Buruh Tani Bojongkantong Banjar Panen Padi Malam

Saat sore hari menjelang maghrib, warga yang menawarkan jasa panen yang tengah menunggu intruksi pemilik padi untuk memanen sawahnya. Photo: Muhafid/HR. 

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Tibanya musim panen di wilayah Kota Banjar dan sekitarnya, menjadi hal yang menggembirakan bagi para petani maupun warga yang menawarkan jasa memetik padi siap panen.

Kebiasaan cara memanen padi di sejumlah daerah memiliki perbedaan, baik dalam cara memanennya maupun hitungan jasa kepada petani yang ikut membantu prosen dalam memanen padi.

Seperti diungkapkan Agus, kepada Koran HR, Selasa (12/09/2017) lalu. Dia adalah salah satu warga Lingkungan Margasari, Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, yang penghasilannya mengandalkan dari hasil buruh memetik padi kepada pemilik sawah.

Ketika musim panen tiba, dia bersama warga lainnya menawarkan jasa memetik padi kepada para pemilik sawah. Namun uniknya, proses memanen padi dilakukan pada sore hari hingga malam. Bahkan, mereka bisa semalaman berada di sawah.

“Sore hari berangkat ke sawah dan menunggu ada intruksi dari pemilik sawah untuk memanen. Kalau tidak ada yang menyuruh, kita ikut metik kalau ada petani lain sedang memanen, itu juga kalau saya dan teman-teman dikasih izin sama pemilik,” tutur Agus.

Dia juga mengatakan, sistim janggol (menunggu perintah pemilik sawah untuk memanen-red) atau derep dalam bahasa Jawanya, hanya berlaku di sekitar wilayah di Kelurahan Bojongkantong, Desa Rejasari, Desa Kujangsari, dan di Desa Kalapasawit, Kecamatan Lakbok, Kabupaten.

Sedangkan, di luar daerah tersebut biasanya pemilik sawah sudah memesan kepada sejumlah petani saja, alias tidak bisa menjadi rebutan para penawar jasa buruh petik padi. Kemudian, dari hasil gacong, dalam bahasa Sunda, Agus mengaku setiap musim panen bisa mendapatkan 15 kantong dengan ukuran 50 kilogram perk antongnya.

“Orang seperti saya kan hanya mengandalkan jasa seperti ini. Hasil dari buruh memetik panen padi ke orang lain dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari, seperti membeli bumbu dapur atau kondangan,” ungkapnya.

Lanjut Agus, pembagian hasil panen dari pemilik sawah bermacam-macam. Ada yang takaran 5 piring untuk pemilik sawah dan satu piring untuk jasa petik padi, ada juga yang sampai bagi sembilan, yakni 8 piring untuk pemilik dan satu piring untuk buruh petik.

Meski saat ini penggunaan mesin rontok belum turun ke sawah, kata Agus, namun petani sudah ada yang menggunakannya untuk mempercepat proses panen. Menurutnya, jika mesin tersebut sudah turun, maka budaya memanen padi yang sudah berlangsung turun-temurun ini bisa sirna begitu saja.

“Bayangkan saja, warga dari berbagai daerah yang mengandalkan hasil jasa panen padi berjibaku mulai dari sore hari hingga malam hari. Bahkan, bermalam di sawah dan pada pagi harinya baru menyerahkan hasil panen ke pemilik sawah untuk dibagi. Apalagi kita hasilnya sedikit dan resiko memanen di malam hari sangat banyak, baik ancaman hewan buas seperti ular ataupun terkena arit saat memanen padi,” katanya.

Menurut Agus, bagi mereka yang memiliki sawah yang luas tentu saja enak. Sementara warga yang tidak punya sawah dan hanya mengandalkan buruh memetik padi akan repot jika mesin sudah turun.

Dia juga menceritakan, saat ada pemilik sawah yang tidak memberikan lahannya untuk dipanen oleh warga yang mengandalkan jasa petik padi, pasti ada saja yang usil dengan memporak-porandakan padi yang sudah dipetik dan ditata untuk digebug pada pagi harinya. Biasanya, ia menyebutkan pemilik padi tersebut pelit.

“Kalau musim kemarau kita cukup sulit mencari pemilik padi yang dermawan untuk kita panen. Tapi kalau musim hujan, justru kita yang dicari-cari oleh mereka. Alasannya sederhana, kondisi sawah yang berair cukup menyulitkan dipanen dan memerlukan banyak tangan manusia. Kalau kemarau kan tidak, motor pun bisa turun ke sawah. Jadi, saat kemarau pemilik sawah seperti raja, sedangkan musim hujan orang seperti kita jadi raja,” pungkas Agus. (Muhafid/Koran HR)

KOMENTAR ANDA