Begini Cara Pemuda di Pangadegan Banjar Partisipasi Cerdaskan Anak Bangsa

26/07/2017 0 Comments
Begini Cara Pemuda di Pangadegan Banjar Partisipasi Cerdaskan Anak Bangsa

Sejumlah siswa RA saat berfoto dengan Irfan Fauzi di halaman LP Maarfi Pangandegan Kelurahan Hegarsari Kecamatan Pataruman Kota Banjar. Photo: Istimewa.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Mendirikan lembaga pendidikan memang tak semudah membalikan telapak tangan. Meski bermodalkan tekad kuat serta keseriusan, namun perjuangan untuk mecerdaskan masyarakat memerlukan mental baja serta kemampuan yang mumpuni.

Irfan Fauzi, salah satu pemuda asal Lingkungan Pangadegan, Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, bersama para pemuda di lingkungannya bahu-membahu mengedukasi masyarakat melalui Lembaga Pendidikan Maarif Pangandegan, yang dibangun secara swadaya sejak tahun 2013 silam.

Berawal dari keinginannya untuk mendongkrak bidang keagamaan di lingkungan Pangandegan sejak tahun 2010, Irfan sapaan akrabnya, ia mengakomodir para pemuda setempat yang memiliki kemampuan serta bertitel sarjana untuk membuat sebuah lembaga pendidikan.

“Saya hitung di Pangandegan itu dulu hanya ada 10 pemuda yang memiliki gelar sarjana. Karena saya lihat lembaga pendidikan keagamaan di sini belum ada, akhirnya setelah saya berhasil merangkul pemuda dan masyarakat, lembaga ini diberi wakaf tanah oleh masyarakat seluas 125 meter persegi,” katanya kepada Koran HR, Minggu (23/07/2017).

Usai mendapatkan tanah, lanjut Irfan, ia harus memutar otak agar tanah wakaf tersebut bisa dinikmati untuk kegiatan belajar anak-anak. Dan singkat cerita antrusias masyarakat pun di luar dugaannya, yakni mendukung penuh pembangunan lembaga pendidikan yang kini memiliki 175 santri itu.

Tak hanya itu, kisah Irfan, melihat peraturan di Kota Banjar yang mana sudah menutup pendirian lembaga pendidikan keagamaan, ia bersikeras untuk tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak. Meski begitu, keajaiban pun datang yang mana setelah kegiatan berjalan ada respon positif dari Kementrian Agama Kota Banjar yang menganjurkan dirinya untuk segera mengurus soal pendirian lembaga pendidikan.

“Mudah-mudahan izinnya bisa cepat keluar. Nah untuk pembangunannya, karena kita mengandalkan donatur, kita bangun secara bertahap dan saat ini baru ada dua ruangan yang mana untuk 175 santri. Bahkan, masyarakat mempercayakan kepada kami untuk membangun sebuah SMP. Tentu itu adalah motivasi yang sangat luar biasa bagi kami,” ujar Irfan yang juga salah satu nominator Pemuda Pelopor tingkat Jabar 2017 bidang pendidikan.

Meski dukungan baik dari pemerintah, keluarga serta masyarakat sekitar membuatnya semakin termotivasi bergelut di bidang pendidikan, namun ia harap para pemuda lain yang ada di Banjar bisa membawa masyarakat Banjar berubah lebih baik dengan cara atau bidangnya masing-masing.

“Saya selaku salah satu pemuda yang diberi amanat menjadi nominator pemuda pelopor tingkat Jabar 2017 dari Kota Banjar, berharap bisa masuk ke level nasional dan tahun depan pemuda pelopor lain di Banjar bisa lebih baik serta meraih kesuksesan,” ujar Irfan yang juga mantan Ketua IPNU Kota Banjar periode 2011-2013.

Sementara itu, Rian Hidayat, salah satu pemuda yang diajak bergabung di LP Ma’arif Pangadegan, mengaku senang lantaran bisa ikut mengamalkan ilmunya serta berjuang bersama memajukan pendidikan di Pangandegan.

“Karena basic saya pendidikan, tentu ini adalah salah satu tempat saya untuk mengabdi. Berkat dukungan masyarakat, saya bersama pengurus lainnya akan berusaha agar anak-anak bisa paham masalah agama islam dan tentunya akhlaq mereka bisa lebih baik,” ungkapnya.

Sedangkan bagi Faiqoh, salah satu siswa Ma’arif Pangadegan, mengaku bersyukur lantaran ada lembaga pendidikan agama di lingkungannya. Sebab, meski belum masuk ke pondok pesantren, dirinya justru di lembaga tersebut sudah diajarkan dasar-dasar soal kitab kuning.

“Nanti kalau lulus MTs dan masuk MA, saya akan mondok dan saya yakin nanti tidak kerepotan lagi karena sudah punya dasar di Maarif,” katanya.

Berdasarkan informasi, LP Maarif Pangandegan yang saat ini baru dua ruang kelas itu, saat ini mengajar sebanyak 40 santri Raudlotul Athfal (RA), 105 Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) dan 30 santri Diniyah Takmilyah Wustho (DTW). Karena ruangan yang minim, proses belajar mengajar dilakukan secara bergilir. (Muhafid/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!