Begini Cara Anak-anak Margasari Banjar Hilangkan Ritual Tiup Lilin saat Ultah

19/09/2017 0 Comments
Begini Cara Anak-anak Margasari Banjar Hilangkan Ritual Tiup Lilin saat Ultah

Salah satu kegiatan Nahdlatus Subban di Lingkungan Margasari, Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Photo: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Nahdlatus Subban hampir mencapai umur yang kelima. Nahdlatus Subban adalah sebuah nama wadah bagi anak-anak di Lingkungan Margasari, Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, yang rutin menjalankan tahlil dan Yasinan secara bergilir setiap Jum’at dan Minggu sore.

Nahdlatus Subban diikuti oleh anak-anak mulai dari tingkatan PAUD hingga SMK kelas 2. Ritual tiup lilin dalam perayaan ulang tahun yang biasa dilakukan sebagian masyarakat, lambat-laun sudah berbaur dengan adanya kebiasaan tahlil dan Yasinana anak-anak.

Sejak awal berdiri di bulan Maret 2013 silam, Nahdlatus Subban yang memiliki arti kebangkitan anak-anak, diikuti puluhan anak-anak dari empat RT yang ada di lingkungan tersebut. Bukan hanya anak-anak, orang tua mereka pun turut mendampingi sambil melantunkan bacaan-bacaan ayat Al-Qur’an beserta kalimat-kalimat dalam tahlil.

Amanudin (35), penggagas Nahdlatus Subban, menuturkan, saat ini jumlah anak-anak yang berada di bawah bimbingannya sudah mencapai sekitar 100 anak, terdiri dari 60 perempuan dan 40 laki-laki.

“Kalau dulu masih khusus anak laki-laki saja di tiap Jum’at sore. Tapi, karena antusias orang tua serta anak-anak, yang perempuan juga ikutan. Bahkan sekarang sudah punya jadwal sendiri sejak 2015 lalu, yakni setiap Minggu sore,” tuturnya, kepada Koran HR, Selasa (19/09/2017).

Lanjut Amanudin, awalnya ide tersebut merupakan konsep yang ingin diwujudkan sejak dirinya masih di pesantren, yakni memasukan kegiatan Islam dalam setiap perayaan ulang tahun anak-anak yang biasanya menjalankan ritual tiup lilin.

Menurutnya, perayaan ulang tahun tersebut bukan dari budaya Islam. Namun, dengan konsep memadukan kegiatan membaca Surat Yasin serta tahlil dalam setiap ulang tahun, ia yakin lambat-laun anak-anak di lingkungannya akan lebih termotivasi untuk mempelajari agama Islam.

“Memang sekarang anak-anak mulai berkurang. Mereka tidak ikut lagi bukan karena bosan, akan tetapi karena mereka saat ini sudah masuk di pesantren. Satu kebanggaan bagi saya secara pribadi untuk anak-anak jebolan Nahdlatus Subban yang mau mengenyam dunia pesantren,” ungkapnya.

Dalam setiap kegiatan, Aman memimpin pembacaan Surat Yasin serta tahlil, kemudian dilanjutkan kultum soal ilmu agama dasar, seperti thoharoh (bersuci), do’a keseharian maupun tata cara sholat sebagaimana aturan dalam agama Islam. Dirinya juga mengedapankan anak-anak supaya bisa membaca teks Surat Yasin, namun tidak sedikit dari mereka yang sudah hafal surat tersebut di luar kepala.

“Minimalnya mereka memiliki bekal selain mengenyam pendidikan di sekolah maupun di Madrasah Diniyah. Mudah-mudahan pengabdian ini bisa bermanfaat bagi anak-anak di kemudian hari,” harapnya.

Menurut Aman, yang membuat menarik anak-anak ikut dalam kegiatan itu, yakni salah satunya setelah selesai kegiatan, anak-anak mendapatkan makanan yang sudah disediakan salah satu di antara mereka yang mendapatkan giliran menjadi tuan rumah. Meski tak dipatok dan semampu tuan rumah, namun bagi anak-anak tidak menjadi persoalan. Terpenting bagi anak-anak adalah kebersamaan.

Tidak ada orang tuanya yang melarang, semua mendukungnya. Bahkan, ada juga yang ingin berkali-kali menjadi tuan rumah dengan alasan sangat senang melihat anak-anak sudah pintar melantunkan tahlil dan Yasin, layaknya orang dewasa.

“Tak hanya itu, kita juga sering diundang dalam kegiatan ulang tahun ataupun khitanan. Paling jauh kita sampai wilayah Rejasari,” tutur pria beranak satu anak ini.

Selama hampir lima tahun itu, Aman mengaku tidak ada kendala apapun dalam kegiatan tersebut. Hanya saja tergantung musim bermain anak-anak, seperti main layangan hingga sore hari dan lupa kegiatan rutinan. Soal waktu, anak-anak selalu hadir tepat waktu meski saat tiba musim hujan.

“Alhamdulillah, berkah kegiatan ini anak-anak lambat-laun mulai paham soal agama Islam, dan ini juga merupakan upaya menangkal paham radikal sejak dini. Sebenarnya kita berharap untuk membuat seragam agar setiap diundang kelihatan kompak, sayangnya kita belum ada modal. Tapi itu tidak jadi soal. Terpenting semangat mereka bisa terus membara hingga mereka sudah besar dan terus menular,” tandas Aman. (Muhafid/R3/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!