Lika-liku Relawan Cegah HIV/AIDS di Banjar

15/07/2017 0 Comments
Lika-liku Relawan Cegah HIV/AIDS di Banjar

Relawan HIV/AIDS di Kota Banjar saat berfoto bersama di Sekretariat Warga Peduli Aids (WAPA) di Jalan Dr Husen Kartasasmita Gang Soka Kelurahan Banjar. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Menjadi relawan HIV/AIDS merupakan kegiatan yang cukup berat bagi para orang yang peduli terhadap penyakit yang belum ada obatnya itu. Bahkan, cibiran, penolakan serta menerima pandangan miring dari sebagian masyarakat yang belum memiliki kesadaran soal penanggulangan penyakit tersebut sudah menjadi hal yang biasa mereka terima.

Siti Nurjannah, salah satu relawan yang bergerak di bidang Wanita Penjaja Seks (WPS), mengatakan, dalam perjalanan untuk menanggulangi penyakit berbahaya tersebut dirinya selalu melakukan pendekatan secara berkelanjutan kepada WPS yang ada di Banjar, khususnya di sekitar lingkungannya.

Menurutnya, sejak tahun 2013 silam hingga saat sudah terbiasa dengan berbagai penolakan dari ODHA saat mengajak untuk berobat maupun masyarakat yang belum sadar soal pencegahan HIV/AIDS.

“Pelan-pelan saja kita mendekatinya. Satu hingga tiga kali penolakan, kita yakin keempatnya pasti berhasil,” ungkap Siti usai berdiskusi dengan para kader di Sekretariat Warga Peduli Aids (WAPA) di Jalan Dr Husen Kartasasmita Gang Soka Kelurahan Banjar, Jum’at (14/07/2017).

Ia menambahkan, tantangan terbesar yang dihadapi adalah memantau pergerakan WPS TL (Tidak Langsung) yang mana melakukan aktifitasnya sulit terdeteksi lantaran operasi mereka sulit dijangkau. Ia menyebutkan, WPS TL itu sebagian ada yang memanfaatkan layanan komunikasi via online maupun beroperasi bukan di tempat-tempat biasa WPS mangkal.

“Ya itu memang sulit, tapi kita terus cari mereka dan kita ajak untuk bagaimana menjaga supaya terhindar dari HIV/Aids. Kalau WPS L (Langsung) itu mudah kita temui di sejumlah tempat dan kita ajak mereka supaya beraktifitas lebih aman dan sehat. Alhamdulillah dari WPS L sekitar 29 dari jumlah total 80 WPS yang kita pantau mereka sadar soal pentingnya menjaga kesehatan, terutama dari ancaman HIV/AIDS,” terangnya.

Sedangkan untuk ODHA, lanjut Siti, masih terus didampingi oleh para relawan untuk melakukan teraphy pengobatan di layanan kesehatan RSUD Banjar. Meskipun terkendala transportasi untuk mengangkut ODHA ke layanan kesehatan, ia harap Pemkot Banjar bisa memperhatikan kegelisahan relawan demi terfasilitasinya ODHA dalam proses pengobatan.

“Kita itu ada mobil operasional KPA yang mana diperuntukkan memfasilitasi para relawan untuk membawa ODHA ke layanan, maupun mengangkut komunitas beresiko tinggi ketika mereka akan mengikuti mobile tes HIV yang diadakan di tempat tertentu. Namun, saat ini mobil tersebut malah sering disimpanny di sebuah lembaga pendidikan yang ada di Banjar. Kita mau pakai malah terkesan ribet hingga harus izin segala. Padahal, itu kan harusnya digunakan oleh kita, bukan untuk lembaga pendidikan,” tegas Ajat, relawan lainnya.

Diskusi para relawan di Sekretariat Warga Peduli Aids (WAPA) di Jalan Dr Husen Kartasasmita Gang Soka Kelurahan Banjar. Foto: Muhafid/HR

Sementara itu, Pengelola Program Yayasan Mata Hati Jawa Barat, Drs. Aam Hamdan, mengatakan, bahwa keberadaan ODHA harus diperhatikan oleh pemerintah maupun semua pihak. Pasalnya, upaya penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS harus dilakukan secara bersama-sama dari mulai pemerintah hingga masyarakat.

“Semua elemen harus bisa bergerak bersama-sama untuk hal itu, mulai dari Walikota hingga ibu rumah tangga. Alhamdulillah sejak 2013 hingga saat ini kita bisa menyelamatkan 7 bayi dari orang tua yang terkena HIV/AIDS, bahkan sebentar lagi ada 8. Meski kita tidak mengenal wilayah karena kita juga menggarap Ciamis, Pangandaran maupun Jawa Tengah, namun baru Kota Banjar lah yang bisa melayani seksio,” tuturnya.

Dengan gerakan yang harus terus dilakukan oleh semua pihak, termasuk para relawan, kata Aam, ODHA harus ditemukan dengan terus melakukan kegiatan VCT terhadap masyarakat beresiko tinggi. Sebab, jika selama perjalanan pencegahan maupun penanggulangan tak ditemukan ODHA, maka hal itu akan menjadi bom waktu bagi masyarakat. (Muhafid/R6/HR-Online)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!