Galeri Etnik Sunda Rapekan Banjar, Sulap Bambu jadi Barang Bernilai Ekonomi

12/09/2017 0 Comments
Galeri Etnik Sunda Rapekan Banjar, Sulap Bambu jadi Barang Bernilai Ekonomi

Kerajinan tangan yang dibuat para pemuda Galeri Etnik Sunda Rapekan di Dusun Priagung RT 11 RW 04 Desa Binangun Kecamatan Pataruman Kota Banjar. Photo: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Sejak zaman dahulu, para leluhur di Indonesia sudah biasa memanfaatkan berbagai bahan dari alam untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan maupun papan. Seperti halnya bahan dari tanaman bambu yang bisa dibuat berbagai bentuk dengan kreatifitas yang dimiliki, bahkan bernilai ekonomi.

Seperti dilakukan sejumlah pemuda di Dusun Priagung, RT.11, RW.04, Desa Binangun, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, yang memiliki Galeri Etnik Sunda Rapekan. Mereka menyulap bambu tidak lagi menjadi pagar rumah, akan tetapi menjadi berbagai kerajinan tangan yang bernilai tinggi.

Pemuda yang berjumlah tujuh orang itu setiap harinya mengolah bambu menjadi perlengkapan rumah, seperti bangku maupun meja sesuai skema yang dirancang sebelumnya, atau membuat barang sesuai pesanan.

“Harganya variatif, tergantung dari jumlah maupun tingkat kesulitannya,” kata Uu (30), salah satu pemuda yang bergelut di Galeri Etnik Sunda Rapekan, Selasa (05/09/2017) lalu.

Dia menjelaskan, sejak dua bulan lalu, dirinya bersama pemuda lain berinisiatif melakukan kegiatan-kegiatan positif dengan membuat kerajinan tangan berbahan alam. Bermodalkan niat menjaga warisan leluhur Sunda, dia mulai memasarkan hasil buah tangannya ke berbagai daerah di Jawa Barat.

“Alhamdulillah, secara bertahap kerajinan yang kita buat sudah terjual ke wilayah Garut, Bandung, Jakarta maupun daerah lainnya melalui media online,” ujarnya.

Meski sudah berjalan dan mampu menjual ke berbagai daerah, namun Uu mengakui bahwa aktifitasnya tersebut masih terkendala peralatan yang saat ini masih menggunakan peralatan seadanya.

Selain buat kerajinan berbahan bambu, mereka juga membuat perabota dapur seperti gelas, cangkir dan lainnya dari bahan batok. Tak hanya itu, kerajinan kayu yang diukir berbentuk hewan-hewan juga dibuatnya dengan alat seadanya.

“Memang harapan kita ada bantuan peralatan dari pemerintah. Tapi kita juga tidak terlalu berharap banyak, karena perlu waktu panjang. Kita tetap berjalan secara perlahan untuk menutupi kebutuhan, baik untuk operasional produksi maupun bahan baku,” tuturnya.

Menurut Uu, dipilihnya kerajinan berbahan alami tersebut karena ingin mempertahankan warisan budaya leluhur, terutama budaya Sunda yang kini semakin tergerus oleh kemajuan zaman.

Tak hanya itu, berbagai kemampuan soal kerajinan dan kesenian yang dimiliki juga terus diasah dan ditularkan sebagai sarana edukasi para pemuda menghormati alam sekitar, sebagaimana dilakukan orang terdahulu.

“Di sela-sela kita beraktifitas membuat kerajinan ini, kita juga membuat dan bermain musik karinding, celempung maupun suling untuk menghilangkan jenuh. Dan itu juga kita lakukan sebagaimana orang dulu. Sebab, sebelum adanya alat musik gamelan, orang Sunda memainkan alat musik yang berbahan alami,” jelasnya.

Uu berharap pemerintah maupun masyarakat, khusunya generasi muda, mencintai budaya sendiri dibandingkan dengan budaya dari luar. Sebagai identitas yang harus dipertahankan, ia minta semua pihak untuk bersama-sama mendukung dengan langkah-langkah nyata.

“Kalau hanya sekedar mendukung dalam perkataan saja saya pikir itu sia-sia jika tidak ada realisasinya. Dan dari kegiatan semacam ini, kita harap bisa terus tumbuh di Kota Banjar dengan dukungan berbagai pihak,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!