Desa Cibeureum Banjar Miliki Area Permainan Tradisional

15/07/2017 0 Comments
Desa Cibeureum Banjar Miliki Area Permainan Tradisional

Fasilitas rumah pohon yang ada di area permainan tradisional, Dusun Cijambu, Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar. Photo: Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Permainan tradisional seperti egrang, gatrik, kelom batok, ucing sumput, dan sejumlah permainan tradisional lainnya, kini sangat sulit ditemukan. Permainan jaman dulu itu kini tergerus oleh permainan berbasis teknologi, seperti game internet, Play Station, dan lainnya.

Namun tidak perlu khawatir, permainan-permainan tradisional tersebut sekarang bisa dijumpai di area permainan tradisional yang terletak di Dusun Cijambu, Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar.

Meski baru satu bulan lebih dibuka, area permainan tradisional seluas 1,5 hektar yang dibangun di atas tanah milik Pemerintah Kota Banjar itu, kini sudah mulai dipadati para pengunjung.

Salah seorang penggagas area permainan tradisional, Ari Faturahman (37), mengaku bahwa dirinya terus mencoba untuk melestarikan warisan budaya leluhur. Supaya permainan tradisional bisa dinikmati kembali.

“Pengunjung tinggal datang saja ke sini, gratis. Selain tempatnya sejuk dan teduh, di lokasi ini tidak hanya dilengkapi alat permainan tradisional saja, melainkan dilengkapi juga panggung hiburan, saung-saung untuk pengunjung, rumah pohon, yang semuanya terbuat dari kayu dan bambu. Semua ini untuk menambah suasana alami,” tutur Ari, kepada Koran HR, saat dijumpai di lokasi, Minggu (09/07/2017) lalu.

Penggagas lainnya, Kusnadi, mengatakan, area permainan tradisional letaknya berdekatan dengan obyek wisata Situ Leutik. Sehingga, dengan dibuatkannya area seperti ini maka jika orang tua sedang jogging di track Situ Leutik, putra-putrinya bisa bermain di area permainan tradisional.

Selain bisa menikmati permainan tradisional, di lokasi tersebut tersedia pula aneka makanan tradisional khas Sunda, seperti ubi rebus, kacang rebus, singkong rebus, serta minuman tradisional bandrek atau kopi hitam yang disediakan dalam tempurung (batok) kelapa.

“Intinya, dengan konsep seperti ini kita bisa mencintai dan melestarikan warisan budaya leluhur,” tandas Kusnadi.

Johan (23), pengunjung area permainan tradisional asal Kecamatan Banjar, mengaku kalau dirinya sangat senang dengan adanya area ini. Karena menurutnya, lokasi tersebut bisa menjadi bahan edukasi untuk mengetahui bagaimana sejarah permainan tradisional pada jaman dulu.

“Ini suatu gagasan yang sangat positif, dan ini untuk mengembalikan agar para remaja, khususnya anak-anak, bisa mengetahui, mencintai dan melestarikan permainan tradisional yang kini hampir punah,” kata Jihan, yang juga mahasiswa Universitas Siliwangi Tasikmalaya.

Sementara itu, Kepala Desa Cibeureum, Yayan Sukirlan, mengaku bangga jika desa yang dipimpinnya memiliki banyak tempat untuk dijadikan obyek wisata. Bahkan lebih bangganya lagi karena area permainan tradisional ini dibangun dari dana swadaya masyarakat alias patungan.

“Tentu saja sebagai kepala desa saya bangga. Betapa tidak, area tersebut dibuat dari hasil dana rereongan warga, dan hal ini sebagai bentuk kekompakan warga kami. Selain itu, dibantu pula oleh para penggagas, yakni Ari dan Kusnadi,” tutur Yayan, saat ditemui Koran HR, Senin (10/07/2017) lalu.

Dia juga menambahkan, selain tempat permainan tradisional, di lokasi tersebut bisa pula dipakai untuk pertemuan reuni, kegiatan upacara adat, lomba kicau burung, permainan rakyat, dan lain-lain.

Yayan berharap suatu saat nanti tempat permainan tradisional ini bisa menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, baik dari Kota Banjar maupun luar daerah. (Hermanto/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!