyir (hanyir).

Senada dengan itu, Juru Bicara galuh Sadulur, R. Hanif Radinal, menambahkan, historiografi Galuh dengan hari jadi Kabupaten Ciamis tidak ada korelasinya. Faktanya pada tanggal 12 Juni 1642 M adalah perpindahan pusat pemerintahan Galuh. Dan munculnya kata Ciamis baru sesudahnya, yaitu pasca penyerangan pasukan wetan yang kedua ke pusat pemerintahan Galuh di Ciancang.

“Dengan fakta ini dapat disimpulkan bahwa tim yang menetapkan Hari Jadi Kabupaten Ciamis terjebak dalam ketidaktelitian, ketergesa-gesaan dan pemaksaan kehendak dengan tidak mempertimbangkan fakta sejarah yang ada. Sehingga, penetapan tanggal 12 Juni 1642 M sebagai hari jadi Kabupaten Ciamis adalah ahistoris. Argumentasinya hanya sebuah apologia (pembenaran) semata dan sangat nampak dipaksakan serta dihubung-hubungkan dengan fakta sejarah Galuh,” katanya.

Melihat fakta sejarah, kata Hanif, pihaknya justru bertanya-tanya kenapa tim yang menetapkan Hari Jadi Kabupaten Ciamis tidak teliti. Menurut dia, kompilasi sejarah yang coba dibangun rancu, karena kata Ciamis bukan representatif Galuh. Metode utak atik gatuk (menghubung-hubungkan satu fakta sejarah dengan fakta sejarah lainnya, padahal keduanya tidak berhubungan) dapat membingungkan masyarakat.

Menurut Hanif, ketidakjelasan argumentasi ilmiah pada penetapan Hari Jadi Kabupaten Ciamis berdampak ke berbagai aspek kehidupan masyarakat lainnya. Dampak psikologis yang dirasakan masyarakat adalah tidak memiliki tokoh yang menjadi panutan dan sumber inspirasi atau sering disebut putra daerah.

“Tokoh dan ketokohannya adalah icon, yang mampu membangkitkan psikologis masyarakat dalam mengangkat nama baik daerahnya,” katanya. (Deni/Koran HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles