Bangunan Bersejarah Eks Masa Penjajahan di Ciamis Terbengkalai

Bangunan bersejarah eks masa penjajahan di Dusun Cibungur, Desa Wangunjaya, Kecamatan Cisagayang terbengkalai. Foto: Tantan/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Miris, salah satu bangunan saksi bisu eks Gudang Persenjataan pada jaman Penjajahan Kolonial Belanda, luput dari pantauan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Ciamis. Pasalnya, bangunan tersebut sempat dijadikan transit atau tempat peristirahatan seluruh pejuang Tentara Nasional Indonesia (TNI) ketika hijrah dari Bandung ke Yogyakarta.

Ketika Koran HR mendatangi bangunan bersejarah tersebut, terlihat seorang nenek tua didampingi kedua anaknya sedang bercerita di salah satu sudut ruangan semi permanen dengan tekstur bangunan kuno, yang bertempat di Dusun Cibungur, Desa Wangunjaya, Kecamatan Cisaga.

Rahman Phona, cucu pemilik bangunan, menceritakan asal-muasal bangunan ini menjadi bangunan Gudang senjata TNI pada waktu penjajahan Belanda. Menurut dia, bangunan ini sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Namun, sang pemilik bangunan ini bukan seorang pejuang, melainkan seorang petani yang bernama San’raif.

“San’raif adalah seorang petani asli warga Cisaga. Dia bukan seorang pejuang, tetapi di tempat inilah para pejuang berkumpul untuk melepas lelah, setelah para pejuang berjalan kaki dari Bandung ke Yogyakarta waktu itu,” katanya.

Rahman menjelaskan, dulu para pejuang yang berada di Kecamatan Cisaga mencapai lebih dari 100 orang. Tetapi, di tempat persingggahan inilah seluruh pejuang menyimpan senjatanya, di kala seluruh TNI beristirahat.

“Seluruh TNI banyak disini, tersebar di beberapa rumah warga. Kecamatan Cisaga pada umumnya menjadi tempat persinggahan TNI. Keistimewaan bangunan ini pada masa Penjajahan Belanda, ketika Belanda melewati rumah ini tidak bisa terlihat. Padahal jarak dari jalan hanya 100 meter, disini sedang banyak TNI bisa tidak kelihatan oleh Belanda,” ujarnya.

Tidak hanya bangunan ini saja dijadikan gudang persenjataan, kata Rahman, tetapi perkebunan yang berada di belakang rumah juga dijadikan tempat latihan oleh para pejuang. Dan di tempat itulah seluruh pejuang dapat mengibarkan Bendera Merah Putih di saat Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Puluhan tahun lamanya, sambung Rahman, bangunan ini menjadi saksi bisu para pejuang dalam menumpas para penjajah. Namun, di saat Indonesia telah merdeka, kondisi bangunan sekarang ini sudah sangat memprihatinkan. Mulai dari tembok bangunan, kayu yang yang lainnya sudah lapuk dimakan usia.

“Saya selaku ahli waris mengharapkan adanya bantuan dari Pemerintah Daerah. Saya tidak meminta banyak, hanya meminta bantuan sekadarnya untuk perawatan bangunan ini. Saya sangat berharap Pemerintah Daerah ikut serta dalam melestarikan cagar budaya bekas tempat perjuangan tentara RI,” harapnya.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga, Dede mangaku belum mengetahui adanya bangunan bersejarah di Kecamatan Cisaga. Dikarenakan bangunan bersejarah tersebut belum ada laporan kepada Pemerintah Daerah.

“Sampai saat ini saya belum mengetahui adanya bangunan bersejarah disana. Makanya, dengan adanya informasi seperti ini, kami akan segera membentuk tim guna melakukan penelitian lebih lanjut,” imbuhnya.

Oleh karena itu, lanjut Dede, pihaknya berharap seluruh komponen masyarakat ikut serta dalam melestarikan destinasi cagar budaya yang berada di seluruh wilayah Kabupaten Ciamis.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri apabila tidak dibantu oleh masyarakat. Kami butuh informasi dari warga, sehingga kami pun bisa secepatnya merealisasi, guna merawat destinasi cagar budaya tersebut,” singkatnya. (Tan/Koran HR)

KOMENTAR ANDA