Benda yang Diduga Peninggalan Kerajaan Ditemukan di Sungai Cimuntur Ciamis

12/09/2017 0 Comments
Benda yang Diduga Peninggalan Kerajaan Ditemukan di Sungai Cimuntur Ciamis

Karya seni ukiran yang terbuat dari bahan tembaga serta sebuah sendok dan garpu yang diduga peninggalan kerajaan masa lalu ditemukan di dasar sungai Cimuntur atau tepatnya di Desa Lumbung, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Foto: Istimewa

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Dua benda unik yang diduga peninggalan sejarah masa lalu ditemukan di dasar sungai Cimuntur atau tepatnya di Desa Lumbung, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Benda unik yang terbuat dari bahan tembaga ini merupakan karya seni ukiran yang melukiskan sepasang raja ratu yang tengah berdua di sebuah singasana kerajaan. Selain itu, ditemukan juga sepasang sendok dan garpu yang ujungnya terdapat ukiran wayang.

Kepala Bidang Destinasi Dinas Parawisata Kabupaten Ciamis, Budi Kurnia, mengatakan, dua benda unik yang diduga benda bersejarah itu ditemukan oleh seorang warga Desa Lumbung bernama Ato pada sekitar bulan Juli 2017 lalu. Saat itu, Ato yang kesehariannya mengeruk pasir di Sungai Cimuntur, menemukan sebuah bongkahan besi yang terkubur di dasar sungai.

“Awalnya dia tengah mengambil pasir di sungai dengan menggunakan cangkul. Tanpa diduga ternyata ujung cangkulnya mengenai sebuah benda keras. Dari situlah Ato penasaran dan kemudian terus menggali hingga benda itu didapatnya,” katanya, kepada Koran HR, di kantornya, Senin (04/09/2017) lalu.

Ketika benda yang ditemukan di dasar sungai itu diangkat ke pinggir sungai, kata Budi, tampaknya Ato dan beberapa temannya kaget. Pasalnya, dua benda yang ditemukan itu memiliki keunikan. “Karena bendanya unik, Ato bersama temannya langsung melaporkan temuannya ke tokoh masyarakat setempat,” ujarnya.

Tokoh masyarakat dan aparat desa setempat pun langsung melakukan koordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Dinas Parawisata Ciamis. Tokoh setempat menduga bahwa benda unik itu layak ditelilti menyusul di aliran sungai Cimuntur terdapat sejarah Winduraja atau delapan makam raja pada masa kerajaan Sunda Galuh.

Menurut Budi, saat ini peninggalan kerajaan Sunda Galuh hanya berupa makam delapan raja yang terdapat di Desa Winduraja Kecamatan Kawali. Sementara peninggalan benda atau prasastinya hingga kini belum ditemukan. “Makanya di Kecamatan Kawali terdapat nama Desa Winduraja. Nama itu diambil dari kebesaran delapan raja Sunda Galuh yang dimakamkan di daerah tersebut. Nama Winduraja itu artinya delapan (windu) raja,” terangnya.

Budi menjelaskan, salah satu dari delapan raja yang dimakamkan di daerah Winduraja adalah Prabu Darma Kusumah. Dia adalah raja pertama Sunda Galuh yang hidup pada sekitar abad ke 8. “Kerajaan Sunda Galuh yang dipimpin Raja Prabu Darma Kusumah ini merupakan cikal bakal berdirinya sejumlah kerajaan di tanah jawa. Maka tak heran apabila sebagian sejarawan menyebut Kerajaan Sunda Galuh dengan sebutan Kerajaan Sunda Kuno,” katanya.

Karya seni ukiran yang terbuat dari bahan tembaga yang diduga peninggalan kerajaan masa lalu ditemukan di dasar sungai Cimuntur atau tepatnya di Desa Lumbung, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Foto: Istimewa

Dalam sejarah Kerajaan Majapahit, kata Budi, dikisahkan bahwa Raden Prabu Darma Kusumah merupakan buyut dari Raden Wijaya, seorang raja sekaligus pendiri Kerajaan Majapahit. Selain itu, kata dia, ada beberapa raja di tanah jawa yang merupakan keturunan dari Raden Prabu Darma Kusumah.

“Mungkin itu sebabnya sebagian sejarawan menyebut Kerajaan Sunda Kuno. Karena keturunan dari Raden Prabu Darma Kusumah merupakan raja-raja yang memimpin kerajaan besar di tanah Jawa,” ujarnya.

Apabila dikaitkan dengan penemuan benda unik di sungai Cimuntur, kata Budi, memang terdapat kaitan dengan Kerajaan Sunda Galuh. Karena pada masa Kerajaan Sunda Galuh, sungai Cimuntur digunakan sebagai jalur transportasi sungai. “Artinya, di sepanjang sungai Cimuntur dimungkinkan terdapat peninggalan Kerajaan Sunda Galuh. Namun, karena rentang waktunya berabad-abad atau sekitar 12 abad, membuat jejak peninggalannya sulit ditemukan,” ujarnya.

Budi menambahkan, sejumlah arkeolog memang kesulitan menggali sejarah kerajaan di Tatar Sunda. Meski di sebuah tempat diyakini terdapat makam seorang raja, lanjut dia, tetapi tidak didukung oleh benda peninggalan atau prasasti yang dapat menguatkan penelitian.

“Jadi, sejarah kerajaan di Tatar Sunda kebanyakan berdasarkan cerita orangtua yang disampaikan secara turun-temurun. Berbeda dengan sejarah kerajaan di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur yang memang dikuatkan dengan adanya peninggalan benda-benda prasasti atau sebuah candi yang merupakan bekas istana kerajaan,” ujarnya. 

Setelah ditemukan dua benda unik di sungai Cimuntur, kata Budi, pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan Balai Arkeologi agar segera dilakukan penelitian. Selain itu, tambah dia, pihaknya pun tengah mencari benda-benda yang diduga peninggalan masa lalu yang sudah ditemukan warga.

“Penemuan benda unik di aliran sungai Cimuntur bukan kali ini saja, tetapi sebelumnya pun sudah banyak warga yang menemukan. Hanya mereka tidak melaporkan kepada kami. Makanya, kami sudah meminta kepada tokoh masyarakat setempat agar membantu mengumpulkan benda-benda unik yang berada di masyarakat untuk dilakukan penelitian,” ujarnya. 

Dari penelitian awal, kata Budi, benda ukiran tembaga yang ditemukan di Desa Lumbung terlihat mirip relief mesir kuno. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, tampaknya tidak memenuhi ciri-ciri relief mesir kuno. Hal itu terlihat dari koros atau karat besinya yang menunjukan bahwa benda itu tidak tertimbun dalam waktu puluhan abad. “Namun, kami meyakini bahwa benda itu memiliki kaitan dengan sejarah masa lalu di aliran Sungai Cimuntur. Dan harus dilakukan penelitian. Semoga saja setelah diteliti dapat mengungkap jejak-jejak sejarah yang terdapat di sungai Cimuntur, terutama mengenai sejarah Kerajaan Sunda Galuh,” pungkasnya. (Bgj/Koran HR) 

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!