Musim Kemarau, Sejumlah Wilayah di Banjar Mulai Kesulitan Air

31/07/2017 0 Comments
Musim Kemarau, Sejumlah Wilayah di Banjar Mulai Kesulitan Air

Ai Kurnia warga Dusun Tembungkerta saat menunjukan tempat penampungan air yang kini sudah kering lantaran kesulitan air bersih. Photo: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Masyarakat di sejumlah wilayah di Kota Banjar saat ini mengalami krisis air bersih. Dampaknya, sebagian masyarakat yang umumnya tinggal di daerah perbukitan atau pegunungan, harus rela bersusah payah mendapatkan air demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Seperti diungkapkan Cati (51), salah seorang warga RT.03, Dusun Sukamaju, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, bahwa sudah hampir satu bulan lamanya ia bersama sekitar 50 kepala keluarga (KK) lainnya kelimpungan untuk mendapatkan air bersih. Hal itu karena daerahnya merupakan dataran paling tinggi dibanding lingkungan lain yang ada di Mulyasari.

“Kita hanya mengandalkan air gunung yang mengucur lewat saluran pipa yang ada. Itu juga kita harus berbagi dengan warga lain dan mencari lokasi yang terbilang cukup jauh dari rumah. Sumur di rumah saya dan warga lain sekarang sudah kering,” tutur Cati, saat ditemui Koran HR, Minggu (23/07/2017) lalu.

Hal senada dikatakan Joko, Ketua RT.03, Dusun Sukamaju. Ia menjelaskan, setiap kemarau tiba wilayahnya itu sudah menjadi langganan kekurangan air bersih. Bahkan, warga ada yang rela membeli air galon untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Meski di lingkungannya ada bak penampung sebanyak 7 unit, namun sumber airnya tidak ada. Sehingga, saat kemarau tiba warga sekitar kebingungan. Joko juga mengungkapkan, sudah sejak 10 tahun lalu warga di wilayahnya selalu kekurangan air bersih ketika musim kemarau datang.

“Namun, kalau dulu tidak separah sekarang. Kita menduga serapan air di area pegunungan ini sudah minim akibat penebangan pohon. Meski begitu, kita harapkan adanya pembangunan sumur bor. Karena secara swadaya kita tidak mampu, sebab kedalaman berdasarkan survey itu 120 meter, kita harap pemerintah memperhatikannya,” ungkap Joko.

Di lokasi berbeda, Ai Kurnia, salah sorang warga RT.01, RW.9, Dusun Tembungkerta, Desa Sukamukti, Kecamatan Pataruman, juga mengaku kelimpungan soal air bersih. Ia yang sehari-sehari berprofesi sebagai pedagang di pinggiran jalan Tembungkerta, terpaksa mencari air bersih lebih jauh dari rumahnya. Bahkan, dirinya harus rela membeli demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau sekarang masih belum parah, karena ada sedikit air yang masih bisa dikumpulkan. Kalau tahun sebelumnya saya harus beli seharga Rp.2.500 per 30 liter air dalam satu jerigen ke warga yang jualan air. Sementara kebutuhan air itu mencapai 6 jerigen tiap harinya,” tutur Ai, Selasa (25/07/2017) lalu.

Ia berharap, kemarau yang mulai melanda wilayahnya itu bisa dibantu dengan adanya kiriman bantuan air bersih dari pemerintah supaya warga tidak lagi kerepotan mencari ke tempat jauh atau pun harus membelinya. (Muhafid/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!