Hajat Leueweung Desa Selasari Pangandaran Pukau Penonton

05/09/2017
Hajat Leueweung Desa Selasari Pangandaran Pukau Penonton

Salah satu pentas seni dalam Hajat Leuweung di Objek Wisata Goa Sutra Reregan Desa Selasari Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran. Foto: Askar/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Hajat Leueweung di Objek Wisata Goa Sutra Reregan Desa Selasari Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran berhasil memukau penonton. Acara yang digelar sejak tanggal 26 hingga 27 Agustus 2017 tersebut menampilkan berbagai kegiatan seperti Sawala Budaya, Pagelaran Kreasi Kaulinan Barudak, Camping, Festival Kolecer, dan Prosesi Persemian Desa Wisata Selasari.

Ketua Pengelola Goa Sutra Reregan, Abah Kunay, menjelaskan, dari masing-masing kegiatan dalam hajat leueweung tersebut memiliki makna tersendiri yang mana sebagai bentuk keanekaragaman budaya yang dimiliki Desa Selasari.

Sawala Budaya, kata Kunay, merupakan kegiatan untuk menyamakan persepsi sejarah Kabupaten Pangandaran dengan menghadirkan berbagai narasumber dari berbagai daerah di Pangandaran.

“Dari kegiatan ini kita ingin mewujudkan sebuah buku tentang sejarah Kabupaten Pangandaran yang mana kita yakini akan sangat bermanfaat bagi generasi penerus, khususnya para pelajar di sekolah maupun sebagai bahan panduan para pemandu untuk mengenalkan Pangandaran kepada wisatawan,” jelasnya.

Sementara kreasi kaulinan barudak yang dikemas apik oleh mahasiswa KKN Institut Seni dan Budaya Bandung, lanjutnya, permainan oray-orayan, perepet jengkol dan congkak disajikan begitu memukau penonton. Dari ini, ia berharap bisa mengurangi dampak negatif penggunaan alat komunikasi canggih seperti halnya gadget.

Adapun dalam Pesta Kolecer yang dihadiri sekitar 100 orang, ia menambahkan, merupakan bentuk tradisi yang perlu diangkat kembali untuk mengingatkan saat para petani yang membersihkan lahan untuk menanam padi huma.

“Orang tua kita dahulu dalam bertani biasanya menggunakan pranata mangsa. Selain itu, saat sambil menunggu musim tanam tiba, para petani huma membuat patenggeran angin atau alat sebagai penanda bertiupnya angin yang disebut kolecer. Bentuknya yang bermacam-macam dan bunyinya juga berbeda, saat ini sudah banyak yang lupa dan ini perlu dilestarikan,” tuturnya.

Sementara itu, Amirudin (52) salah satu wisatawan asal Tasikmalaya, sempat meneteskan air mata karena bangga dan haru melihat pembukaan hajat leuweung tersebut. Sebab, selain inovasi penampilan yang begitu bagus, unsur kearifan lokal yang disajikan juga tidak ditinggalkan.

“Ini kegiatannya sangat hebat, gagasannya sangat cerdas untuk memajukan pariwisata dengan tidak meninggalkan kearifan lokal. Penuh dengan pendidikan, banyak pesan yang disampaikan kepada khalayak untuk kelangsungan kehidupan manusia di samping meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Gotong royong begitu kental di sini dan saya salut. Ini perlu dipertahankan terus dan dilestarikan,” ujarnya. (Askar/R6/Koran HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles