Pabrik Nata De Coco Cemari Lingkungan, Warga Pertanyakan Sikap Tegas Pemda Ciamis

09/07/2017 0 Comments
Pabrik Nata De Coco Cemari Lingkungan, Warga Pertanyakan Sikap Tegas Pemda Ciamis

Sawah yang diduga tercemar akibat limbah pabrik pengolahan nata de coco. Foto: Dokumen HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Warga Dusun Badak Jalu, Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis mempertanyakan sikap tegas pemerintah daerah terhadap pabrik pengolahan nata de coco yang selama ini diduga kuat telah mencemari lingkungan.  

H. Didi, tokoh masyarakat Desa Ciulu, ketika ditemui Koran HR, beberapa waktu lalu, membenarkan hal itu. Menurut dia, sampai saat ini belum ada tindakan tegas dari pemerintah terkait pencemaran lingkungan yang diakibatkan limbah pabrik tersebut.

“Ini jadi pertanyaan besar bagi kami (masyarakat). Kami juga menganggap pemerintah tidak tegas menindak perusahaan yang jelas-jelas mencemari lingkungan,” katanya.

Kepada Koran HR, H. Didi mengungkapkan, pencemaran lingkungan yang bersumber dari limbah pabrik pengolahan nata de coco tersebut sudah berlangsung cukup lama. Tapi sayangnya, sampai saat ini belum ada tindakan tegas dari pemerintah.

“Mestinya pemerintah mendengar keluhan warga dan segera bertindak tegas. Kami berharap pemerintah menutup pabrik pengolahan nata de coco karena sudah jelas mencemari lingkungan,” katanya.

Pada kesempatan itu, H. Didi juga mempersoalkan masalah ijin operasional dan pengolahan limbah pabrik tersebut. Pihaknya mendesak pemerintah untuk segera turun ke lapangan dan melakukan tindakan.

Kepala Desa Ciulu, Ramli Mahmud, saat dimintai tanggapan oleh Koran HR, belum lama ini, tidak menyangkap soal adanya keluhan dari warga Dusun Badak Jalu terkait pencemaran lingkungan yang diakibatkan limbah pabrik pengolahan nata de coco.

Ramli menuturkan, persoalan tersebut kini sedang ditangani dan ditindalanjuti oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ciamis. Menurut dia, DLH sudah mengambil sampel limbah untuk diteliti.

“Sampai sekarang, kami juga masih menunggu hasil labnya seperti apa. Yang jelas, pemerintah desa tidak punya kewenangan terkait kasus ini. Karena pemerintah desa juga tidak mengeluarkan ijin,” katanya.

Menurut Ramli, saat ini di wilayah Desa Ciulu terdapat enam pabrik pengolahan nata de coco. Dua pabrik berskala besar dan empat lainnya berskala rumahan. Pihaknya meyakini semua pabrik tersebut belum mengantongi ijin. Alasannya karena administrasi di tingkat desa saja belum ditempuh.

Lebih jauh, Ramli menyebutkan, persoalan pencemaran lingkungan tidak hanya terjadi pada pabrik pengolahan nata de coco, tapi juga pabrik tahu. Untuk itu, pihaknya berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis secepatnya bertindak. Pasalnya, pemerintah desa kerap kali menjadi sasaran amarah warga. 

Informasi yang berhasil dihimpun Koran HR di lapangan, enam pabrik pengolahan nata de coco di wilayah Desa Ciulu sudah beroperasi sejak tahun 1999. Semua pabrik tersebut tidak memiliki IPAL. Akibatnya, warga terkena dampak dari pencemaran limbah pabrik tersebut. (Suherman/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!